Sabtu, 06 Februari 2016

PAY THE GHOST [2015]

Saya awalnya bingung, apa yang perlu dibayar pada hantu? Uang? Atau tumbal nyawa? Jika menyangkut tumbal nyawa, maka “Pay the Ghost” memiliki konsep mistis tanah air yaitu pesugihan. Saya tidak tahu secara akurat, tapi sepertinya saya belum pernah mendengar kisah mistis di Amerika yang dihubungkan dengan fenomena pesugihan. Kalau pelarisan (meningkatkan popularitas) mungkin benar adanya.

Jika diterjemahkan secara harfiah, judul film ini terdengar menggelikan. Saya berharap ini film horror yang dibuat dengan gaya campy. Rupanya tidak. “Pay The Ghost” arahan Uli Edel serta naskah dari Dan Kay (adaptasi novella dari Tim Lebbon) masih dalam koridor horror secara umum.

Film berpusat pada menghilangnya Charlie (Jack Fulton) tepat pada Halloween. Lenyapnya Charlie bukanlah sesuatu yang bisa dinalar oleh otak. Sang ayah, Mike (Nicolas Cage) teringat jelas kata-kata terakhir Charlie sebelum hilang dengan mengatakan “Ayah, bisakah kita membayar hantunya?” Menggelikan. 

Peristiwa hilangnya Charlie berhubungan dengan kisah mistis yang menghubungkannya dengan sejarah New York sekitar 400 tahun yang lalu. Atau lebih tepatnya ketika budaya Halloween dibawa oleh imigran Irlandia ke tanah Amerika. Bagaimaan keadaan Charlie selanjutnya?
Narasi film melompat sekitar satu tahun pasca menghilangnya Charlie. Beberapa hari lagi akan ada perayaan Halloween. Mike sering kali mendengar suara anaknya tersebut meminta tolong. Begitu juga dengan ibunya, Kristen (Sarah Wayne Callis) yang pada suatu malam melihat otoped sang anak tiba-tiba berjalan sendiri. Perlu Anda ketahui sebelumnya, pekerjaan Mike adalah seorang dosen sejarah (kemungkinan) Amerika. Ia juga bersahabat dengan peneliti benda-benda kuno. Sudah dipastikan ada hubungan antara pekerjaannya dengan misteri di sini. 

“Pay the Ghost” adalah film yang sangat membosankan. Membosankan dari awal. Membosankan hingga akhir. Membosankan alurnya. Membosankan bagian klimaksnya. Membosankan aktingnya (khususnya untuk Anda, Nicolas Cage). Dan masih banyak hal membosankan dalam film ini yang tidak bisa saya tuliskan dalam ulasan ini. Sebenarnya kalimat pertama paragraf ini sudah menggambarkan secara keseluruhan tentang film ini.

Saya tahu, ada saja sebuah film dengan konsep cerita yang buruk tetap bisa berpotensi menghibur. Sebuah film yang buruk pun bisa menjadi kesenangan ketika kebodohan-kebodohannya dapat memancing tawa. Minimal membuatnya tersenyum meski bukan berhaluan komedi. Tapi tidak untuk “Pay the Ghost.” Saya tulis sekali lagi, tidak untuk “Pay the Ghost!”

Dengan niat yang teguh, saya berjuang untuk tidak berhenti di tengah jalan. Saya berusaha mengikuti film ini sampai akhir. Saya berharap pada awalnya dapat menemukan secuil nilai positiv yang bisa diambil. Apesnya, tidak ada satu pun yang menarik di sini. Saya pun bahkan tidak peduli lagi soal Charlie dapat kembali pada orang tuanya atau tidak. Membosankan dan sangat membosankan. Film ini sudah dalam tahap yang kelewatan untuk menjadi sajian yang membosankan.

1 komentar:

  1. Buat kalian ada yang BARU nih sayangi GEDGET kalian yaaa:) banyak INFORMASI yang bakal kalian tau dengan lihat link-link ini langsung saja yuuu:)
    http://zapplerepair.com/iPhone-6S-masalah-lcd-display-kadang-mau-muncul-kadang-engga.html

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !