Rabu, 17 Februari 2016

THE LOBSTER [2015]

“The Lobster” diawali dengan sebuah sekuen dimana seorang wanita tampak begitu kesal lalu menembak seekor keledai. Tentu saja keledai itu mati seketika. Ada apa dengan wanita tersebut? Mengapa ia membunuh keledai itu? Lebih dari satu keledai di padang rumput itu, mengapa hanya satu yang ia tembak? Sekuen di bagian awal ini begitu absurd dan mengundang banyak tanda tanya besar.

Cerita kemudian bergulir pada seorang pria yang bernama David (Colin Farrell). Ia hidup sendiri setelah ditinggal minggat istrinya. Katakanlah hubungan keduanya tidak cocok. Praktis sekarang ia disebut “jomblo.” Ia tinggal sendiri dengan seekor anjing yang kemudian ia sebut sebagai kakaknya. Ya, anjing tersebut memang kakaknya. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

“The Lobster” berlatarkan era distopia. Di mana pada masa itu, kota memberlakukan aturan bahwa jomblo harus segera mencari pasangan. Para jomblo lantas digiring menuju sebuah hotel dan diminta mencari pasangan dalam kurun waktu 45 hari. David menjadi bagian dari ajang pencarian jodoh itu.

Sampai sini, terlihat biasa saja? Mengerikan jika Anda tahu kelanjutannya. Dalam waktu 45 hari tersebut, jika para jomblo tidak berhasil mendapatkan pasangan, mereka akan diubah menjadi seekor hewan. Hewan jenis apa, sesuai dengan permintaan jomblowan dan jomblowati itu sendiri. 

Ada dua opsi ketika mengikuti acara dalam hotel : menjadi homoseksual atau heteroseksual. David memilih heteroseksual. Kemudian ia memilih “lobster” seandainya gagal mendapatkan pasangan di sana. Alasannya : umurnya bisa mencapai 100 tahun, berdarah biru seperti aristokrat, dan karena ia memang menyukai berenang. Selama dalam hotel, David berteman dengan John (Ben Whishaw) yang pincang serta Robert (John C. Reilly) yang cadel. 

Beberapa karakter wanita juga meramaikan suasana hotel. Ada gadis yang selalu mimisan (Jessica Barden), wanita penyuka biskuit (Ashley jansen), wanita tidak berperasaan (Angeliki Papoulia), dan masih banyak lagi. Semuanya memiliki hubungan yang silih berganti dengan David, John, serta Robert. 

Sampai di sini, saya baru memahami maksud dari sekuen di awal film. Saya sudah menduga jika wanita tersebut memiliki semacam hubungan dengan keledai ‘jadi-jadian’ itu. Bisa saja keledai itu adalah perwujudan suami/kekasih yang meninggalkannya. Lantas ia mencari pasangan baru di hotel meski pada akhirnya gagal dan diubah menjadi seekor keledai.

Ada banyak aturan yang diberlakukan selama dalam hotel ‘aneh’ itu. Salah satunya dilarang masturbasi dan berburu para jomblowan/jomblowati yang melarikan diri. Para peserta diberikan senapan angin dan dilepaskan ke dalam hutan. Di sana ada sekelompok jomblo yang melarikan diri karena tidak betah dengan aturan-aturan hotel. Sekali mendapatkan mangsa, jumlah hari tersisa dari peserta akan dilipat gandakan. 

Saya tidak ingin terlalu jauh lagi menuliskan tentang “The Lobster” yang bisa saja berpotensi menjadi spoiler. Silakan nikmati sendiri betapa thrilling-nya petualangan selama 118 menit ini. “The Lobster” diarahkan oleh sutradara Yunani Yorgos Lanthimos. Ia pula yang menulis naskahnya bersama Efthymis Filippou. Naskahnya dapat dirasakan beraura komedi quirky ala Wes Anderson. Turut pula disenadakan dengan pengambilan gambar yang khas serta dominasi warna-warna palet lembut.

Sebenarnya apa yang coba disampaikan oleh Yorgos Lanthimos dalam “The Lobster?” Mudah saja, yaitu nilai lebih yang bisa didapatkan bila mendapat pasangan. Saya tidak tahu apakah Lanthimos berusaha satir dalam memandang kehidupan di era kini atau bukan. Akan tetapi, saya pikir pesan yang disampaikannya begitu menohok. Dengan begini maka istilah “sendiri lebih indah” telah berhasil diruntuhkan. Selain itu masih ada lagi tapi tidak bisa saya tuliskan di sini.

Mungkin Anda akan menganggap ini pernyataan yang terlalu subjektif. Saya pikir lagi memang begitu. Kembali lagi, sekali pun berusaha menilai dengan objektif (dalam sebuah film), perasaan tetap akan terlibatkan. Tidak perlu diragukan lagi, “The Lobster” adalah paduan sempurna antara romansa, komedi, fantasi, dan ketegangan. Film aneh yang begitu lucu.

9 komentar:

  1. Bro, blognya sudah saya tautkan, salam kenal ye dari Manusia Unta.
    Btw rajin amat lu bro ngereview, kalo saya mah nontonnya aja yang rajin, nah kali review mood moodan aja hehe.

    BalasHapus
  2. ayo dong...lebih bahas semiotiknya,,,,

    BalasHapus
  3. The Lobster, ane kira kayak animal planet wkwkwk

    BalasHapus
  4. saya sdh nonton cerita nya unik tapi bikin ketagian..

    BalasHapus
  5. barusan nonton filmnya. menurutku ya kalau aku berada di dunia itu, mending aku nyari pasangan, walau nggak cocok ya dicocok cocokin. daripada berubah jadi binatang. apalagi hidup sendirian di hutan yang aturannya lebih nggak masuk akal. sebenarnya cerita ini nggak jauh beda dengan kehidupan sosial kita di masyarakat. masyarakat kita dipaksa untuk berpasang-pasangan. kalau umur sekian belum menikah pasti akan dikucilkan. menjadi single sampai mati adalah suatu aib dan tabu. lebih baik berpasangan walaupun homoseksual daripada jomblo sendirian sampe mati.

    padahal jadi jomblo dan hewan juga pilihan dan nggak jelek-jelek amat sih.

    duh butuh keberanian emang membutakan mata sendiri,, tapi mau gimana lagi, hukum di kota itu mengharuskan pasangan memiliki kesamaan.

    BalasHapus
  6. Ada aturannya jg,disitu ga boleh berpasangan dgn "calon" hewan yg berlawanan

    BalasHapus
  7. Baru aja nonton film ini... Tapi gak terlalu paham makna film nya.. makanya coba cari ulasan dari yang sudah nonton. Blog ini dan komentar komentarnya, sangat membantu.

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !