Senin, 06 Juli 2015

THE AGE OF ADALINE [2015]

Kisah seorang manusia yang tidak mengalami penuaan pernah saya tonton dalam film yang dibintangi Chloë Moretz, Let Me In (2010). Karakter dalam komik Marvel, Wolverine, juga mengalami hal yang sama. Tapi, penceritaan drama romansa Age of Adaline ini tentu tidak bisa disamakan dengan film superhero tersebut. Konsepnya sama, manusia yang tidak bisa menua, kemudian terjebak cinta dengan sosok yang sangat jauh lebih muda. Terdengar klise ?. Boleh saja jika berfikir seperti demikian, tapi Age of Adaline tidak lantas dikemas dengan cheesy. Meski fiksi ilmiahnya (atau fantasi, mungkin) terasa lemah, lika-liku kisah romansanya lah yang menjadi kekuatannya.

Adaline Bowman (Blake Lively) yang lahir di tahun 1908, awalnya adalah wanita normal, menikah, dan memiliki anak. Suatu ketika di usianya yang menginjak 29 tahun, ia mengalami kecelakaan dan diikuti peristiwa misterius yang akhirnya membuat perkembangan fisiknya terhenti alias tidak mengalami penuaan. Kondisi yang dialaminya menjadikan ia dikejar-kejar oleh pihak FBI dan keberadaannya pun terancam. 

Adaline lalu bersumpah untuk terus berpindah-pindah tempat dan mengubah nama serta penampilannya setiap 10 tahun. Putri semata wayangnya yang ia tinggal, Flemming (Ellen Burstyn) terus menua, tapi Adaline tetap menyempatkan diri untuk saling bertemu. Sejak saat itu, sudah dua kali Adaline menjalin hubungan cinta, ketika di tahun 60-an meski akhirnya kandas, dan di tahun 2014 dengan seorang pria yang usianya sangat jauh di bawahnya, Ellis Jones (Michiel Huisman). 

Premisnya sangat standard, sesuai dengan tagline yang tertulis di posternya. The Age of Adaline lebih seperti dongeng-dongeng yang jamak kita dengar sejak kecil, daripada drama romansa yang penuh eksplorasi dari karakter maupun alur ceritanya. Penjelasan gamblang bagaimana Adaline memiliki anti-aging melalui narator terasa seperti disaster sci-fi daripada menyimpan misteri rapat-rapat tak terjawab seperti yang ada di 17 Again (2009), yang secara presentasi lebih bagus menurut saya. Bagian yang sudah muncul sejak menit-menit awal itu cukup untuk mengurangi atensi saya demi menginginkan drama yang lebih ‘dalam’ dan menyentuh. Tapi setelah kemudian film berjalan makin ke tengah, sosok pria yang sudah disiapkan sebagai penakluk hati Adaline muncul, ada harapan baru untuk terus mengikutinya, meskipun masih banyak sekali kekurangan berupa alur yang mudah tertebak hingga menit akhir. Konflik batin yang dialami Adaline karena mencintai pria yang sangat jauh lebih muda darinya sebagai bagian dari lika-liku romansanya, lumayan menutupi kekurangan tersebut.

Sesuai sumpahnya, Adaline terus berlari. Tidak hanya berlari dari keberadaan saja, melainkan juga dari perasaannya pada pria yang selalu ingin menemani dalam kesepiannya. Penolakan-penolakan kecil dari Adaline sangat kentara ketika para pria mencoba mendekatinya, tidak terkecuali pada Ellis. Pengalaman kandasnya cinta dengan pria di tahun 60-an yang sengaja ia tinggalkan, merupakan alasan utama untuk tidak menyakiti pria-pria lain yang mungkin ingin merajut cinta bersamanya. Bisa ditebak, Ellis lah pria yang akhirnya menjadi pelabuhan hati berikutnya. Tentunya, bukan hal mudah bagi Ellis untuk menaklukkan hati seorang nenek berusia lebih dari seratus tahun ini.

Blake Lively berakting bagus sekali dalam menghidupkan karakter Adaline yang sangat dewasa dengan berbagai pengalaman yang ia dapatkan serta berwawasan luas, meski terjebak dalam tubuh mudanya. Dari sini, penonton bisa memahami bagaimana sosok Adaline yang mungkin oleh banyak orang membuat iri karena anti-aging-nya, ternyata adalah seorang wanita kesepian yang harus jauh dari anak dan perasaan bersalahnya karena terus lari dan membohongi orang-orang baik di sekitarnya. Tidak sejalan dengan Adaline, sosok Ellis di sini justru dibuat dengan sangat standard sekali dan tidak ada yang spesial darinya. Tanpa memberikan sosok kompetitor, penonton sudah dapat menebak bahwa siapa lagi kalau bukan Ellis yang akan mendapatkan Adaline.  

Kemunculan aktor kawakan Harrison Ford di sini juga cukup untuk memberikan kesegaran dengan melihatnya memainkan karakter yang sangat jauh berbeda dengan karakter ikonik yang selama ini telah menempel padanya. Alih-alih memberikan twist mengejutkan, kemunculan Harrison Ford di sini justru begitu mudahnya tertebak sebelum alur menjelaskan siapa dirinya. Lagi-lagi, bagian predictable tersebut secara sekilas kembali menurunkan atensi saya untuk berharap hal yang lebih memuaskan lagi berikutnya. Akting Harrison Ford di sini memang sangat bagus dan karismatik sebagai pria tua yang pernah tersakiti di masa mudanya, tapi juga sempat kendor di salah satu momennya. 

The Age of Adaline memiliki kelebihan berupa interaksi antar karakternya yang sanggup untuk mengaduk-aduk emosi para penontonnya, mulai dari cinta, rindu, hingga kekecewaan. Tanpa menggurui, dari kisah yang dialami oleh Adaline, dapat diambil pesan bahwa tiadalah yang lebih indah daripada terus bersama dengan seseorang yang dicintai hingga menuanya usia. Setidaknya, itulah yang merupakan pegangan yang selalu digunakan oleh Adaline, meski alasan itu pulalah yang terus membuatnya menjauhi pria-pria yang mencoba mendekatinya. Bukanlah film yang buruk dengan segala kekurangannya. Tapi daripada disebut sebagai drama romansa untuk kalangan remaja - dewasa, The Age of Adaline sepertinya lebih cocok sebagai fairytale untuk anak-anak.
ATAU
6,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !