Selasa, 14 Juli 2015

SPRING [2014]

Sebenarnya cukup sulit menuliskan ulasan tentang film ini. Kesulitannya terletak pada bagaimana saya harus menyajikannya dengan informatif dan menarik, atau tanpa saya sadari justru menyerempet ke arah spoiler yang tentunya akan merusak keindahan dari film ini sendiri. Film garapan Justin Benson dan Aaron Moorhead ini memiliki multiple genre yang dikemas dengan begitu rapi dan unik. Ya, sangat unik. Di saat Anda telah hanyut pada salah satu genre yang terasa, film ini langsung saja menarik Anda dengan keras untuk merasakan genre  yang lain pula. Tiap genre yang ada, tidak dibuat hanya sekedar tempelan semata, melainkan dibangun dengan kuat sehingga atmosfir dari masing-masing genre terasa pekat. Tapi tetap hanya satu genre saja yang menjadi pondasi paling kuat dari kesemuanya.

Setelah berduka dengan kematian ibunya, Evan (Lou Taylor Pucci) juga dipecat dari tempatnya bekerja karena telah memukul seseorang hingga babak belur. Ayahnya juga baru saja meninggal tidak beberapa lama sebelum ibunya menyusul. Tidak punya sanak keluarga dan dikejar-kejar oleh polisi akibat ulahnya, ia dengan nekat pergi ke Itali. Di sana, ia bertemu dengan dua pria yang asyik, Tommy (Jeremy Gardner) dan sam (Jonathan Silvestri). Dengan cepatnya mereka akrab dan berencana untuk mengadakan perjalanan dengan mobil. Tidak berapa lama, Evan juga berkenalan dengan seorang gadis misterius bernama Louise (Nadia Hilker) dan merasa tertarik, sebelum kemudian ia bekerja pada petani jeruk, Angelo (Francesco Carnelutti). 

Kira-kira genre apa yang dapat Anda tangkap dari sinopsis yang saya tulis di atas ?. Seseorang yang merasa sedih karena ditinggal pergi selama-lamanya, sungguh terasa drama­-nya. Lalu bagaimana ketika si karakter utama, Evan, pergi ke Italia dan mengikuti Tommy dan Sam dalam sebuah perjalanan dengan mobil ?. Unsur adventure road sangat terasa di sini dengan sesekali diselingi comedy kocak dari Tommy. Kemudian, unsur romance-nya menguat saat Evan mulai menjalin hubungan dengan Louise yang misterius. Unsur romance inilah sebenarnya yang memegang peranan paling besar di film ini. Apakah sudah itu semua genre yang muncul dalam film ini ?. Tidak. Masih ada dua genre lagi yang saya rasakan selama menonton film ini, dan jangan kaget dengan salah satunya. Yaitu science fiction dan horror yang khas David Cronenberg, atau lebih rincinya disebut body horror.   

Rentetan adegan demi adegan berjalan dengan begitu cepat, ditambah iringan musik dan skoring yang memberikan feel berbeda-beda. Ada saat di mana musiknya bermain dengan begitu lembut dan  menyentuh, tiba-tiba berhenti mendadak dan penonton harus mendengar lelucon ala Tommy. Ada pula ketika keintiman antara Evan dan Louise dipertontonkan, mendadak terasa skoring seperti di film-film horror. Duo sutradara ini berhasil membangun nuansa yang terasa menarik lewat musik dan interaksi antar karakternya. Unsur romance yang mengambil kendali paling utama di sini juga dihadirkan dengan begitu manis dan romantis. Karakter Evan dan Louise sungguh begitu menghidupkan suasana romantis lewat obrolan-obrolan kecil nan sederhana. Semakin menarik lagi ketika mereka tidak perlu menunjukkan sikap berlebihan berupa pujian satu sama lainnya, yang ada justru ejekan kecil yang menambah kehangatan.

Efek dari romance yang memiliki jatah paling banyak di sini tentunya adalah karakterisasi dari main character-nya. Evan adalah sosok yang baik, jujur, serius, dan mudah mengambil atensi. Sedangkan Louise begitu menarik, unik, dan misterius. Cinta mereka berdua bukanlah sekedar cinta satu malam, melainkan ada chemistry yang begitu kuat di antaranya yang memberikan asumsi bahwa hubungan mereka akan bertahan begitu lama. Pada titik ini, bagian romance-nya telah mengakar kuat dalam perasaan saya dan sesegera mungkin melupakan si lucu Tommy. Ya, saya sempat sedikit kecewa mengapa karakter Tommy dan Sam ini dibuat ‘pulang’ dengan begitu cepatnya. Padahal jika dieksplor lebih dalam, tentunya sosok yang kocak ini dapat menghidupkan suasana yang menyegarkan. Jadi tidak terus menerus dicekoki romantisme Evan dan Louise, meskipun keduanya tetap bagus. Sebagai gantinya, sesekali hubungan Evan dan Angelo sebagai majikan dan pekerja yang begitu akrab juga dimunculkan, serta cukup membantu memperbaiki mood bila sewaktu-waktu turun.       

Setelah membaca ulasan dari saya sebanyak tiga paragraf, pasti muncul pertanyaan di benak Anda, “mana science fiction dan body horror-nya?”. Baik, saya akan tuliskan secara singkat di paragraf terakhir ini. Kembali ke cerita, dengan semakin dekatnya Evan dan Louise, maka satu persatu rahasia dari mereka juga semakin terbongkar. Tentu saja, rahasia Louise yang paling misterius, karena memang sedari awal ia memiliki aura tersebut. Singkatnya, hubungan Evan dan Louise merupakan hubungan yang tidak biasa antara manusia biasa dengan “makhluk” jenis lain. Pikiran Anda tentu akan tertuju pada Louise dan menghubungkannya dengan body horror yang dapat membuat efek disgusting. Sepertiga menjelang akhir, banyak penjelasan scientific dilontarkan untuk mendiskripsikan tentang Louise. Sempat menurunkan atensi saya di bagian tersebut memang, tapi kisah romansa mereka berdua ini tetap mengikat dan menarik. 

Saya tidak ingin menjelaskan lebih rinci lagi karena mungkin berpotensi menghancurkan keseluruhan ceritanya. Tapi overall, film yang menggunakan judul sesuai dengan settingnya ini dapat menyajikan rasa baru bagi film bertemakan cinta dua makhluk berbeda. Setelah kemarin ada A Girl Walks Home Alone at Night (2014) yang sangat bagus, saya rasa tidak ada salahnya Anda juga menikmati Spring ini.
7,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !