Sabtu, 19 Maret 2016

THE GREAT PASSAGE [2013]

“The Great Passage” bukanlah film yang baru saja namanya saya dengar. Begitu membaca sebentar saja sedikit mengenai alurnya, saya langsung memutuskan untuk menonton film ini. “The Great Passage” berfokus pada sekelompok editor dalam sebuah perusahaan penerbitan buku yang mengabadikan hidupnya dalam membuat kamus. Ensiklopedia bahasa lebih tepatnya.

Premisnya begitu unik, menarik, dan menjanjikan. Saya menganggap idenya begitu menyegarkan dan tidak konvensional. Nah, karena ini adalah film Jepang, maka kamus yang menjadi bahasan sudah barang tentu adalah berbahasa Jepang.

Ini menarik, sebab Bahasa Jepang sendiri masih terbilang sangat asing bagi banyak pengguna di dunia. Atau bisa saya persempit lagi di Indonesia. Dengan tema yang tidak biasa, apalagi menggunakan bahasa yang betul-betul sangat asing, “The Great Passage” harus diantisipasi bagaimana jalan ceritanya mungkin saja bisa “menyesatkan” penonton yang tidak tahu sama sekali dengan Bahasa Jepang. Tapi sutradara Yuya Ishii berhasil merangkumnya dalam 2 jam lebih yang tidak membosankan. 

Film bersetingkan tahun 1995 di sebuah perusahaan penerbitan buku yang bernama Genbu Books. Di bagian departemen perkamusan, salah seorang senior yang berpengaruh akan segera meninggalkan pekerjaannya di sana. Dia adalah Kohei Araki (Kaoru Kobayashi). Padahal, departemen perkamusan akan menerbitkan kamus terlengkap dengan nama “Daitokai.” Bersama dengan teman kerjanya Masashi Nishioka (Joe Odagiri), ia berjanji akan mencari pengganti dirinya.

Atas saran kekasih dari Nishioka, mereka lantas merekrut Mitsuya Majime (Ryuhei Matsuda) dari departemen lain. Ia seorang pemuda kutu buku, pemalu, canggung, dan tidak pandai berkomunikasi. Kemampuannya dalam mendeskripsikan sebuah kata menjadi acuan bagi Kohei untuk menjadikannya sebagai pengganti. Persiapan penerbitan kamus Daitokai pun dimulai.

Perlu diketahui sebelumnya, dalam menciptakan sebuah kamus bahasa harus membutuhkan riset yang tidaklah sebentar. Bisa lebih dari 10 hingga 20 tahun. Mereka yang membuatnya harus selalu mendapatkan informasi perbendaharaan kata secara aktual; meliputi kata yang baku dan tidak baku serta kata serapan.

Kesulitan tingkat tinggi dalam penyusunan kamus tidaklah saja menjadi fokus utama film ini. Sutradara Yuya Ishii dan penulis naskah Kansaku Watanabe tahu betul bagaimana agar penonton tidak bosan selama menontonnya. Ia menyelipkan komedi menyegarkan yang muncul dari interaksi tokoh kaku Majime dengan tokoh lainnya di departemen perkamusan.
Hasilnya terbukti efektif dimana Majime yang kerap dipanggil “anak serius” (“majime” memiliki arti serius/tekun) menjadi bahan candaan khususnya bagi Nishioka. Di bagian subplot, Yuya Ishii juga menambahkan cerita romansa antara Majime dengan cucu dari pemilik tempat tinggalnya, Kaguya (Aoi Miyazaki). Sesuai namanya, kemunculan awalnya berlatarkan bulan purnama—silakan cari di Google.

Walau sering pula menampilkan adegan dimana Majime dkk sibuk dalam menyusun kamus dengan mengumpulkan ratusan ribu kata lalu mengelompokkannya, saya tidak merasakan bosan akan hal itu. Justru saya merasakan hal yang begitu menarik di sini. Dengan begitu, sedikit saya bisa tahu bagaimana proses penyusunan sebuah kamus yang sanggup menghabiskan waktu puluhan tahun. 

Kemudian, apa yang melatarbelakangi tiap karakternya yang tidak jemu-jemu bergelut dalam kosakata dengan jumlah sebanyak itu? Semua kembali pada passion. Sesulit atau semembosankan apapun sebuah pekerjaan, ketika “cinta” sudah bicara maka segala rintangan terlewati. 

“Daitokai/The Great Passage” memiliki arti “jalan besar menuju laut.” Yang dimaksud laut di sini diumpamakan sebagai lautan kosa kata. Sedangkan kamus susunan dari Majime dkk adalah yang menjembatani menuju pemahaman akan banyaknya kosa kata tersebut. Film ini mengangkat soal ketekunan, ketelitian, dan juga kerja keras. Itu benar. Tapi lebih dari itu, ini adalah film tentang pengabdian.

1 komentar:

  1. Sebelumnya, saya ucappkan terima kasih untuk blog (termasuk foundernya) ini. Tidak banyak di negeri ini orang bisa menemukan blgod berisi resensi film sebegitu banyaknya, terlebih disertai dengan penilaian yang kritis. Maka dari itu, saya merasa beruntung bisa menemukan blog ini. Barangkali hanya semacam saran, mungkinkah Mas Iza membuat semacam list tematik film-film yang memang wajib tonton, seperti film bertemakan thriller terbaik, atau film yang membahas soal otak, atau film yang berhubungan dengan penulis/menulis, semisal Film Super yang telah diberi label tersendiri. Itu saja barangkali. Semoga bisa saya bisa mampir lagi kemari. Terima kasih. Salam Kenal. Fim Anugrah

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !