Selasa, 09 Februari 2016

SPRING, SUMMER, FALL, WINTER...AND SPRING [2003]

**FILM SUPER**

Selesai menonton “Spring, Summer, Fall, Winter...And Spring,” saya terperanjak penuh kekaguman dengan film yang penuh dengan filosofi ini. Tidak banyak saya menemukan film semacam ini. Mungkin bisa dihitung jari pada film-film yang mengangkat martabat akan budaya ketimuran. Bila menonton film-film dari Timur (oriental), saya yakin masih banyak yang kuat dengan nilai-nilai tersebut.

“Spring, Summer...” sebagian besarnya dikemas dalam agama Buddha. Karakter sentralnya seorang biksu Buddha. Lokasi filmnya juga banyak diambil dalam sebuah kuil Buddha. Tapi di balik itu, “Spring, Summer...” adalah film yang bersifat universal. Agama Buddha hanyalah sebagai contoh. Sebagai penerapannya, film ini sebenarnya tidak memihak pada agama tertentu. Ini arthouse drama tentang manusia, watak-wataknya, tahapan yang dilewatinya, hubungannya dengan sesama, serta dengan alam semesta.

Sesuai judulnya, film ini terbagi menjadi lima segmen. Dari kelimanya masih dalam satu ikatan cerita. Di bagian pertama adalah “spring;” diawali dengan seorang biksu tua (Yeong-su Oh) yang tinggal dengan muridnya yang masih bocah (Jong-ho Kim). Keduanya banyak menghabiskan waktu dengan beribadah atau sekedar mencari tanaman untuk obat. Si Murid, sesuai umurnya, sering kali bermain dengan hewan-hewan di sekitar sungai. Suatu ketika Si Murid mendapat hukuman dari Si Guru karena telah menyiksa hewan. Ia mengikatkan batu pada ikan, katak, dan juga ular. Sebagai hukuman, Si Guru melakukan hal yang sama pada Si Murid seperti apa yang telah ia lakukan pada hewan-hewan itu.  

Segmen terus bergulir sesuai dengan nama musim yang menjadi judulnya. Di tiap segmen itu, Si Murid bertambah usianya. Di bagian “summer;” ia telah menjadi remaja (Jae-kyeong Seo). Tidak disangka, ia melakukan kesalahan telah berzina dengan seorang gadis (Yeo-jin Ha). Kemudian di “fall;” ia yang telah dewasa (Young-min Kim) meninggalkan kuil untuk menuruti hawa nafsunya. Dilanjutkan dengan “winter;” Si Murid (Ki-duk Kim) telah kembali ke kuil demi melanjutkan ajaran yang ditinggalkan oleh Si Guru. Cerita kemudian berlanjut kembali menuju “spring.”

“Spring, Summer...” disutradarai oleh Ki-duk Kim yang juga berperan dalam segmen keempat dan menulis naskahnya. Saya mencoba untuk membedah apa yang ada dalam “Spring, Summer...,” film ini begitulah padat berisi dengan filosofi kehidupan. Di dalamnya ada siklus tentang kehidupan manusia. Diawali masa kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, lantas mati. Selain itu, film ini juga menuturkan secara humanis tentang apa saja watak sesungguhnya manusia. Anda akan mendapati di sini ada kenakalan, kebahagian, rasa penasaran, cinta, takut, marah, benci, iri, welas asih, dan masih banyak lainnya. Film ini sangatlah kompleks bila harus dikupas secara mendalam lagi dari sudut pandang karakterisasi manusia.

Telah saya tegaskan di atas jika “Spring, Summer...” bersifat universal. Hubungan manusia dengan sesamanya dan juga alam bukan hanya dari pandangan agama Buddha semata, tapi juga seluruh agama. Saya awalnya bertanya-tanya mengapa beberapa jenis hewan ditampilkan di sini. Ada anjing, ayam, belalang, kucing, kura-kura, bebek, ikan, katak, dan juga ular. Saya kemudian menyadari pesan yang dibawakan oleh Ki-duk Kim di sini. Hewan-hewan tersebut merupakan representasi dari alam. Bahwasanya manusia sudah seharusnya hidup bersanding dengan alam.

Saya melihat “Spring, Summer...” tidak hanya di bagian story saja, melainkan aspek-aspek yang lain. Anda bisa lihat bagaimana mengagumkannya set dekorasinya (kuil buatan), seting, hingga pada sinematografi. Dalam cerita, Si Guru dan Si Murid tinggal dalam sebuah kuil kayu yang mengapung di atas danau. Syuting berlokasi di Danau Jusan, Provinsi Gyeongsang Utara. Kuil tersebut lebih mirip seperti perahu rakit dan dapat pula digerakkan ke segala arah. Untuk menuju kuil kayu tersebut, harus melewati sebuah gerbang yang tergambar dua dewa penjaga neraka. Keduanya adalah dewa yang diagungkan di wilayah Timur.

Keunikan dari gerbang itu adalah tidak adanya tembok yang mengelilinginya. Anda juga bisa melihat ke dalam kuil, di sana juga ada dua pintu yang tidak menyatu dengan tembok. Meski hanya terdiri dari pintu dan kusen, lewat di tengahnya merupakan sebuah keharusan. Saya tidak tahu apakah ini ada dalam ajaran Buddha atau hanya ada di kebudayaan Korea, nilai filosofinya sangat tinggi. Yakni setiap manusia harus melakukan sesuatunya sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Bukan dengan melawannya. Apa yang dialami oleh Si Murid, adalah simbol dimana manusia berontak melawan ketetapan yang telah diberlakukan.

Saya pikir tidak akan cukup untuk menguak segala misteri kehidupan yang tertuang dalam “Spring, Summer...” Ini adalah film yang sangat luar biasa, mengesankan, dan mengagumkan. Setiap bagian detilnya mengandung ajaran yang sangat berarti. Bukan hanya dari cerita saja film ini kuat, tapi juga dari unsur-unsur lain seperti nilai estetikanya. Yang saya ketahui adalah di tiap kebudayaan Timur, nilai estetika memang begitu dijunjung tinggi. ‘Spring, Summer...” adalah film untuk Anda yang memuja keindahan.

1 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !