Minggu, 05 Juli 2015

FLASH GORDON [1980]

Flash Gordon diangkat dari komik strip karya Alex Raymond tahun 1934. Flash Gordon versi movie ini dibuat dengan camp style, gaya penceritaan yang memiliki kesamaan dengan Batman TV Movie yang dibintangi oleh Adam West. Meski menggunakan style yang sama, Flash Gordon tidak lantas dengan totalnya menampilkan kekonyolan dan kebodohan secara eksplisit seperti apa yang sebelumnya dicontohkan oleh Batman TV Movie di tahun 1968. Unsur keseruan dan ketegangan masih menyelimuti kuat sci-fi adventure ini, walaupun akting yang dihadirkan jauh dari kata ‘bagus’.

Flash Gordon (Sam J. Jones) adalah bintang footbal dari New York Jets, dengan ciri khas rambut blonde, tubuh atletis, dan kaos yang bertuliskan “Flash” di tengahnya. Suatu ketika, ia tengah pergi dengan menaiki pesawat, dan di sana ia bertemu dengan seorang jurnalis wanita, Dale Arden (Melody Anderson). Tapi di tengah perjalanan, pesawat yang mereka tumpangi terganggu oleh meteorit dan kedua pilot pun menghilang. Pesawat pun kemudian mendarat di sebuah rumah kaca milih Dr. Hans Zarkov (Chaim Topol).

Zarkov dikenal sebagai ilmuwan gila yang mempercayai bahwa selama ini bumi selalu diincar oleh makhluk asing. Untuk membuktikan teorinya, Zarkov lantas memaksa Flash dan Dale yang mendarat di rumah kacanya, untuk masuk ke dalam roket yang ia ciptakan. Lalu terbanglah roket tersebut ke Planet Mongo yang dikuasai oleh kaisar jahat, Ming (Max von Sydow) dan kaki tangannya, Klytus (Peter Wyngarde). Ming kemudian memerintahkan untuk menghukum mati Flash, meski mendapat tentangan dari putrinya, Aura (Ornella Muti), yang diam-diam menyukai Flash.

Jika saya bandingkan antara Batman TV Movie dengan Flash Gordon, perbedaan keduanya cukup mencolok meski mengusung camp style yang sama. Batman TV Movie lebih konyol dengan segala kebodohan dan tindakannya yang di luar nalar, sedangkan Flash Gordon masih banyak memiliki unsur keseriusan, meski tidak dipungkiri ada beberapa momen absurd yang sempat ditampilkan. Sebagai contohnya adalah ketika Flash ditangkap oleh pasukan Ming, ia lalu menghindar dengan menggunakan teknik footbal yang sering ia mainkan, luar biasanya teknik tersebut cukup ampuh membuat pasukan Ming kuwalahan. Momen absurd lainnya yang bahkan lebih ‘parah’ dan membuat saya tertawa geli adalah ketika Flash digiring untuk dihukum mati (dengan gas) di aula istana Ming, ia lantas mencoba berontak hingga membuat para pasukan menodongkan senapan laser kepadanya. Lihatlah bagaimana saya tidak tertawa, padahal Flash akan segera dihukum mati, lalu untuk apa mereka menodongkan senapan laser kepadanya ?, toh sebentar lagi ia akan mati, bukan ?. 

Segala kekonyolan yang hadir dalam Flash Gordon bukanlah sebuah kecacatan yang perlu untuk disalahkan, karena sedari awal memang film ini diformat dengan penceritaan yang tidak terlalu serius, tapi juga tidak serta merta disebut sebagai komedi. Adegan pembukaan ketika Ming meluluh lantakkan bumi dengan berbagai macam bencana alam hanya dengan menekan tombol, tidaklah perlu dipikirkan secara serius, bagaimana itu bisa terjadi ?. Dale yang baru saja kenal dengan Flash ketika di pesawat, tiba-tiba bisa cemburu melihat Aura yang kesengsem dengan Flash, lho kok bisa terjadi ?. Kembali lagi, jangan terlalu dipikirkan. Semua kejanggalan yang hadir silakan Anda anggap saja sebagai misteri besar alam semesta yang tidak pernah terjawabkan. Anda tidak perlu tahu, dan Tuhan pun mungkin tidak mau tahu. 

Secara teknikal, Flash Gordon sudah cukup istimewa untuk film sci-fi di tahun tersebut. Sets dan props yang mendukung film ini pun juga sangat memuaskan untuk ditonton, apalagi penciptaan hutan belantara di Planet Arboria yang penuh dengan rawa-rawa, pohon besar, dan makhluk buas di dalamnya. Adegan paling memorable bagi saya justru diambil ketika Flash berada di Planet Arboria ini. Flash beradu keberuntungan dengan Pangeran dari Arboria, Barin (Timothy Dalton), untuk menghindari sengatan kalajengking raksasa, sungguh sangat mengenang meski saya masih kecil ketika saat itu menontonnya. Dengan menonton ulang Flash Gordon ini, tiadalah cara yang paling tepat untuk membangkitkan kenangan indah di masa lalu dengan tokoh yang sempat begitu populernya di tanah air ini. Sepertinya, segala kekurangan dari film ini (terutama akting yang kacangan), bisa tertutupi dengan baik dan saya rasa sah saja bila Flash Gordon akhirnya digelari sebagai film cult.

Flash Gordon mungkin sudah ditelan zaman. Hampir sedikit di generasi ini yang mungkin membicarakannya. Tapi siapa yang sangka, George Lucas yang dikenal lewat sci-fi adventure terbaik sepanjang masa, Star Wars, pernah berkeinginan untuk menyutradari Flash Gordon, meski akhirnya ditolak oleh sang produser. Barulah setelah penolakan, George Lucas menciptakan Star Wars. Kesialan yang berujung berkah, mungkin.

Status cult untuk film ini bisa dibuktikan lewat special appearance-nya Sam J. Jones di Ted (2012), yang juga berperan sebagai Flash Gordon lengkap dengan rambut blonde-nya. Flash Gordon sendiri merupakan tokoh idola dari karakter Ted (Seth MacFarlane) dan John (Mark Wahlberg). Ini merupakan bukti yang lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa sosok Flash Gordon masih melekat pada para fans-nya, serta tidak lekang oleh waktu. Bagi saya pribadi pun, Flash Gordon merupakan ‘obat’ untuk mengenang masa kecil, walaupun secara garis besar tentu sudah lupa bagaimana alur ceritanya (sebelum menonton ulang), tapi nama besar “Flash Gordon” tidak bisa hengkang dari ingatan.  
ATAU
7 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !