Rabu, 02 Maret 2016

WAR WITCH [2012]

Sebenarnya saya sudah cukup lama mengetahui perihal film yang memiliki judul Prancis “Rebelle” ini. Tapi karena beberapa alasan, saya menundanya terus hingga belum ada kesempatan untuk menontonnya. Giliran mendapat ada waktu dan materi (baca : filmnya), saya manfaatkan untuk menyaksikannya. Hasilnya memang mengejutkan. “War Witch” adalah film perang yang begitu mengesankan.

Jika tahun kemarin Anda sudah pernah menonton “Beasts of No Nation” yang dibintangi oleh Idris Elba, setidaknya “War Witch” memiliki premis sama—walau sebenarnya film yang disutradarai oleh Kim Nguyen ini rilis tiga tahun sebelumnya.  

“War Witch” juga mengambil latar film di Afrika, meski Kim Nguyen sendiri tidak menjelaskan secara rinci nama negaranya. Hanya saja, film ini sebagian besarnya diproduksi di Republik Demokratik Kongo dan jajaran cast yang berasal dari sana. Kita akan bertemu dengan Komona (diperankan dengan sangat baik oleh Rachel Mwanza yang bukan aktris pro), gadis 12 tahun yang tinggal di perkampungan tepi sungai bersama kedua orangtuanya. Saat itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya memerangi pasukan pemberontak yang disebut dengan Great Tiger.

Pemberontak Great Tiger mendatangi perkampungan milik Komona. Semua warganya dibantai. Tidak terkecuali orang tua Komona. Lebih keji lagi, para pemberontak itu memaksa Komona untuk menghabisi kedua orangtuanya sendiri. Belum kering air mata Komona, pemberontak itu membawanya paksa ke dalam hutan untuk melatihnya sebagai tentara.

Sampai di sini, “War Witch” mudah dipahami sebagai drama perang yang mengedepankan cerita tentang pengeksploitasian anak sebagai mesin perang. Di dalam kamp milik Great Tiger, Komona bertemu dengan banyak anak yang bernasib nahas seperti dirinya. Semuanya sudah dibekali dengan kemampuan militer. Tidak hanya itu, pikiran mereka pun sudah dijejali dengan propaganda perang lewat film atau buku-buku.

“War Witch” yang naskahnya ditulis sendiri oleh Kim Nguyen rupanya bukan sekedar fokus pada drama perangnya saja, melainkan unsur lain seperti kultural. Yang saya maksudkan di sini adalah bagaimana Kim Nguyen dengan lihainya meracik unsur kultural nan magis ke dalam bumbu ceritanya. Kecuali dengan melakukan riset lebih mendalam, saya tidak tahu apakah pemberontakan atau perang saudara di Afrika sana dekat dengan klenik. Tetapi di “War Witch” ini, Kim Nguyen tidak sekedar pamer judulnya yang berbau supernatural itu.

“War Witch” dikisahkan lewat sudut pandang Komona yang juga menarasikan cerita. Ia memiliki kemampuan dalam melihat roh dari orang yang mati. Penampilan roh di sini ditampilkan dalam wujud para aktor yang tubuhnya dilumuri cat warna putih. Mungkin saja makna di baliknya adalah bahwa semua roh yang keluar dari tubuh manusia pada dasarnya kembali suci dan putih bersih. 

Kemampuan yang dimiliki Komona itu muncul sejak ia meminum getah pohon di dalam hutan. Saya tidak tahu apakah ada getah pohon yang memiliki efek seperti itu. Ataukah itu kemampuan lahir Komona? Saya kurang yakin soal itu. Yang saya percayai adalah getah pohon itu mungkin memiliki senyawa narkotika di dalamnya. Sehingga bagi yang meminumnya akan menciptakan halusinasi dalam pikiran. Sebuah adegan dalam film ketika Komona mengigau setelah meminum getah membuat saya yakin akan hal itu. Lantas, mengapa hanya Komona yang mengalami?

Sebenarnya saya juga punya asumsi lain terkait kemampuan supernatural yang dimiliki oleh Komona. Bisa saja apa yang dirasakan oleh Komona adalah wujud penyesalan dan ketakutan yang tertanam dalam pikirannya. Penyesalan yang dimaksud adalah ia telah dipaksa untuk membunuh kedua orangtuanya sendiri. Sedangkan ketakutannya adalah berupa kemenangan Great Tiger melawan tentara pemerintah.  Sebab, kemampuannya dimanfaatkan demi melacak lokasi tentara pemerintah.

Komona tidak sendiri dalam belenggu tentara pemberontak. Ia dekat sekaligus dilindungi oleh Magician (Serge Kanyinda), remaja seusianya yang albino. Tidak berbeda dengan Komona, Magician sejak dini juga telah dilatih berperang. Hubungan keduanya tidak sekedar sahabat, tapi lebih dari itu. Magician menyatakan rasa sukanya pada Komona dan akan menikahinya. Komona lantas memberikan syarat untuk mencari seekor ayam putih yang langka.

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, “War Witch” tidak hanya mengangkat fenomena anak-anak yang dipaksa menjadi tentara perang semata. Kim Nguyen juga memadatkan ceritanya dengan banyak aspek budaya tradisional yang mungkin masih banyak dipegang teguh di sana. Salah satunya adalah kepercayaan adanya “penyihir” (klenik, jimat, dll) yang dijadikan sebagai senjata tempur. Inilah perpaduan tidak biasa yang luar biasa.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !