Minggu, 06 Maret 2016

WOLF CHILDREN [2013]

Saya rasa tidak sedikit anime movie yang mengedepankan elemen magis-fantasi di dalamnya. Kalau coba saya hitung lagi khususnya yang telah saya tonton, ada banyak sekali. Semua temanya sama. Selain fantasi, biasanya juga dibubuhi dengan petualangan lewat karakter utama seorang anak-anak. Memang benar kalau anak-anak masih menyimpan banyak daya imajinasi kuat untuk bisa dituangkan ke dalam film.

“Wolf Children” arahan sutradara Mamoru Hosoda ini bercerita tentang seorang gadis yang jatuh cinta dengan manusia serigala. Yupp, terdengar sekali ada aroma “The Twilight saga” di sini. Tapi tenang saja, percintaan berlainan makhluk ini bukanlah fokus utama dalam film ini. Dengan alasan itu, Anda tidak perlu pula menyebut naskah tulisan Satoko Okudera dan Mamoru Hosoda ini sebagai upaya menjiplak “Twilight.”
“Wolf Children” diawali sebuah adegan dimana seorang gadis tengah tidur-tiduran di padang bunga yang indah. Gadis itu bernama Hana (Aoi Miyazaki). Ia masih duduk di bangku kuliah sembari bekerja sambilan. Tidak berapa lama kemudian, Hana melihat bayangan seorang laki-laki yang menghampirinya. Siapakah dia? Mimpi ataukah nyata?

Ketika dalam sebuah ruang perkuliahan, Hana melihat sosok laki-laki (Takao Osawa) yang tampak berbeda dari yang lainnya. Baru pertama kali ini ia melihatnya. Ia sengaja mendekatinya dengan sekedar menanyakan daftar hadir. Laki-laki itu menoleh dengan tatapan dan gaya bicara yang dingin. Mungkin istilah ikemen lebih tepat disandangnya. 

Laki-laki itu berambut gondrong cukup acak-acakan. Memakai kaos lengan panjang putih agak kusut. Celana yang dipakainya pun sama. Ia bahkan hanya memakai sandal jepit ketika jam kuliah berlangsung. Saya menebak, ia hanya ‘numpang’ menuntut ilmu tanpa kehadiran yang resmi. Begitulah kira-kira ekspresi yang terpancar tatkala Hana menanyakan daftar kehadiran padanya.

Sikap lembut laki-laki itu membuat hati Hana tersentuh. Di pertemuan berikutnya, Hana meminjamkan buku kepada laki-laki itu. Hubungan keduanya semakin dekat. Masing-masing dari mereka saling mengenal lebih dalam lagi. Khususnya, laki-laki itu menceritakan latar belakangnya lebih rinci. Di bulan purnama, ia tunjukkan jati diri sesungguhnya kepada Hana. Ia adalah Manusia Serigala. Mungkinkah ia laki-laki yang tampak dalam bayangan Hana?
Cinta keduanya membuahkan dua orang anak. Yang pertama diberi nama Yuki (Momoka Ono)—berarti “salju,” karena lahir di saat turunnya salju. Kedua, bernama Ame (Amon Kabe)—berarti “hujan,” karena terlahir saat turunnya hujan. Yuki dan Ame mewarisi darah Manusia Serigala yang ditinggalkan oleh ayahnya. Dalam keadaan tertentu, keduanya bisa memunculkan wujud asli antara setengah manusia dengan serigala.

Ada dua poin yang saya tangkap dalam film “Wolf Children” : a) Tentang payahnya membesarkan anak, b) proses pencarian jati diri. Sebagai seseorang yang berusia muda, membesarkan anak bagi Hana adalah suatu yang berat. Segala kesulitan selalu ia alami. Salah satunya adalah ketika Yuki dan Ame membuat kegaduhan di malam hari sehingga membuat marah tetangga apartemennya. Selain itu, wujud asli Yuki dan Ame yang tiba-tiba muncul juga cukup dikhawatirkan. Ketika sakit, Hana bingung harus kemana membawanya; dokter anak atau dokter hewan?

Ada dua sisi yang menarik antara karakter Yuki dan Ame. Bagian yang saya sukai adalah karakternya tidak hadir dalam satu dimensi saja. Pada awalnya, Yuki cukup sering menampilkan wujud aslinya meski di tengah-tengah kerumunan orang. Sedikit saja kesal, ia langsung “berubah.” Berbeda jauh dengan Ame yang pembawaannya lebih tenang. Seiring berjalannya usia, transformasi antar keduanya semakin jelas (Haru Kuroki sebagai Yuki remaja dan Yukito Nishii sebagai Ame remaja). Masing-masing dari mereka mencari jati dirinya masing-masing.

“Wolf Children” sebenarnya masih membawa unsur klise dalam beberapa drama fantasi dan coming of age. Namun naskah Satoko Okudera dan Mamoru Hosoda mampu meramu keklisean tersebut menjadi terasa lebih baru dengan memadukan elemen lain. 

Pengembangan karakternya yang menarik ditunjang pula dengan artwork yang indah dalam kuasan-kuasan hamparan alam. Sangat mendekati nyata. Hanya saja penggambaran karakter yang terlalu kartunis, terkadang terlihat kurang menyatu dengan background. Tapi tidak masalah. Sebab hasil akhirnya, “Wolf Children” adalah drama remaja yang indah dan mengharukan.      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !