Rabu, 08 Juli 2015

LIKE FATHER LIKE SON [2013]


Sutradara kenamaan asal Jepang, Hirokazu Koreeda, memiliki ciri khas yang kuat dengan karya yang family oriented, termasuk dengan poster film rilisannya. Karya sebelumnya yang pernah saya tonton, Still Walking (2008), cukup menjadikan pembuktian bahwa Koreeda banyak mengangkat dilema yang terjadi dalam lingkungan keluarga dan tidak lupa turut menekankan karakterisasi yang kuat di dalamnya. Like Father Like Son memiliki konsep cerita yang sangat mungkin membuat Anda mengernyitkan dahi, yaitu tentang seorang anak yang tertukar. Anda mungkin sangat familiar dengan cerita seperti ini. Tapi, di tangan Koreeda, film ini dikemas dengan sangat baik dan konflik yang hadir dieksplorasi lebih dalam lagi.

Seorang pebisnis sukses dan workaholic, Ryota Nonomiya (Masaharu Furuyama), hanya sedikit meluangkan waktunya untuk istri, Midori (Machiko Ono), dan putera tunggalnya, Keita (Keita Nonomiya, nama asli) yang masih berumur 6 tahun. Pada suatu hari, Ryota dan Midori mendapatkan telepon dari rumah sakit tempat lahirnya Keita. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa anak mereka tertukar dengan anak dari keluarga Saiki yang bernama Ryuusei (Shōgen Hwang). Kedua orangtuanya, Yudai (Lily Franky) dan Yukari (Yōko Maki) setuju untuk bertemu dan membahas masalah tersebut. Kemudian, pihak rumah sakit menyarankan untuk segera melakukan pertukaran anak.
Konsep cerita tentang anak tertukar memang sudah basi. Tapi jika anak yang tertukar sudah dibesarkan selama bertahun-tahun oleh keluarganya lalu tiba-tiba diminta untuk ditukar, tentunya akan menimbulkan konflik baru yang tidak bisa dianggap enteng. Konflik itulah yang diangkat oleh Koreeda dan menjadikan film ini semakin menarik untuk diikuti. Sebagai penonton, tentu dapat merasakan segala kegundahan yang dialami oleh keluarga Nonomiya dan Saiki, menukarkan anak yang sudah mereka rawat dan dicintai selama bertahun-tahun. Tapi dalam benak yang lebih dalam lagi, tentunya terbesit pertanyaan bahwa, “siapakah yang tidak ingin bertemu dengan anak kandung sendiri ?”. Segala pertanyaan yang sangat tidak mudah dijawab itu membuat dua keluarga ini harus mengenal lebih jauh lagi, termasuk latar belakang masing-masingnya. Baik pihak Nonomiya maupun Saiki, keduanya juga ingin lebih dekat lagi dengan anak kandung yang bahkan telah 6 tahun tidak mereka temui.

Seperti yang saya tulis di paragraf pertama, Koreeda selalu menekankan karakterisasi yang kuat dari setiap film yang dibuatnya. Film ini lebih menyoroti sosok Ryota yang mungkin sedari awal, terlihat sebagai orang tua yang cukup memiliki ‘jarak’ dengan anaknya, jika dibandingkan dengan Midori, Yudai, ataupun Yukari. Semua itu tidak lain dikarenakan Ryota yang sangat sibuk bekerja sehingga sedikit meluangkan waktu untuk keluarganya. Ryota digambarkan sebagai sosok yang kompetitif dan tidak mau kalah / gagal dalam banyak hal. Pola pikir Ryota ini sedikit demi sedikit ia tanamkan pada Keita, meskipun sepertinya ia terlihat kurang mampu untuk mengimbangi. Pribadi Ryota yang selalu mengharapkan kemenangan dan membenci sifat pecundang ini sangat mirip sekali dengan sosok ayah dalam drama family, Little Miss Sunshine (2006). 

“Like Father Like Son”, memang mengacu pada sosok Ryota yang sangat mengharapkan seorang anak yang mampu menurunkan sifat-sifatnya, meski Keita tidak sanggup untuk melakukannya. Sebaliknya, sosok Keita yang tenang dan suka mengalah (sifat yang dibenci Ryota), justru sangat mirip dengan ayah kandungnya, Yudai, yang terlihat plin-plan dan tidak tegas. Dua keluarga inipun memang memiliki latar belakang yang berbeda jauh, Ryota adalah pebisnis sukses, sedangkan Yudai hanyalah pemilik toko kelontong kecil. 

Karakterisasi unik lainnya juga coba untuk ditekankan oleh Koreeda, dimana Midori yang terlihat pendiam dan kalem, justru berseberangan dingin Yukari yang tegas dan berpendirian kuat. Selain itu, Ryota yang awalnya terlihat seperti paling kaku sendiri dalam pendekatan dengan keluarga, di luar dugaan ia memiliki keputusan yang kuat untuk mengangkat Keita dan Ryusei sebagai anaknya. Sosok seorang ayah yang begitu kuat itu akhirnya muncul dari kekakuan yang selama ini menutupinya. Tentunya dengan alasan bahwa ia tidak bisa meninggalkan Keita yang sudah ia rawat selama 6 tahun, di samping Ryusei yang merupakan anak biologisnya. Tapi rupanya, keluarga Saiki menolak keras keputusan Ryota tersebut.

Di pertengahan film, saya sempat bertanya-tanya tentang bagaimana Koreeda mengemas adegan klimaksnya. Saya awalnya berfikir bahwa film ini berpotensi memiliki dua ending pilihan, meski salah satunya ada konsekuensi dengan menghakimi Ryota sebagai sosok yang kurang berperasaan. Tapi semakin berjalan, saya mulai tahu bagaimana Koreeda akan menyelesaikannya. Kunci dari film ini terletak pada sosok Ryota dan Keita yang merupakan bagian dari judul, tentunya sudah mampu menjawab bagaimana film ini akan berakhir. Meskipun cukup mudah tertebak, tapi tetap Koreeda mampu memberikan suguhan yang luar biasa dari segi kedalaman cerita, tanpa perlu banyak membuat penonton berfikir bagaimana film ini akan berakhir. Nyata sudah kehebatan seorang sutradara besar Koreeda Hirokazu yang mampu mengolah konsep cerita usang menjadi sajian bittersweet yang sangat heart touching.     

8 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !