Senin, 13 Juli 2015

SLOW WEST [2015]

Bicara soal film western, inilah genre yang begitu tegas menampakkan sisi kerasnya kehidupan. Semakin keras lagi ketika latar berupa hamparan rumput yang tandus, gurun yang panas, dan tebing-tebing bebatuan. Sesuai dengan latar yang digunakan, western tidak luput dari aksi brutal manusia yang saling tembak, kejar-kejaran dengan kuda, atau justru ganti dikejar oleh suku lokal. Karya debut dari John Maclean yang berjudul Slow West ini adalah bentuk pengemasan baru dari western dengan ditambah coming-of-age romance menjadikannya lebih stylish tanpa mengubah pakem dari western itu sendiri. Walaupun ada unsur romance, Slow West tidak tampil begitu melodramatis. Para pria macho dengan pistol pun masih banyak berkeliaran di sini.

Seorang pemuda kurus, clumsy, dan nampak lemah, Jay (Kodi Smit-McPhee), datang jauh-jauh dari dataran tinggi Skotlandia menuju Amerika hanya untuk mencari wanita yang dicintainya, Rose Ross (Caren Pistorius). Jay mengatakan, kesalahannya lah yang telah membuat Rose dan ayahnya harus pergi ke Amerika. Dengan bawaan yang overload dan pengalaman yang minim, ia jelajahi alam liar para koboi ini. Dalam perjalanannya, Jay bertemu seorang bounty hunter bernama Silas (Michael Fassbender) dan setuju mengawalnya sampai hutan bernama Silver Ghost. Petualangan mereka semakin seru karena dua sosok yang berbeda jauh kepribadian ini. Menegangkan juga, karena banyak rintangan yang tidak akan pernah mereka duga selama perjalanan.
Mungkin penonton sudah bisa menebak apa yang akan terjadi ketika dua sosok berbeda kepribadian ini bersama dalam satu petualangan. Jay akan belajar bertahan hidup di alam keras dari Silas, begitu pula Silas yang banyak belajar dari kebijakan seorang Jay. Tapi Slow West tidak semudah itu untuk ditebak, kejutan demi kejutan akan muncul tiba-tiba dan mengagetkan, meski sebelumnya terasa tone yang begitu pelan dan tenang. Sesekali, flashback antara Jay dan Rose ditampilkan untuk menguatkan bahwa hubungan mereka begitu dekatnya. Meski Jay begitu mencintai Rose, tapi sayangnya Rose hanya menganggap Jay sebagi saudara saja. Bukti cinta yang kuat tersebut dibuktikan oleh Jay dengan kenekatannya untuk pergi sendiri ke Amerika. Sampai sini, Slow West masih terlihat ‘aman’ saja, karena kita harus menunggu dengan sabar hingga taringnya benar-benar keluar.  

Seperti yang saya singgung sebelumnya, Slow West terasa begitu tenang dan menghanyutkan, seolah mengisyaratkan pada penonton bahwa tidak akan terjadi hal yang besar setelahnya. Tapi siapa yang sangka, baku tembak yang amat seru justru muncul tiba-tiba dari pasangan suami istri, contohnya. Adegan demi adegan action yang muncul dadakan itu dikemas dengan begitu bagus dan rapi oleh Maclean. Dari bagian ini, penonton harus mulai aware karena siapa tahu hal-hal yang lebih mengejutkan akan muncul kembali. Dan ternyata benar, sosok pemimpin bandit bernama Payne (Ben Mendelshon) memperkenalkan diri sambil membawa kenangan masa lalu bagi Silas. Sosoknya yang memakai jaket wol sedikit mengingatkan saya pada pemimpin bandit bernama Lucky Ned Pepper (Barry Pepper) dari film arahan Coen Bros., True Grit (2010). Kemunculan dari Payne di sini bukanlah sekedar numpang lewat, melainkan akan menjadi jembatan penghubung untuk aksi yang lebih gila dan lebih brutal lagi.

Pengemasan baru dari western ala John Maclean ini terasa sekali di beberapa aspeknya. Seperti latar yang digunakan bukanlah padang atau gurun tandus, melainkan hamparan bunga-bunga indah berwarna ungu dan sesekali menjelajahi hutan-hutan pinus nan hijau. Sinematografi dari Robbie Ryan pun semakin memanjakan mata walau tidak banyak bermain dengan widescreen landscape. Tidak kalah uniknya lagi, Slow West menggunakan aspek rasio 1:66:1 yang terlihat kuno dari segi frame, tapi modern dan stylish dari segi visual. Inilah yang patut saya acungi jempol dari keberanian seorang Maclean untuk mengeksplorasi sesuatu yang baru bagi genre yang dipandang ‘kuno’ ini agar tampil lebih ‘segar’ dan sanggup dinikmati oleh penikmat masa kini. Saking begitu menikmatinya, saya tak bisa hentikan kedua tangan untuk memberikan applause padahal film masih berjalan di pertengahan.

Semua karakter yang muncul di Slow West dikonstruksi begitu apik dengan karakterisasinya yang kuat pula, jadi tidak ada istilahnya karakter yang hanya sebagai tempelan saja. Semua karakternya berhasil menghadirkan sesuatu yang tidak hanya mengejutkan, tapi juga mampu untuk membuat yang menontonnya bersimpati. Sebut saja Rose, siapa yang sangka dia akan ditampilkan sebagai gadis perkasa dengan senapan laras panjang ?. Tentunya sangat mengagetkan, jika mengingat adegan-adegan flashback-nya dengan Jay membuatnya terlihat hanya sebagai gadis lugu nan rapuh. Jika dipikir lagi, sudah berapa kali saya menyebutkan kata “mengejutkan” ?. Saya telah kehabisan kata, karena hanya itu saja yang ada pada pilihan utama untuk mendeskripsikan film yang brutal tapi indah ini. Kata tersebut berjalan kontras dengan judul film ini yang menggunakan embel-embel kata “slow”, yang seolah-olah bahwa slow/lambat itu mudah ditebak, padahal kenyataannya bicara sebaliknya.

Senada dengan judulnya, karakternya yang kaya akan twist memberikan atensi untuk terus mengikuti kisahnya hingga akhir. Kisah romance-nya dapat berjalan di jalur yang sama dengan western, yaitu sama-sama dikemas dengan brutal dan tragis, tanpa banyak memberikan tangis, melainkan kesan yang romantis. Singkat dan padat, Slow West memberikan pengalaman yang baru dalam menikmati western yang mungkin dipandang sudah ketinggalan jaman, menjadi sajian yang begitu mengasyikkan, lengkap dengan komedi hitamnya yang beberapa kali diselipkan.
9 / 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !