Jumat, 03 Juli 2015

THE KILLING [1956]

**FILM SUPER**

Pernah melihat perampok dirampok ?, mungkin hanya ada di film feature-length ketiga dari Stanley Kubrick ini. The Killing adalah film crime noir yang diangkat dari novel berjudul Clean Break karya Lionel White. Seperti ulasan saya sebelumnya tentang film noir dari Alfred Hitchcock, Strangers on a Train (1951), The Killing juga banyak mengangkat aspek ambigu moral dan motivasi seksual (sebagai tujuan dari tindak kriminal) di dalamnya. The Killing menceritakan tentang lima orang yang berencana merampok uang sebesar $2 juta dari arena pacuan kuda, dan hanya ada satu dari kelimanya yang merupakan perampok profesional.

Dia adalah Johnny Clay (Sterling Hayden), perampok yang baru saja keluar dari penjara itulah yang merencanakan perampokan tersebut. Untuk memuluskan rencananya, ia merekrut George (Elisha Cook Jr.) dan Mike (Joe Sawyer) yang bekerja di arena pacuan kuda, target perampokan. Sisanya adalah polisi korup, Randy (Ted de Corsia) dan Marvin (Jay C. Flippen) yang memberikan dananya untuk merekrut dua anggota lagi, tapi dirahasiakan oleh Johnny kepada empat anggota lainnya. Rencana berupa perfect crime telah dibentuk, tapi masalah datang dari Sherry (Marie Windsor), isteri George, yang mengetahui rencana tersebut. Kemudian ia melaporkan pada selingkuhannya, Val (Vince Edwards) untuk ganti merampok Johnny dkk. jika telah berhasil mendapatkan banyak uang.

The Killing adalah film yang begitu unik dengan plot reverse chronology-nya yang dengan detil menampilkan detik-detik menuju aksi perampokan secara mundur. Bahkan, waktu yang digunakan oleh tujuh orang dalam perampokan inipun juga dijelaskan secara detil. Tambahan berupa editing dari Betty Steinberg menjadikan pengemasannya begitu sempurna dalam menampilkan scene by scene yang saling menumpuk, tapi tetap mudah untuk diikuti. Dari segi teknikalnya yang luar biasa tersebut, The Killing juga berjalan seimbang dengan cerita yang ditawarkan berupa rencana perfect crime yang begitu brillian. Seru dan menegangkan, itulah yang saya rasakan selama 85 menit menontonnya. Setiap karakter berikut latar belakang dan tujuannya untuk merampok juga dijelaskan untuk memperkuat karakterisasinya, selain itu juga untuk mempermudah dalam mengenalinya karena jumlahnya yang cukup banyak. 

Selain Johnny, semua yang berpartisipasi dalam perampokan ini hanyalah orang-orang biasa dengan pekerjaan ‘normal’ mereka. Merampok menjadi jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang lebih demi menutupi segala permasalahan yang mereka miliki. Ambigu moral tersebut ditampilkan dengan baik oleh Kubrick di sini, contohnya adalah Mike si bartender yang rela merampok demi istri yang dicintainya sakit keras. Sedangkan aspek motivasi seksual ada pada George yang ingin menyenangkan istrinya, Sherry, agar tidak selingkuh. 

Meski perbuatan mereka tidak dapat dibenarkan, tapi perlu diakui bahwa team work mereka benar-benar luar biasa. Salah satu kunci keberhasilannya tentu terletak pada Johnny yang seorang perampok profesional, mampu mengendalikan enam orang yang tidak tahu menahu dalam dunia hitam perampokan. Sebagian besar peran anggota lainnya hanyalah dengan membuat pengalihan dan sekedar membantu Johnny mendapat akses masuk ke arena pacuan kuda atau membantu memindahkan uang. Sedangkan Johnny sendiri bertindak sebagi eksekutor untuk memaksa para sandera memasukkan uang. Walaupun tidak berlabel ‘perampok pro’, tapi mereka dapat mengikuti setiap arahan dari Johnny dengan baik. 

Hingga saat ini pun, saya baru menonton dua film noir, sebuah genre film yang bisa dikatakan sudah punah sejak lama. Saya berharap dari dua contoh ini cukup mampu saya dapatkan informasi terkait film noir, terutama beberapa hal yang selalu wajib ada di dalamnya. Wanita materialistis, suasana gang yang gelap dan berasap, dan rencana kriminal yang rapi adalah sebagian besar hal yang biasanya selalu ada di film noir. Bahkan ada yang menyebut bahwa dalam film noir sering ada adegan pria yang menawarkan rokok atau sekedar membelikan minum. Ternyata memang benar bahwa poin-poin itu ada dalam dua film noir yang sudah saya tonton, salah satunya adalah The Killing ini.   

The Killing memang memiliki plot yang begitu brillian, terutama dalam rencana perampokan yang begitu jenius untuk ukuran film di tahun tersebut. Tapi jika dibandingkan dengan karya Stanley Kubrick yang muncul berikutnya, The Killing memang masih kalah ‘gila’. Gaya penyutradaan Kubrick yang khas seperti shot panjang juga belum terlalu terlihat di film ini, tapi akhirnya baru muncul pada filmnya yang rilis satu tahun kemudian, Paths of Glory. Meski The Killing gagal dalam pendapatan secara komersial, tapi mendapatkan banyak kritikan positif dan bahkan berhasil menyandang gelar sebagai film cult. Saya pun tidak bisa untuk tidak mengakui bahwa The Killing adalah film crime noir yang begitu luar biasa bagus, mulai dari menit-menit awal hingga klimaksnya, astounding & thrilling.   

ATAU
9,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !