Senin, 15 Februari 2016

MUSTANG [2015]

Film dari Turki berjudul “Mustang” ini memiliki premis tentang sekumpulan anak muda yang hidup dan berkewajiban mentaati aturan di lingkungan konservativ. Entahlah saya lupa, yang pastinya saya pernah menemui film dengan premis serupa. Film-film dengan premis seperti ini, biasanya mudah menarik perhatian dengan karakter utamanya yang tidak berdaya dalam genggaman sosial. Mungkin sekilas mudah dengan melabelinya sebagai ‘korban.’ Dengan menelaahnya lagi, tidak ada istilah semacam itu di sini.

“Mustang” memfokuskan cerita pada lima gadis muda yang hidup dengan nenek dan juga pamannya. Kedua orang tua mereka telah lama meninggal. Mereka tinggal di sebuah desa kecil di Turki; atau lebih tepatnya di sepanjang Laut Hitam. Dari kelima gadis ini, yang termuda bernama Lale (Güneş Şensoy) adalah si protagonisnya. Konflik cerita dilihat dari sudut pandangnya yang sesekali melontarkan voice over

Di suatu siang selepas sekolah, Lale mengucapkan salam perpisahan kepada guru yang amat disayanginya. Ia akan pindah menuju Istanbul. Rasa haru tidak terbendung lagi. Selanjutnya, Lale melepas duka dengan bermain di pantai bersama kakak-kakaknya. Mereka adalah (diurut dari yang muda) : Nur (Doğa Doğuşlu), Ece (Elit İşcan), Selma (Tuğba Sunguroğlu), dan Sonay (İlayda Akdoğan). Seperti remaja belasan tahun pada umumnya, mereka bergembira riang hari itu. Bermain dengan anak laki-laki seumuran juga tidak masalah.

Petaka telah menanti mereka berlima. Omongan buruk para tetangga terkait mereka berlima telah sampai ke telinga sang nenek (Nihal Koldaş). Sesampai di rumah, sang nenek memarahi mereka hingga memukul dengan keras. Sonay yang paling tua dianggap paling bersalah. Rupanya, kemarahan nenek masihlah belum seberapa dibanding dengan Paman Erol (Ayberk Pekcan). Ia tipikal pria temperamen dengan kedok agama dan tradisi.
Yang paling membuat Paman Erol gerah adalah mereka terlalu dekat dengan anak laki-laki. Pacaran adalah sesuatu yang dilarang dalam keluarga mereka. Kita semua tahu bahwasanya Turki masih memegang kuat tradisi apalagi mayoritasnya memeluk Islam. Memang, semua karakter dalam film ini adalah muslim. Tapi pada dasarnya, “Mustang” tidak memandang soal agama atau tradisi apa pun. Film ini lebih kepada eksploitasi terhadap kebebasan anak-anak muda yang masih mencoba mencari jati dirinya. 

Tidak lama sejak insiden yang dianggap ‘memalukan’ itu, rumah Lale dan saudaranya menjelma menjadi penjara. Pagar kawat dan besi dipasang agar mereka berlima tidak lagi keluyuran kemana-mana. Sekolah pun sudah bukan lagi prioritas utama. Jiwa muda mereka yang berapi-api lantas berontak mencari cara untuk menghirup udara kebebasan. Sesekali mereka mencuri kesempatan untuk pergi keluar tanpa diketahui oleh Paman Erol.   

Sudah menjadi kewajiban, pun rasa takut mengotori nama keluarga, Paman Erol dan sang nenek berencana menikahkan gadis-gadis itu—kecuali Lale yang masih kecil. Tapi pada akhirnya, Lale juga yakin suatu saat gilirannya akan tiba untuk dipaksa menikah. Konflik dalam pernikahan mereka tidak lain adalah menikah dengan pria yang tidak dicintai atau lebih sensitiv lagi soal ‘keperawanan.’ Dalam tradisi di Turki—atau mungkin hanya berlaku di daerah yang masih konservativ—‘darah’ yang keluar saat malam pertama adalah penanda masih perawan. Hal tersebut juga disinggung dalam “Mustang.”

Poin yang bisa saya dapatkan dalam “Mustang” tidak sebatas kebebasan yang terbelenggu. Lebih dari itu, “Mustang” membuat saya iba terhadap rasa persaudaraan dari para karakter utamanya. Build up di bagian awal begitu penting dalam memperkuat setiap karakterisasinya—khususnya untuk Lale dan saudari-saudarinya. Kemudian saya bisa merasakan adanya perpisahan tidak terelakkan yang juga menyesakkan. Pernikahan yang seharusnya membahagiakan dan menyatukan dua keluarga, justru menjadi jurang pemisah. Sutradara Deniz Gamze Ergüven lewat naskah yang ditulisnya menyelipkan konflik itu secara subtil.  

Ergüven bertutur dalam “Mustang” tidak berusaha untuk mengadili pihak mana yang salah di sini. Saya pikir tidak ada yang salah dan tidak ada pula yang benar. Semua karakter yang ada bergerak melalui intuisinya masing-masing. Inilah bagian yang saya sukai.

Keunggulan lain yang dimiliki “Mustang” adalah pada performa para cast (khususnya lima gadis) yang notabene bukan pro. Semuanya memberikan performa yang menarik pula meyakinkan. Güneş Şensoy adalah bintangnya di sini. Ia menyuntikkan energi tak terbatas yang memberi warna cerah dalam film. Sepanjang saya menonton, “Mustang” telah berhasil mengaduk-aduk emosi saya dengan berbagai macam rasa. Bukan konsep yang baru apalagi saya tinggal di tempat yang ‘bernasib’ hampir serupa—tidak mengagetkan—tapi “Mustang” membawa perjalanan menuju udara kebebasan yang menyegarkan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !