Jumat, 15 Januari 2016

45 YEARS [2015]

Menyebut “45 Years” atau “Amour” (2012) mungkin lebih tepat dengan sebutan “romansa senior”. Atau mungkin “pernikahan senior” ? Salah satunya bisa dipilih. “45 Years” bercerita tentang pasangan yang telah menikah sesuai dengan judulnya; menikmati hari-hari dengan bahagia. Apa lagi yang ingin dicari ?, selain kedamaian dan ketenangan berdua akan arti dari ‘pernikahan emas’. Pada mereka-mereka yang telah menyentuh usia pernikahan hampir setengah abad, pastinya aneka badai sudah pernah diterjang. Artinya pendewasaan dalam menghadapi segala masalah dalam pernikahan dapat diselesaikan dengan ‘dingin’. Singkat kata, pernikahan semacam ini dapat dikatakan bakal awet tanpa goyah.

Mereka yang terlibat dalam pernikahan langgeng itu adalah Geoff (Tom Courtenay) dan Kate (Charlotte Rampling). Keduanya akan melangsungkan pesta pernikahan mereka yang hampir menginjak usia 45 tahun. Geoff dan Kate hidup bahagia bersama dengan shepherd dog bernama Max. Siapa pun bisa saja berasumsi bahwa pernikahan lama antara Geoff dan Kate berjalan baik-baik saja. Namun sedikit menimbulkan tanya ketika keduanya hampir-hampir saja jarang terlihat bersama. Adegan di awal-awal film ketika Kate mengajak jalan-jalan Max seorang diri cukup memberikan alasan.

Seminggu sebelum pesta yang akan mereka rayakan di hari Sabtu, Geoff mendapatkan sebuah surat dari Swiss. Surat tersebut menjelaskan bahwa kekasih Geoff, Katya, yang telah menghilang 50 tahun lalu ditemukan. Tubuhnya ditemukan dalam celah pegunungan Alpine sewaktu mereka berdua mendaki bersama. Dikatakan dalam surat bahwa tubuhnya tetap terawetkan dalam es meski puluhan tahun lamanya. 

Metafora a ghost from the past menghinggapi Geoff. Ada keinginan besar baginya untuk pergi ke Swiss demi melihat pujaan hatinya dahulu. Kate tahu keadaan Geoff. Ia tentu melarangnya pergi jauh apalagi sampai harus mendaki tempat yang tinggi. Dari sini, mungkin premis “45 Years” akan terdengar silly macam Captain America yang tetap muda dalam kuburan es. Tapi saya janjikan kepada Anda, bahwa tidak akan ada kemunculan “hantu masa lalu” dengan wujud gadis muda berusia senja layaknya Adaline.

Sejak tiba surat tersebut, Kate menyadari ada gelagat yang tidak biasa pada Geoff. Ia lebih sering membaca buku “Kierkegaard” daripada harus menghabiskan waktu bersama Kate. Waktu satu minggu (dalam film dibuat countdown) sebelum pesta pun tidak diisi dengan agenda soal pesta tersebut. Terlihat sekali bahwa Kate harus sendirian mengurusi segala persiapan pesta yang sangat penting bagi mereka. Di saat itu pula, kebiasaan lama Geoff menghisap rokok muncul kembali. Bahkan pernah Kate mendapatinya duduk sendiri termenung di bangku sambil merokok. Mungkinkah sosok Katya hidup kembali dan membayangi pernikahan mereka ?

Usia pernikahan memang boleh tua; tapi itu tidak lantas membuatnya jaya bila tidak ada komitmen yang mengikatnya. Saya mungkin tidak pantas mengatakan ini karena belum menikah. Tapi dengan melihat beberapa sampel, saya rasa komunikasi adalah sarana paling vital dalam melanggengkan pernikahan. Dengan berkomunikasi, keluh kesah yang selama ini terpendam dapat dipikul bersama demi meringankan beban. Komitmen untuk jujur dan terbuka harus dipegang kuat. Sebaliknya bila salah satu atau keduanya menyimpan rapat rahasia, perasaan tidak saling percaya akan tercipta. Pernikahan dengan angan-angan indah sampai mati pun akhirnya tinggal harapan.

Pada adegan terakhir saat Geoff dan Kate berdansa, lagu berjudul “Smoke Gets in Your Eyes” dari The Platters berkumandang. Lagu tersebut sengaja Kate pilih demi mengenang pernikahan mereka dahulu dengan lagu yang sama. Saya mengambil ponsel, membuka mesin pencari “Google”, kemudian mencari tahu isi lirik dalam lagu tersebut. Mengejutkan—lagu itu tepat menggambarkan isi hati Kate selama seminggu ini. Silakan Anda mencari tahu sendiri liriknya, sebab saya tidak bisa menuliskannya dalam ulasan ini. 

Bukan dalam adegan final saja lagu “Smoke Gets in Your Eyes” berpengaruh pada karakter dalam film ini. Saat adegan pertengahan, dimana Geoff dan Kate tengah berhubungan badan, Kate meminta Geoff untuk membuka matanya. Ada makna tersirat pada bagian ini. Jika menyinkronkan dengan lagu, permintaan Kate tersebut adalah keinginannya agar Geoff kembali menatapnya sebagai sesorang yang dicintai. Namun ketika cinta hilang, mata pun terbutakan. Seperti halnya api yang padam, asapnya memaksa mata untuk menutupnya. Mungkinkah cinta Geoff sudah tiada bagi Kate ? Yang pasti, cara pandang Kate soal pernikahan telah berubah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !