Rabu, 08 Juli 2015

THE BABADOOK [2014]


Belakangan ini, sepertinya film horror mulai berkembang dengan sedikit-sedikit mengurangi jump scare murahan yang mulai usang. Seperti beberapa waktu lalu, It Follows (2014) berhasil memberikan nuansa baru sebagai film horror yang tidak hanya menyeramkan, tapi juga fresh meski kita sadari konsepnya cukup konyol. Film asal Australia karya Jennifer Kent yang berjudul The Babadook ini mengulangi hal yang sama dengan meminimalisir penggunaan jump scare  dan lebih banyak bermain dengan creepy sound. Dalam beberapa aspeknya, The Babadook bahkan jauh mengungguli It Follows, terutama dari aspek karakterisasinya.

Seorang ibu rumah tangga bernama Amelia (Essie Davis) tinggal berdua bersama anaknya yang bernama Samuel (Noah Wiseman), yang selalu dicap “aneh” oleh teman-temannya. Setiap malam, Samuel selalu kesulitan tidur karena mempercayai adanya sosok yang ia sebut sebagai monster, berada di kolong tempat tidur atau di dalam lemari. Suatu ketika, Samuel memintakan ibunya untuk membacakan sebuah buku pop-up bersampul merah berjudul “Mister Babadook”. Sejak saat itu, peristiwa aneh hinggap di kehidupan mereka, seperti suara-suara misterius hingga Amelia menemukan pecahan kaca di dalam makanannya. Samuel meyakini, semua hal tersebut dilakukan oleh Mister Babadook yang ingin memasuki rumah mereka.

Konsep yang dibawa Jennifer Kent ke dalam film ini sebenarnya bukan hal yang baru, yaitu tentang perasaan takut yang terus menerus membayangi seorang anak kecil, terutama saat mereka akan tidur.  Tekanan muncul ketika seorang anak kecil yang mempercayai hal-hal di luar logika itu malah membuat mereka yang sudah dewasa berusaha keras untuk meyakinkan bahwa hal tersebut tidaklah nyata. Kemunculan buku misterius di sini juga semakin menambah daftar komponen yang biasanya sudah jamak ada dalam film horror. Tapi, Jennifer Kent memberikan formula yang berbeda dalam pengemasannya, sehingga The Babadook menjadi terlihat lebih stylish, tanpa melupakan unsur keseramannya. Tone yang sangat gelap dipadu pengambilan gambar cepat dan permainan musik yang creepy, merupakan salah satu usaha Jennifer Kent dalam membangun atmosfir yang begitu menyeramkan dan menegangkan di sini. 

Berbeda dengan film horror lainnya yang lemah soal karakter, The Babadook justru kuat di bagian tersebut. Kita diperkenalkan dengan dua karakter utama di sini, Amelia dan Samuel yang masih berumur tujuh tahun. Amelia, terlihat dengan penampilan yang begitu kusut dan terkadang sosok suaminya, Oskar (Benjamin Winspear), yang meninggal di hari yang sama saat ia melahirkan Samuel, terus membayangi hidupnya. Kesan single parent yang penuh tekanan semakin terlihat jelas dengan ulah Samuel yang di luar kendali. Sering pula ia membuat masalah dengan anak seumurannya dan menceritakan kisah tidak logis yang membuatnya dipandang “aneh”. Kesan claustrophobic semakin terasa ketika semua masalah yang dihadapi Amelia di ‘siang hari’ bertumpuk dengan masalah di ‘malam hari’ ketika ia tidak bisa tidur ditambah perasaan was-was pasca penemuan buku berjudul Mister Babadook itu. Sekilas, karakter Amelia dan Samuel ini sedikit mengingatkan saya akan karakter Diane yang single parent dan anaknya yang nakal, Steve, dalam film berjudul Mommy (2014). 

Sosok Amelia ini memang cukup menarik untuk dikaji lebih mendalam, tapi space tidak cukup untuk menuliskannya di sini. Selain Amelia dan Samuel, sosok Mister Babadook tentunya juga tidak kalah seru untuk menjadi bahan ulasan kali ini. Ia digambarkan sebagai pria tinggi besar dengan jas dan topi hitam. Saya tidak tahu apakah Mister Babadook ini merupakan urban legend dari Australia atau bukan, tapi dengan deskripsi yang terlihat sederhana dari saya rasanya tidak cukup untuk menggambarkan sosok Mister Babadook yang menurut saya benar-benar sangat menyeramkan. Mungkin bersifat subjektif, tapi kemunculan Mister Babadook yang dibuat sekilas-sekilas lalu diiringi dengan creepy sound memang terbukti ampuh membuat saya beberapa kali harus menutup mata. Ketika Mister Babadook menelepon, itulah momen paling ‘menyesakkan’ menurut saya. Sesekali, ketika Amelia tidak bisa tidur dan menonton tv dengan footage-footage film klasik era 1920-an (seperti filmnya George Méliès), herannya dapat membangkitkan atmosfir yang juga tidak kalah menyeramkannya, meskipun sebenarnya tidak ada yang salah dengan film-film klasik tersebut.

Pada awalnya, keberadaan Mister Babadook sepertinya memiliki alternate jawaban, antara murni dari fantasi Samuel belaka atau memang pure sosok hantu. Kemudian di antara bagian second dan third act-nya, tepatnya saat Amelia mulai terlihat terkena demonic possession, saya mulai beranggapan bahwa segala kegilaan yang dialami Amelia hanyalah hasil dari alam bawah sadarnya saja. Segala permasalahan yang terkubur dalam benaknya, termasuk efek kehilangan suaminya, ia luapkan sepenuhnya saat fase ‘kerasukan’ tersebut. Atensi saya semakin meningkat di bagian ini, karena unsur psychological thriller-nya mulai menguat dan terus memberikan rasa penasaran saya hingga akhir film. Sejenak saya langsung terfikirkan oleh salah satu masterpiece dari seorang Stanley Kubrick, The Shining (1980), dimana salah satu karakternya mulai hilang kendali dan akan membantai keluarganya. 

Penonton boleh menilai sendiri bagaimana ending yang diberikan oleh Jennifer Kent, termasuk ke-eksistensian Mister Babadook itu sendiri. Dari sudut pandang saya, sebenarnya ‘sedikit’ kecewa dengan apa yang dihadirkan oleh Jennifer Kent di sini. Tapi semua sudah termaafkan dengan segala aspek yang begitu kuat dibangun bahkan sejak menit-menit pertama berjalan. Diangkat dari film short film Kent sendiri yang berjudul Monster (2005), The Babadook telah masuk ke daftar film horror favorit saya yang selama ini masih cukup sedikit untuk saya isi. Tidak hanya memberikan hiburan dengan ‘menakut-nakuti’, The Babadook juga memberikan meaning yang kuat pada karakternya, Amelia dan Samuel. Seru serta menegangkan, dan mampu keluar dari cheap scares yang sudah menjamur.

ATAU
8,5 / 10

2 komentar:

  1. Aku melihat film ini seru.....banget dan mengerikan.....skali
    Saksikan film the babadook

    BalasHapus
  2. Barusan saya selesai nonton film the babadook tapi masih agak kurang paham dengan endingnya, kok babadooknya diberi makan? kenapa hantu dipelihara? babadook itu sebenarnya sosok apa?

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !