Selasa, 19 Januari 2016

SPOTLIGHT [2015]

Pada 6 Januari 2002, publik digemparkan dengan headline dari Koran Boston Globe yang bertuliskan “Church allowed abuse by priest for years.” Berita tersebut ditulis oleh Michael Rezendez, salah satu anggota Tim Spotlight dari The Boston Globe. Pada saat itu, berita tersebut menjadi salah satu yang paling hangat diperbincangkan setelah insiden 9/11. Terhitung sejak hari itu, korban dari pelecehan seksual oleh para pendeta kemudian memberanikan diri membuka suara. Kasus hebat itulah yang menjadi materi pokok dalam film yang diarahkan dan ditulis oleh Tom McCarthy serta John Singer.

Sesuai judulnya, film ini berfokus pada Tim Spotlight bentukan dari The Boston Globe. Tim ini mengkhususkan diri dalam menginvestigasi kasus-kasus besar dan prosesnya mampu memakan waktu panjang. Anggotanya terdiri dari Walter Robinson (Michael Keaton), sebagai editor serta akrab dipanggil Robby. Disusul kemudian tiga reporter : Michael Rezendez (Mark Ruffalo); Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams); Matt Carroll (Brian d’Arcy James); dan Ben Bradlee Jr. (John Slattery) sebagai deputy editor.

Sedikit yang saya tahu soal koran di Amerika, kebanyakan dari mereka yang bekerja berasal dari putra-putri daerah. Mereka juga membawa nama besar kota beserta kebanggaannya. Seperti halnya Tim Spotlight dalam The Boston Globe, kesemua anggotanya berasal dari Boston dan dibesarkan dalam keluarga Katholik. Ini penting, sebab kasus yang ditangani itu akan memberikan dampak yang besar pada beberapa karakter di dalamnya. Tidak lama datanglah Marty Baron (Liev Schreiber), editor baru di Tim Spotlight. Berbeda dengan lainnya, ia berasal dari Miami.

Investigasi besar itu dimulai dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pendeta. John Geoghan namanya. Yang menjadi permasalahan adalah ketika Kardinal Law dari Uskup Besar Boston diduga mengetahui hal itu namun malah mendiamkannya. Berawal dari satu nama pendeta, fakta-fakta baru berhasil didapatkan. Pada tahap awal, ada tiga belas nama berhasil dikantongi. Salah seorang mantan pendeta yang kemudian menjadi psychotheraphist, Richard Sipe (disuarakan oleh Richard Jenkins, sebab kemunculannya hanya lewat suara di telpon), memberikan tambahan informasi bagi Tim Spotlight lewat Michael Rezendez. Mengejutkan—jumlah tersangka membengkak menjadi sembilan puluh.  

Istilah yang paling tepat untuk menggambarkan kasus tersebut adalah “fenomena puncak gunung es.”Coba bayangkan saja; jika satu pelaku saja bisa menghancurkan masa depan puluhan anak, bagaimana dengan jumlah pelaku yang mencapai puluhan ? Ini hanyalah sebatas kasus yang mampu mencuat ke permukaan saja. Bagaimana dengan lainnya ? Pastinya jumlahnya jauh lebih besar dengan ruang lingkup yang lebih luas pula. Lebih mencengangkan lagi, Tom McCarthy secara eksplisit memaparkan data-data skandal yang belum terbongkar di lebih dari lima puluh tempat di dunia. Benar-benar horror.

Di luar konfliknya yang diangkat dari kejadian nyata tersebut, “Spotlight” menunjukkan bagaimana kerja sesungguhnya di dunia jurnalistik. Salah satunya yaitu dengan kerja tim yang solid akan menghasilkan pencapaian yang maksimal. Seorang jurnalis pun juga harus dituntut berani menyuarakan kebenaran/apa adanya. Iming-iming dalam bentuk apa pun yang bisa merusak citra jurnalis harus dihindari. Dalam “Spotlight” ditunjukkan oleh kinerja Tim Spotlight yang kuat meski pun tidak jarang banyak kesulitan dihadapi. Pada akhirnya kerja keras mereka dalam memublikasikan kasus itu membuahkan Pulitzer Prize pada tahun 2003. 

Jauh sebelum menonton “Spotlight,” saya sudah berkeinginan menjadi newspapermen. Kini setelah melihat sepak terjangnya dengan cukup jelas, keinginan itu menjadi lebih besar. Sejak dulu, melihat image jurnalis dengan memo kecil dan mesin ketik tua selalu terlihat keren. Meski pun dalam dunia modern kini segala keterbatasan macam itu telah teratasi, sosok jurnalis yang old fashioned masihlah tetap menarik. Karakter Michael Rezendez yang dimainkan oleh Mark Ruffalo adalah yang paling berenergi di film ini. Dandanannya kasual, geraknya cepat, oportunis, cakap, tidak jarang lari ke sana ke mari mengejar waktu. Semangatnya bagaikan informasi yang dituntut untuk selalu baru. Itulah jurnalis !     

“Aku berhenti ke gereja bersama nenekku,” kata Sacha Pfeiffer kepada Michael Rezendez. Mereka berdua tampak mengobrol ringan di balkon. Namun isi obrolannya ternyata jauh lebih berat dari kelihatannya. Bagian terakhir ini adalah turning point bagi semua karakternya. Pfeiffer adalah seorang Katholik taat. Bersama dengan neneknya, ia ke gereja tiga kali seminggu. Sedangkan Rezendez, ia ingin kembali aktiv ke gereja seperti masa kanak-kanaknya. Dahulu ia sangat menyukainya. Tapi kini semua sudah berubah. Kenyataan telah membalikkan perspektiv mereka 180 derajat.

2 komentar:

  1. eh nanya dong, opening scene nya itu apa ya? maksudnya ada hubungannya ga sama jalan ceritanya, atau cuman sebatas adegan pembuka aja? btw, nih film keren bgtt! menit awal sih rada bingung tp masuk pertengahan langsung jelas.oh iya, feeling ane kok si rezendes ini korban jg ya,dr mulai dia curhat ke sacha ga pernah ke gereja lg karna alesan khusus or pas dia ke bawa emosi karna beritanya ga buru2 di terbitin ,haha entahlah.. sayang bgt kalo oscar nantinya pulang ga bawa apa2.

    BalasHapus
  2. ya jelas ada,opening di kantor polisi yg mana disitu ada karakter Cardinal Law yg kalau ga salah dalam 1 ruangan di kantor polisi sedang "mengimingi" seorang ibu yang bisa jadi orangtua dari korban pencabulan. yang kebetulan juga di kantor polisi kan ada si Geoghan itu. CMIIW :D

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !