Kamis, 21 Januari 2016

STEVE JOBS [2015]

Selama menonton “Steve Jobs,” saya menyadari tengah menonton biopic seorang revolusioner di era modern ini. Steve Jobs—image-nya tidak bisa lepas dari Apple, Pixar, dan aneka produk mutakhir yang melebihi masanya. Sembari menyaksikan biopic Steve Jobs ini; seperti kebiasaan, saya membuat catatan kecil ulasan di Ms. Word dalam Windows 7. Saya tertawa.

Film “Steve Jobs” ini rilis di tahun yang sama dengan film dokumenternya yang berjudul “Steve Jobs : The Man in The Machine,” yang disutradarai oleh Alex Gibney. Saya belum menontonnya, hanya saja perilisan di tahun yang sama ini cukup mengagetkan. Untuk “Steve Jobs”yang saya tonton ini, disutradarai oleh Danny Boyle yang Anda kenal lewat “28 Days Later” (2002), “Slumdog Millionaire” (2008), dan “127 Hours” (2010). Naskahnya ditulis oleh Aaron Sorkin (“The Social Network, “ 2010 dan “Moneyball, “ 2011), hasil adaptasi dari buku berjudul sama karya Walter Isaacson.
Fokus utama plot film ini seputar peluncuran perdana Macintosh dan kegagalannya, keluarnya Jobs dari Apple, hingga kemudian mendirikan NeXT Inc. Di sela-selanya turut pula diceritakan hubungan Jobs dengan mantan kekasihnya yang kurang harmonis, Chrisann Brennan serta putrinya yang tidak diakui, Lisa. Film dimulai pada tahun 1984 saat voice demo dari Apple Macintosh gagal di detik-detik sebelum peluncurannya. Andy Hertzfeld (Michael Stuhlbarg) adalah insinyur yang bertanggung jawab di bagian tersebut. Steve Jobs (Michael Fassbender) lantas mengancam akan ‘menghancurkan’ namanya di saat presentasi produk berlangsung. 

Ancaman itu berhasil membuat Hertzfeld memutar otak untuk mengakalinya dengan purwarupa dari “Macintosh 512K.” Presentasi pun sukses meski sebelumnya sang eksekutiv pemasaran, Joanna Hoffman (Kate Winslet) sempat melarangnya. Tidak hanya itu, detik-detik sebelum peluncuran produk itu pun juga diwarnai ‘reuni’ yang sedikit kurang menyenangkan bagi Jobs. Sahabatnya, Steve Wozniak (co-founder Apple bersama Jobs; diperankan oleh Seth Rogen) datang dan meminta Jobs untuk memberikan pengakuan untuk “Apple II” pada presentasinya. Jobs menolak keras. Kesepakatan ini pun berjalan dengan alot.

Di waktu yang bersamaan pula, mantan kekasih Jobs, Chrisann Brennan (Katherine Waterston) datang bersama anak hasil hubungan mereka, Lisa (Makenzie Moss). Kedatangan Brennan dengan harapan Jobs mau mengakui sebagai ayah dari Lisa dan memberikan tunjangan serta rumah. Sampai di sini, kita akan mendapati pemaparan soal karakteristik dari Steve Jobs yang keras, temperamen, dan idealis. Apakah dia orang yang jahat ? Tunggu sebentar dan Anda perlu bersabar, naskah dari Aaron Sorkin akan mengungkap sisi lain dari Steve Jobs yang mungkin tidak banyak orang ketahui.
Seperti dasar dari film yang diadaptasi dari kisah nyata berupa biopik, dokumenter, atau doku-drama; mengungkapkan hal yang masih misteri adalah poin utama dari kekuatannya. Dalam “Steve Jobs,” Anda tidak akan hanya sekedar tahu bahwa orang brilian ini yang menciptakan produk-produk canggih. Namun lebih dari itu, Anda akan turut pula menyelami apa yang selalu ada dalam pikirannya selain ide-ide revolusioner tersebut. Siapa Steve Jobs yang sesungguhnya dan apa yang melatar belakangi ia melakukan ini dan itu akan diungkap secara rinci oleh Danny Boyle. Akurat kah ? Saya tidak bisa bicara soal akurat atau tidaknya. Hanya saja, “Steve Jobs” telah melebihi ekspektasi saya sebagai biopik dengan kelebihan dari berbagai elemennya : performa, editing, hingga skoring musik. 

Bicara soal editing, Elliot Graham patut diapresiasi dengan editing-nya yang rapi dan berenerji itu. Selayaknya seorang Steve Jobs yang tidak pernah kehabisan gagasan cemerlang, suntikan editing dari Graham membuat film ini berjalan dengan dinamis. Mengetahui penyuntingan yang mengagumkan itu, saya mencoba mengecek daftar “Film Editing” untuk Oscar tahun ini. Sangat disayangkan, “Steve Jobs” harus di-snub dari daftar. Tidak masuknya “Steve Jobs” dalam daftar “Best Picture” sendiri sebenarnya juga cukup saya sesalkan. Meski pun mungkin tidak menjadi strong contender, setidaknya “Steve Jobs” bisa lebih menyemarakkan Oscar tahun ini.     

Bila sebelumnya publik melihat Steve Wozniak yang tidak bisa dipisahkan perannya dengan Steve Jobs, kini porsi sang eksekutiv pemasaran lah yang paling ditonjolkan. Sepanjang film ini, kontribusi dari Joanna Hoffman memang lebih banyak diekspos dari Steve Wozniak. Sebenarnya ini wajar saja, mengingat momentum yang diambil oleh Danny Boyle untuk “Steve Jobs” adalah pasca keluarnya Wozniak dari Apple. Diperankan dengan sangat bagus oleh Kate Winslet, Joanna Hoffman tidak hanya mengurusi kelancaran bisnis bagi Jobs. Lebih dari itu, Hoffman merupakan penasihat spiritualnya. Dengan lantang dan berani, Hoffman menceramahi Jobs untuk menjadi ayah yang baik bagi Lisa.

Steve Jobs diakui seorang jenius di bidang teknologi. Ia adalah otak dari mesin dalam peradaban ini. Namun di balik itu, ada kerapuhan di dalamnya. Ia memang sukses dengan karya-karya berawal huruf “i” di depannya sejak “iMac.” Tapi ia juga memiliki kegagalan layaknya manusia biasa pada umumnya. Singkatnya, “Steve Jobs” adalah upaya memanusiakan seorang Steve Jobs yang dikenal dunia. Ya, ia seorang manusia, bukan mesin.

1 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !