Minggu, 12 Juli 2015

STUNG [2015]

Apa yang ada dalam pikiran Anda ketika mendengar film kelas B yang bertemakan hewan hasil mutasi serta pemangsa manusia ?. Cerita yang konyol dan akting kacangan, mungkin menjadi salah satu jawabannya. Tapi jangan salah, di balik film tipikal seperti itu, ada semacam guilty pleasure  di dalamnya. Kelucuan demi kelucuan tidak sedikit hadir dari tingkah bodoh karakter di dalamnya yang mampu mengundang tawa renyah. Apalagi dipadu practical effect yang mengagumkan dan tampak nyata jika dibanding dengan CGI, meski terkadang memunculkan perasaan jijik bagi yang tidak terbiasa menontonnya. Sesuai judulnya yang berarti ‘tersengat”, film ini bercerita tentang serangan tawon hasil mutasi yang memangsa banyak manusia.

Julia (Jessica Cook) adalah gadis mandiri dengan usaha katering bersama Paul (Matt O’Leary) yang seorang bartender. Diam-diam Paul menyukai Julia. Tapi Julia menganggapnya tidak lebih hanyalah rekan bisnis dan pribadi yang cukup menyebalkan. Itulah alasan mengapa Julia selalu bersikap ketus pada Paul. Suatu hari, seorang nyonya kaya bernama Perch (Eve Slatner) akan mengadakan pesta dan menggunakan jasa katering milik Julia untuk mempersiapkan segala hidangan. Pesta yang awalnya tenang-tenang saja, seketika berubah kacau dengan kemunculan ribuan tawon dari dalam tanah. Setiap manusia yang tersengat, akan mengeluarkan tawon lagi dari dalam tubuhnya dengan ukuran yang lebih jumbo.
Ini adalah horror dengan nuansa gore, lalu mengapa saya perlu menuliskan perasaan hati salah satu karakternya ?. Ini tidak lain karena unsur romance juga sedikit disinggung di sini. Tapi itu tidak berarti membuat Stung akan menjadi film horror gore dengan kisah cinta yang dramatis. Romance di sini tentu saja sangat cheesy dan luar biasa mudahnya untuk ditebak. Paul yang awalnya tidak mendapatkan atensi sama sekali oleh Julia, tentu sudah dapat dibaca kemana arah selanjutnya hubungan mereka. Mari kita lupakan sejenak kisah kasih mereka berdua, dan menuju bagian pokok dari film arahan Benni Diez ini. Sebelum kita diperkenalkan dengan sosok Paul dan Julia, pada bagian awal diperlihatkan bagaimana seekor lebah yang tersengat tawon, kemudian dari tubuhnya keluarlah wujud tawon yang baru lagi. Singkatnya, tawon super ini tidak sekedar menginfeksi, melainkan menciptakan kehidupan baru dari tubuh inang yang tersengat. 

Apa yang membuat saya cukup menyukai konsep tawon beracun ini adalah efek yang dihasilkannya tidak berupa perubahan bentuk tubuh seperti zombi, melainkan mengeluarkan wujud baru (tawon) dari tubuh yang terkena sengatan. Dengan begitu, practical effect yang menampilkan tubuh manusia robek dan terbelah akan dimunculkan di sini. Tapi amat sangat disayangkan, bagian terbaik dari horror gore yang sangat saya sukai ini mengapa justru kurang banyak mendapat jatah untuuk ditampilkan. Kekacauan pesta ketika para tamu yang tubuhnya robek-robek, memang sangat seru dan menegangkan, tapi alangkah baiknya jika porsinya lebih diperbanyak pada menit-menit berikutnya. Tapi dapat dimaklumi, mengingat Stung sendiri juga mengambil set lokasi yang lebih sempit dan jumlah survivor yang sedikit pula, tentunya akan banyak memangkas adegan gore­-nya. Jika range-nya bisa diperluas seperti dalam perkotaan, saya yakin Stung bisa lebih ‘gila’ lagi.

Bolehlah untuk bagian practial effect-nya, tapi tetap saja kebodohan para karakternya tidak boleh terlupakan untuk dihadirkan. Mau bagaimana lagi, karena hanya lewat ‘kebodohan’ para karakternya inilah kelucuan-kelucuan dapat tercipta. Seperti yang terjadi pada walikota Caruthers (Lance Henriksen) yang sempat sempatnya memikirkan pemilihannya sebagai walikota periode kedua, meski dalam keadaan dikejar-kejar tawon seukuran kerbau. Atau Sydney (Clifton Collins Jr.) yang nerd, malah berdebat soal apakah yang mengejar mereka itu lebah (bee) atau tawon (wasp). Beberapa kali lelucon bodoh yang ditampilkan ini memang sempat membuat saya tertawa geli. Menyenangkan memang, karena tidak perlu pusing untuk memikirkan kualitas filmnya yang memang jauh di bawah rata-rata. Tapi kembali lagi, sangat disayangkan ketika Benni Diez kurang memberikan porsi yang lebih banyak bagi karakter-karakter bodoh ini. Sangat terasa sekali ia membuatnya dengan tergesa-gesa untuk segera mengakhirinya melalui cara pembunuhan terhadap para karakter yang terlalu cepat.  

Diez memang tergesa-gesa untuk mengeksekusinya, tapi dia juga punya ‘senjata’ yang ia simpan di bagian menit-menit menjelang ending. Melalui penculikan Paul oleh ratu tawon yang akan menjadikannya suami, Diez berhasil mempermainkan saya selaku penonton, untuk berfikir bahwa film telah berakhir. Nyatanya tidak. Aksi kejar-kejaran dengan tawon masih terus berlangsung dan cukup seru. Sebagai film yang guilty pleasure, Stung memang cukup memuaskan saya dengan adegan darah-darah dan potongan tubuh manusianya. Tapi saya tetap tidak bisa menolak untuk mengatakan bahwa potensi untuk menjadi lebih ‘gila’ tidak dapat dimanfaatkan oleh sang sutradara dengan baik. Akibatnya, Stung jadi terasa hambar di beberapa momennya. Tapi jika mencari sajian yang tidak perlu memeras otak banyak, Stung boleh jadi salah satu alternatif utama bagi Anda.  
4 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !