Kamis, 03 Maret 2016

RUGRATS IN PARIS : THE MOVIE [2000]


Serial kartun “Rugrats” adalah favorit saya semasa SMP dahulu. Hampir setiap harinya saya meluangkan waktu untuk menontonnya. Maka tidak mengherankan bila saya hafal dengan semua karakter yang ada. Sudah sejak lama Nickelodeon begitu gencarnya memperkenalkan kartun-kartun produksinya. Selain “Rugrat,” ada juga yang tayang bersamaan di stasiun tv tanah air seperti “Hey Arnold!,” “The Wild Thornberrys,” dan “SpongeBob SquarePants.”

Sudah cukup lama saya tidak lagi menonton serial kartun “Rugrats.” Salah satu versi movie-nya juga pernah saya tonton (lupa movie yang ke berapa) sebelum “Rugrats in Paris” ini. Dengan menonton movie kedua “Rugrats” ini, saya berharap bisa kembali bernostalgia dengan para bayi-bayi cerdik dan juga menggemaskan ini. 

Untuk “Rugrats in Paris” ini, film memfokuskan pada karakter Chuckie (Christine Cavanaugh). Tahu yang mana, tidak perlu lagi saya jelaskan. Film dimulai ketika gang bayi bersama orangtuanya menghadiri sebuah pesta. Angelica (Cheryl Chase) yang paling dewasa dan paling nakal berlagak sok bos di depan bayi-bayi lain. Di sana ada Tommy (E.G. Daily), si kembar Phil dan Lil (keduanya disuarakan oleh Kath Soucie), serta adik laki-laki Tommy, Dil (Tara Strong). Siapa duga, adegan awal ini ternyata adalah parodi dari “The Godfather” (1972); lengkap dengan “kepala kuda.”

Dalam pesta tersebut, para mama menari sambil menggendong para bayi. Di sana nampak Chuckie yang bersedih sebab ia telah ditinggal pergi selamanya oleh sang ibu sejak kecil. Walau pun sedih, sang ayah (Michael Bell) tetap menghiburnya dengan penuh kasih sayang.

Cerita kemudian bertolak ke Prancis. Di sebuah wahana anak yang bernama EuroReptar, salah satu robot Reptar raksasanya mengalami kerusakan. Ayah Tommy (juga Michael Bell), sebagai insinyur di baliknya mendapat panggilan dari menejer wahana, Coco La Bouche (Susan Sarandon) untuk segera datang ke Prancis guna memperbaiki. Karena menerima panggilan di waktu yang tidak tepat, Ayah Tommy lantas mengajak keluarga dan temannya—termasuk para bayi untuk bebarengan ke Prancis.

Jika sudah mengenal serial “Rugrats,” pastinya sudah tahu formula apa yang dimilikinya. Seperti halnya film keluarga dengan bumbu petualangan, diperlukanlah karakter villain di sini. Fungsinya tidak lain demi menciptakan efek keseruan yang nantinya melibatkan karakter-karakter anak kecil sebagai hero. Villain di sini adalah Coco La Bouche sendiri. Ia seorang wanita oportunis, berkuasa, tapi benci dengan anak-anak.

Suatu ketika, pemilik dari EuroReptar, Mr. Yamaguchi (Mako) hendak mengundurkan diri dan mencari pengganti. Coco berharap banyak untuk menggantikannya. Sayangnya, Mr. Yamaguchi tidak memilihnya karena sifat Coco yang bertolak belakang dengan wahana anak yang dikelolanya. Ya, sifat Coco yang tidak keibuan membuatnya dieliminasi. Coco lantas berfikir untuk mencari pasangan dan mengakrabi seorang anak. Lewat Angelica, ia menyasar ayah Chuckie. Bagaimana kelanjutan dari ceritanya sudah bisa Anda prediksi. 

Karakter Chuckie mendapat sorotan utama pada film ini. Sutradara Stig Bergqvist dan Paul Demeyer telah membangun cukup kuat karakter Chuckie di bagian awal sebagai sosok anak yang merindukan kasih sayang ibu. Di satu sisi, sang ayah juga menginginkan agar anaknya mendapatkan kebahagian layaknya anak seumuran. Pastinya, Coco La Bouche yang bengis bukanlah kandidat utama sebagai ibu baru bagi Chuckie. Di pihak lain diceritakan pula karakter Kira Watanabe (Julia Kato); asisten Coco yang seorang ibu penyayang dengan anak seumuran dengan Chuckie. Kita akan tahu kemana film ini akan berlanjut.

“Rugrats in Paris” memang cukup sukses menghibur dan membangkitkan kenangan lama saya. Seperti saat dulu ketika masih sering mengikutinya, keseruannya didapatkan lewat tingkah menggemaskan nan over the top dari para gang bayi ini. Reptar sebagai figur kesayangan dari Tommy, ditampilkan dalam ukuran robot besar menggemparkan Paris. Sekuen kejar-kejarannya bisa Anda cermati adalah parodi dari “Godzilla” dan juga “King Kong.” Mungkin tidak terasa spesial saat kembali menontonnya, tapi “Rugrats in Paris” terlalu penting untuk saya lupakan sebagai tontonan favorit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !