Jumat, 15 Januari 2016

BROOKLYN [2015]

Eilis Lacey, seorang gadis muda nan canggung asal Enniscorthy, Irlandia, menghabiskan waktunya bekerja di toko kecil milik Nn. Kelly (Brid Brennan). Diperankan oleh Saoirse Ronan, Eilis adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya, Rose (Fiona Glascott) sangat menyayanginya. Mereka tinggal bertiga bersama sang ibu. Sejak lama, Eilis berkeinginan bekerja di pembukuan seperti layaknya Rose. Bukti rasa sayang Rose yang begitu besar, ia mengurus segala keperluan Eilis menuju Brooklyn, New York. Rose berharap Eilis memiliki pekerjaan bagus dan masa depan cerah di sana. Jelas sudah, “Brooklyn” bercerita tentang American Dream.

Berasal dari tempat yang jauh, Amerika tidaklah mudah bagi gadis seperti Eilis. Sosok ibu dan Rose tidak pernah hilang dari pikirannya. Home sick begitu pula dengan culture shock, mengawali mereka yang baru memulai hidup di tanah orang. Sesampai di Brooklyn, Eilis tinggal dalam asrama yang banyak dihuni warga asal Irlandia. Saya mencoba mencari sedikit referensi, Brooklyn memang banyak dipadati etnis asal Irlandia. Kenyataannya memang demikian, Brooklyn bisa dianggap rumah kedua bagi mereka.
Setelah menikmati beberapa menit, saya bertanya, “tentang apakah film ini ?” Seperti dalam film-film bertema American Dream lainnya; impian, cita-cita, masa depan, karir, banyak komponen tersebut ada dalam film ini. Semuanya diceritakan dalam sudut pandang seorang Eilis Lacey. Awalnya Eilis adalah sosok pemalu dan canggung. Pekerjaannya dalam department store menuntutnya menjadi pribadi yang lebih terbuka dan hangat pada setiap konsumen. Tidak selang berapa lama, muncul pria asal Itali yang menjadi love interest-nya. Dia adalah Tony Fiorello (Emory Cohen); tukang servis pipa.

Kedatangan Tony adalah ‘udara segar’ bagi Eilis. Kekakuan lidahnya saat melayani konsumen berangsur menjadi lunak. Saya berpendapat, jatuh cinta mampu mengubah mereka yang mengidapnya menjadi seseorang yang berbeda. Awalnya saya berpendapat bahwa Eilis adalah sosok tertutup. Kemudian saya menyadari bahwa Eilis sebenarnya menunggu seseorang yang tepat untuk memulai bercerita. Di salah satu adegan dalam restoran, Eilis nampak bercerita panjang lebar dengan Tony dan lupa memakan hidangannya. Eilis secara penuh membuka identitas sesungguhnya.

Apa yang selalu saya sukai dalam setiap period drama adalah melihat kembali segala pernak-pernik lama yang kini mulai jarang terlihat. Desain produksi hingga kostum adalah bagian-bagian penting yang menunjang nilainya. “Brooklyn” sebagai film well-made disempurnakan dengan pembangunan setingnya yang mengagumkan berikut kostum ala vintage sederhana tapi mewah. Berseting tahun berapakah “Brooklyn ?” Jika jeli, Anda akan mendapati poster film “Singing in The Rain” di salah satu adegannya. Buka imdb.com, dan Anda akan tahu jika “Singing in The Rain” rilis tahun 1952. Ya, “Brooklyn” bersetingkan tahun 1952. 

“Brooklyn” disutradarai oleh John Crowley. Naskahnya ditulis oleh Nick Hornby hasil adaptasi novel berjudul sama karya Colm Tóibín. Saya cermati, “Brooklyn” menggunakan poin utama dalam cerita tentang kerinduan akan rumah dan hubungan romansa. Saya berusaha untuk memisahkan poin tersebut menjadi dua bagian. Namun kemudian saya menyadari bahwa bagian romansanya bisa masuk dalam sub-plot tentang kerinduan kampung halaman. 

Secara menyeluruh, “Brooklyn” tidak menampilkan konflik berarti antara hubungan asmara antara Eilis dengan Tony. Mungkin terlalu lancar bagi sebagian besar penonton lainnya. Narasi lantas meminta Eilis pulang ke Irlandia dan mempertemukannya dengan Jim Farrell (Domnhall Gleeson). Ia anak keluarga kaya dan terpandang di daerah asal Eilis, Enniscorthy (sejauh yang saya ingat). Apa yang terjadi kemudian ? Cinta segitiga memuakkan timbul sebagai konflik baru ? Saya apresiasi bagaimana Nick Hornby menjauhkan hal tersebut. Setidaknya, lewat Ellis “Brooklyn” tidak berakhir terlalu klise.

Sekilas “Brooklyn” akan bercerita petualangan jatuh bangunnya seseorang di Brooklyn. Jika memang benar begitu, mengapa kehidupan Eilis selama di Brooklyn tidaklah menimbulkan permasalahan berat begitu pula kisah romansanya ? Lancar-lancar saja dan terkadang terasa sedikit dipaksakan. Saya akui Saoirse Ronan memberikan performa yang luar biasa. Namun apiknya performa tidak diimbangi oleh lawan mainnya, Emory Cohen. Akibatnya chemistry kurang tercipta dengan baik.

“Brooklyn” adalah film tentang Brooklyn. Film ini bercerita tentang rindu pada rumah. Bukan Irlandia, tetapi Brooklyn. Ceritanya sederhana, lurus tanpa tikungan tajam. Mengalir begitu saja seperti aliran sungai di bawah Jembatan Brooklyn. Walau lemah di bagian chemistry, “Brooklyn” menghadirkan karakterisasi berikut pengembangannya dengan menarik.  Dua jempol untuk akting Saoirse Ronan.

1 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !