Kamis, 24 Maret 2016

TANGERINES [2015]

Kalau sudah bisa soal perang, hal-hal yang sering terlintas adalah masalah permusuhan dan perpisahan antar golongan. Jika kita melihat dua kelompok yang saling berperang, warga sipil kerap menjadi korban dari ketamakan penguasa yang hanya mementingkan kekuasaan dan membanggakan masing-masing golongan.

“Tangerines” yang masuk dalam nominasi Oscar (kategori Film Asing Terbaik) tahun 2015 lalu ini mengangkat konflik tersebut. Dari film ini kita bisa belajar banyak dari efek yang ditimbulkan oleh perang. Kebencian antar golongan tidak bisa dihindarkan. Lewat film ini jika kita bisa memetik hikmah bagaimana kita bisa memanusiakan sesama manusia.

Seting yang digunakan dalam “Tangerines” adalah pada Perang Abkhazia tahun 1992-1993. Perang ini terjadi antara Georgia dengan Abhkaz yang didukung oleh Rusia. Tersebutlah sebuah daerah Abkhazia yang dihuni oleh banyak etnis dari Estonia. Namun sebab perang tersebut, banyak etnis Estonia yang kebanyak seorang petani kembali ke negara asalnya.

Di sana hanya tinggal Ivo (Lembit Ulfsak)—seorang tukang kayu pembuat peti buah, Margus (Elmo Nüganen)—petani jeruk, dan Juhan (Raivo Trass)—seorang dokter. Jika Margus sedang menunggu penjualan hasil panen untuk kembali ke Estonia, Ivo tidak menjelaskan alasannya dengan rinci untuk tetap di sana. Namun dalam sebuah adegan, ia mengatakan bahwa menyukai dan membenci Abhkazia.

Suatu ketika di dekat perkebunan jeruk Margus, terdapat konfrontasi antara tentara Georgia dengan tentara Chechen, sekutu dari Abkhaz. Beberapa korban mati dalam insiden tersebut. Tapi di antara semuanya, Ivo dan Margus berhasil menyelamatkan Ahmed (Giorgi Nakashidze)—tentara bayaran dari Chechen dan Miko (Mikheil Meskhi)—tentara Georgia.

Ivo merawat keduanya di dalam rumahnya. Bisa dipastikan apa yang terjadi bila dua orang ini saling bertemu. Benar saja, Ahmed yang terlebih dahulu siuman setelah terluka akan mengancam membunuh Niko. Ivo yang bijaksana melarang keras apa yang akan dilakukan Ahmed. Jika pun harus melakukan, Ivo menyuruh Ahmed menyelesaikannya di luar rumahnya. Ahmed pun menepati janji.

Perseteruan keduanya tidak bisa dihindarkan. Ahmed dan Niko kerap saling mengejek satu sama lain. Kebencian keduanya semakin menjadi-jadi tatkala mereka membawa kebanggaan akan etnis mereka. Masalah siapa yang berhak tinggal di tanah Georgia juga dibawa. Di saat kondisi semakin memanas, Ivo dengan bijaksananya melerai mereka. Sungguh ironis, dua orang etnis asli dari Abhkazia itu justru diselamatkan dan mendapat pelajaran penting dari orang asing.
Melihat percikan-percikan amarah dan benci antara Ahmed dan Niko, Ivo hanya bisa menjadi pihak penengah. Ia sama sekali tidak peduli dengan permusuhan mereka berdua. Yang ada dalam benaknya hanyalah menyelamatkan seseorang yang sangat membutuhkan daripada harus memikirkan masalah perang etnis tersebut. Padahal, Ivo memiliki masa lalu sangat kelam dengan perang itu.

Saya dan Anda pasti sudah bisa membaca kemana arah film yang disutradarai oleh Zaza Urushadze ini. Apabila dua orang yang saling bermusuhan tinggal dalam satu atap setelah peristiwa sulit yang dihadapi, kelak keduanya akan menjadi rukun. Naskah tulisan Zaza Urushadze tidak bisa untuk tidak memasukkan turning point semacam itu. Pada akhirnya, “Tangerines” menjawab jika perbedaan kelompok/etnis tidaklah masalah lagi demi wujudkan perdamaian. 

Pesan yang ingin disampaikan Zaza Urushadze dalam “Tangerines” sangat padat sekali menurut saya. Ini bukan soal anti perang semata, melainkan bagaimana menjadi manusia dan memanusiakannya. Dengan tokoh sentralnya Ivo, ia menunjukkan cara memperlakukan manusia. Tidak peduli ia dari etnis mana, semua diperlakukannya dengan baik. Ia menghormatinya tanpa perlu membawa masa kelamnya pada urusan dalam menyelamatkan Ahmed dan Niko.    

Ini juga tentang kepercayaan dalam memegang janji. Bahwasanya ketika seseorang saling mempercayai satu sama lainnya, ia telah menganggapnya sebagai manusia. Ivo mempercayai sepenuh hati apa yang diikrarkan oleh Ahmed dan Niko. Keduanya berjanji untuk tidak saling membunuh selama di rumah Ivo. Tapi jika kepercayaan diabaikan, perasaan marah karena tidak dihargai akan menjadi pemicu permasalahan.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !