Rabu, 30 Maret 2016

SOUTHBOUND [2015]

Kelemahan dalam setiap film antologi yang saya rasakan adalah tingkatan berbeda antara satu cerita dengan cerita yang lain. Dengan kata lain, jarang sekali film antologi yang kesemua ceritanya begitu menarik perhatian bagi penonton. Saya memaklumi hal ini. Bilamana dalam setiap segmen ditulis oleh orang yang berbeda-beda pula, menajadi alasan paling lumrah.

Di sini ada film horor indie dengan lima segmen; masing-masing disutradarai dan ditulis naskahnya oleh orang yang berbeda. Sebagian alurnya mengasyikkan untuk diikuti. Sebagian lagi kualitasnya tidak mampu seimbang dengan cerita lainnya. 

THE WAY OUT: segmen pertama ini disutradarai oleh Radio Silence dan naskah oleh Matt Bettinelli-Olpin. Bercerita tentang dua orang pria berkendara truk ke sebuah daerah gersang khas Amerika. Mereka adalah Mitch (Chad Villela) dan Jack (Matt Bettinelli-Olpin sendiri). Wajah mereka tampak ketakutan. Tubuh Jack juga berlumuran darah. Mungkinkah mereka baru saja membunuh seseorang?

Berhentilah mereka di sebuah SPBU. Beberapa film horor memang dimulai dari “Wrong Gas Station.” Keduanya merasakan hawa yang tidak menyenangkan selama di tempat tersebut. Begitu mencoba keluar dari SPBU, keduanya tidak bisa pergi jauh. Seberapa sering mereka mencoba pergi, ujung-ujungnya kembali di tempat semula. 

Saat truk yang dikendarainya berputar-putar di tempat yang sama, mereka seolah-olah diintai oleh makhluk misterius. Benar saja, makhluk mengerikan itu pun dengan nyata mendekati mereka dalam wujud yang amat menyeramkan—tengkorak kumal dengan senjata sabit di tangan dan terbang melayang. Dosa apa sehingga mereka dikejar-kejar dengan penuh ketakutan?

SIREN : segmen berikutnya disutradarai oleh Roxanne Benjamin dengan naskah yang ditulisnya sendiri bersama Susan Burke. Bercerita tentang tiga gadis hippie; Sadie (Fabianne Theresse), Ava (Hannah Marks), dan Kim (Nathalie Love). Suatu ketika dalam perjalanan menuju acara manggung (mereka bertiga anak band), ban mobil mereka bocor di tengah gurun gersang.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar tempat tersebut. Perdebatan kecil sempat terjadi di antara mereka. Tidak lama, datanglah pasutri yang menawarkan tumpangan kepada mereka. Jika dalam film bercerita tentang tersesat di tempat antah berantah, patut diwaspadai siapa orang yang menawarkan bantuan kepada mereka. Yah benar saja, kesialan menimpa mereka. Pasutri tersebut penganut kultus pemuja setan.

THE ACCIDENT : Disutradarai dan ditulis oleh David Bruckner, inilah segmen terbaik di film ini. Melanjutkan segmen sebelumnya, Sadie telah berhasil menyelamatkan diri dari rumah pasutri tersebut. Apes, Sadie ditabrak seorang pria yang berkendara sambil menelepon. Lucas (Mather Zickel)—pria tersebut, tidak tahu harus berbuat apa setelah menabrak Sadie hingga sekarat.

911 dipanggil. Operator wanita mengarahkannya segera menyelamatkannya ke kota terdekat. Sampai di kota tersebut, tidak terlihat seorang manusia pun yang lewat. Tidak ingin menghiraukan, pergilah Lucas ke rumah sakit di sana demi menyelamatkan Sadie. Aneh, di rumah sakit juga tidak nampak seorang pun. Lewat penelepon misterius, Lucas mengoperasi sendiri Sadie yang tengah sekarat.

JAILBREAK : disutradarai oleh Patrick Horvath dengan naskah yang ditulisnya bersama Dallas Hallam, inilah segmen paling buruk. Diawali dengan wanita yang menelepon Lucas di segmen sebelumnya (Maria Olsen), ia beranjak menuju sebuah bar. Keributan terjadi ketika seorang pria, Danny (David Yow) ingin mencari adiknya yang lama hilang. Kemudian ia memaksa sang bartender (Matt Petters) untuk menunjukkan adiknya. Sang bartender lalu mengajaknya ke ruangan dimensi lain. Apppaaaa...?

TEH WAY IN : disutradarai dan ditulis oleh orang yang sama dalam segmen pertama, menceritakan tiga pria bertopeng yang meneror sebuah keluarga. Mereka bertiga berhasil membunuh seluruh anggota keluarga tersebut tanpa ada alasan yang jelas. Salah satu dari perampok tersebut tewas dibunuh oleh monster tengkorak aneh yang menemui Mitch dan Jack di segmen pertama.

Seperti yang telah saya katakan, ada segmen yang menarik tapi ada pula yang tidak. Perbedaan pengarahan dan visi dari penulis naskahnya berpengaruh besar dalam susunan kontennya. Kesamaan semua segmen adalah berseting di gurun tandus Amerika; yang mana kerap menjadi urban legend setempat. “Southbound” mungkin terasa berlebihan dan kurang mencengkam bagi pecinta horror. Tapi dalam upaya menghidupkan kultur horor Amerika, film ini meraih atensi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !