Selasa, 09 Februari 2016

MACBETH [2015]

Sesuai namanya, “Macbeth” didasarkan pada sandiwara karya William Shakespeare dengan judul yang sama. Ditulis sekitar awal 1600-an dan cerita berpusat pada Kerajaan Skotlandia. “Macbeth” sendiri adalah sekian dari karya besar Shakespeare yang begitu dikenal selain “Hamlet”. Serta “Romeo & Juliet” tentunya.

Mungkin bagi sebagian besar dari Anda sudah kerap kali mendengar kisahnya berikut inkarnasi lainnya yang telah diangkat ke dalam film. Dalam ulasan ini, saya tidak akan panjang lebar menuliskannya. Hanya beberapa pokok saja termasuk bagian visualnya yang mantap dari hasil pengarahan Justin Kurzel ini.

Film diawali dengan sekuen panjang perang antara Skotlandia yang dipimpin oleh Thane of Glamis, Macbeth (Michael Fassbender) dengan pemberontak pimpinan Macdonwald (Hilton McRae). Pemberontak ini bersekongkol dengan Thane of Cawdor (Brian Nickels).

Perang sipil tersebut akhirnya berhasil dimenangkan oleh Macbeth. Raja Skotlandia Duncan (David Thewlis) lantas menganugerahi Macbeth dengan gelar Thane of Cawdor. Pemilik gelar tersebut sebelumnya telah dihukum mati atas kesalahannya menjadi pengkhianat. 

Di tengah perang tersebut, Macbeth dan sahabatnya, Banquo (Paddy Considine) bertemu dengan empat peramal wanita (satu di antaranya masih kecil—dalam naskah aslinya hanya ada tiga). Mereka meramalkan bahwa Macbeth akan menjadi Raja Skotlandia berikutnya. Karena Macbeth tidak memiliki keturunan (kematian anaknya ditunjukkan dalam adegan awal), tahta berikutnya akan beralih pada anak-anak Banquo.

Niat jahat tertanam dalam diri Macbeth untuk menggulingkan Raja Duncan. Ia berencana menghabisi sang raja untuk mendapatkan posisi yang diinginkannya. Lady Macbeth (Marion Cotillard) tahu rencana suaminya. Ia mengompori keinginan suaminya tersebut untuk meraih apa yang diimpikannya. Macbeth awalnya menolak. Ia tahu Raja Duncan adalah orang yang baik. Ia juga setia kepadanya. Namun godaan istrinya tak mampu lagi ia bendung.

Sekuen perang di awal adalah salah satu bagian menakjubkan dalam “Macbeth” versi Kurzel ini. Dipenuhi dengan slo-mo, perang tersebut menjadi lebih terasa dramatis dipadu pula dengan sinematografi yang indah dari Adam Arkapaw. Membran berwarna kuning menghiasi adegan kemunculan para peramal. Disusul membran merah pekat menghiasi sekuen perang di bagian klimaks.

Saya rasa Kurzel begitu mempedulikan nilai keindahan di sini. Bagian-bagian detil tidak luput dari pengarahannya. Bulir-bulir salju hingga cahaya matahari menerobos ventilasi turut pula menghiasi visual memukaunya. Saya begitu menyukai desain produksinya yang berhasil menghidupkan Eropa di “Era Kegelapan” tersebut. Gelap, suram, dan mencekam. Ada kabut tebal yang menusuk di tiap tempatnya. Musik menyayat hati gubahan dari Jed Kurzel tepat sekali mewakili tragedi yang terjadi kala itu.  

“Macbeth” memiliki unsur-unsur tragedi dan politik yang sering Shakespeare masukkan ke dalam karya-karyanya. Pembunuhan oleh Macbeth terhadap Raja Duncan adalah kombinasi antara kedua unsur tersebut. Lantas, siapakah yang bersalah dalam tragedi tersebut? Lady Macbeth kah? Tidak. Ini semua berasal dari ambisi Macbeth seutuhnya. Memang, Lady Macbeth memaksa secara halus suaminya untuk berbuat keji. Tapi semua kembali pada diri Macbeth yang menuruti hawa nafsunya untuk mendapatkan lebih.

Semua sudah jelas bila “Macbeth” ini bercerita mengenai ambisi. Kemudian, ambisi tersebut melahirkan ketakutan yang pada akhirnya berujung dengan kegagalan. Setiap orang memiliki ambisi. Setiap orang pula memiliki ‘iblis’ di dalam hatinya. Tapi kembali lagi pada setiap individu, akankah ia terus memberi makan ‘iblis’ itu atau melemparkannya jauh. 

Sekali lagi “Macbeth” adalah pembuktian akting seorang Michael Fassbender. Ia begitu fleksibel dalam melakoni setiap peran-perannya. Dalam berperan sebagai Macbeth; pria ‘gila’ yang dikuasai amarah, ia sangat totalitas dan menghayatinya. Ia sanggup tampil sebagai seorang pejuang loyal dengan gagahnya. Beranjak menuju singgasana, angkara murka ia suguhkan dengan memikat. Perannya di sini kembali mengingatkan saya ketika dalam “12 Years a Slave” (2013). Semoga ia tetap cerdas dalam memilih perannya untuk film-film ke depannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !