Minggu, 12 Juli 2015

MAGGIE [2015]

Zombie Apocalypse masih menjadi favorit bagi sebagian besar penikmat film horror. Adegan berdarah-darah dan kejar-kejaran dengan mayat hidup ini seakan tidak pernah lekang oleh waktu, meski berapa kalipun diolah menjadi sebuah film. Di situlah letak kesulitan dalam membuat film-film zombie, yaitu bagaimana menciptakan ritme agar tidak membosankan bagi penontonnya, walaupun harus berpegang pada pakem yang selalu pasti ada. “Maggie”, mencoba untuk memberikan taste yang berbeda pada film zombie dengan lebih menekankan pada unsur drama yang begitu kuat dan meminimalisir adegan keroyokan para zombie. Demi mengikat atensi, nama-nama besar pun turut digandeng seperti Arnold Schwarzenegger dan Abigail Breslin yang sebelumnya bermain di Zombieland (2009).  

Kali ini, wabah virus yang menjangkiti manusia hingga berubah menjadi zombie disebut Necroambulist. Wade Vogel (Arnold Schwarzenegger) berhari-hari mencari anaknya, Maggie (Abigail Breslin) yang menghilang dan diduga terkena gigitan oleh zombie. Tidak berapa lama, Wade menemukan Maggie dalam perawatan di sebuah karantina. Dengan bantuan salah satu temannya, Wade berhasil mendapatkan kesempatan untuk membawa pulang Maggie ke rumah untuk berkumpul dengan ibu tiri dan dua adiknya. Bukannya tidak tahu akan risikonya, apa yang diinginkan Wade hanyalah ingin berkumpul dengan anak yang paling ia sayangi. Pihak karantina pun memberikan opsi untuk tetap membiarkan Maggie dikarantina atau Wade melakukan tindakan pencegahan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.  

Sesuai judulnya, film ini lebih menekankan pada masa-masa Maggie ketika tubuhnya digerogoti oleh virus Necroambulist hingga sepenuhnya menjadi zombie. Rasanya takdir tidak bisa ditolak, ketika seorang manusia terkena gigitan zombie, maka hanya tinggal menghitung waktu untuk berubah. Seperti itu pulalah yang terjadi pada Maggie. Para pecinta film-film zombie tentu akan tahu bahwa apa yang menimpa Maggie tentu sudah dapat ditebak apa yang akan terjadi di akhir. Tapi konflik yang coba diangkat di film ini adalah rasa kepercayaan Wade pada anaknya sekalipun tahu risiko apa yang akan dihadapi selanjutnya. Karena ia tahu, maka yang ia inginkan adalah menikmati saat-saat terakhir kebersamaan mereka. Pada poin ini, suasana depresif semakin terasa begitu kuat apalagi dipadu dengan tone yang begitu gelapnya. 

Bagi Anda pecinta film zombie yang mainstream, jangan harap akan ada banyak sekali adegan yang menampilkan para zombie yang saling kejar-kejaran mencari mangsa. Memang sempat ada momen yang menampilkannya, tapi dengan porsi yang sangat sedikit sekali. Itupun dengan jumlah zombie yang hanya bisa dihitung dengan jari. Unsur mencekam yang dibangun di sepanjang film ini bukanlah lewat serangan para zombie yang datang tiba-tiba, melainkan penantian dari fase perubahan Maggie menuju ke wujud final-nya. Mencekam dan juga depresif, keduanya menyatu seirama dengan tempo yang cukup lambat pula. Henry Hobson lewat karya debutnya ini mengajak penonton untuk mengikuti keseharian Maggie sebelum masa terakhirnya menjadi manusia. Berbagai rasa seperti sedih, takut, dan benci coba ia campurkan menjadi satu pada momen-momen yang menyesakkan itu. Apalagi melihat pelukan terakhir untuk Maggie dari sahabatnya, Allie (Raeden Greer) benar-benar membuat heart touching di sini.

Salah satu faktor yang begitu kuat membangun suasana dalam film ini adalah akting Schwarzenegger yang sangat bagus dalam memerankan seorang ayah yang sabar dan bijak. Cukup mengagetkan, karena dia berhasil membawakan peran family man dengan baik dan mampu lepas dari peran-peran ikoniknya yang badass. Melihat karakter Wade yang dimainkannya sebagai sosok yang tegar, berhasil membuat saya bersimpati. Sayangnya, akting yang bagus dari Schwarzenegger ternyata tidak mampu diimbangi dengan baik oleh Breslin, sehingga simpati saya hanya jatuh pada sosok ayah ini daripada Maggie yang terkena gigitan zombie. Rasanya memang cukup sulit untuk mempercayai bahwa aktor Terminator ini bisa begitu menghayatinya perannya. Dibanding berakting dengan banyak dialog, Schwarzenegger di sini justru banyak bermain dengan ekspresi dan ia berhasil dengan baik. Sedangkan untuk Breslin, ia tetap berakting dengan bagus, hanya saja Schwarzenegger lebih mendominasi.

Dengan kemasan yang lebih dramatis dari film zombie lainnya, akankah membuat “Maggie” layak disebut memiliki konsep baru?. Saya dengan tegas menjawab “tidak!”. “Maggie” masih tetap old fashioned layaknya film zombie lainnya yang sudah menjamur. Tidak ada yang baru di sini. Apa yang menimpa Maggie hanyalah efek dramatisir hasil olahan Henry Hobson yang sebenarnya juga ada di film zombie lainnya,  hanya saja memang terlihat sekilas dan tidak begitu difokuskan. Coba Anda lihat di film zombie lainnya, tentu selalu ada momen yang menampilkan karakter yang tidak tega untuk menghabisi orang terdekatnya yang telah berubah jadi zombie. Hobson masih tetap mengulangi hal yang sama, hanya saja memang dibuat lebih dramatisir dengan tujuan mungkin untuk menarik segmen yang lebih luas lagi.

Dengan unsur cerita yang sekedar repetitif meski banyak otak-atik di sana sini, tidak lantas membuat “Maggie” menjadi film yang buruk. Setidaknya terselamatkan dengan akting Schwarzenegger yang outstanding dan atmosfir kelam yang tidak biasa di film zombie yang mainstream. Sesuai dengan apa yang saya tuliskan di paragraf pertama, memang sangat sulit untuk menciptakan sebuah film zombie yang benar-benar berbeda, di saat pakemnya sudah begitu mendarah daging. Sedikit saja keluar dari jalurnya, bisa berakibat fatal.   
6 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !