Selasa, 26 Mei 2015

SE7EN [1995]

Film kedua dari David Fincher ini akan mengajak Anda untuk berpetualang bersama 2 detektif dalam pengungkapan kasus pembunuhan yang misterius. Bersettingkan kota bernama Metro yang tidak pernah lepas dari kasus kriminal, Anda akan merasakan pengalaman luar biasa dalam menikmati film mystery thriller yang sangat menegangkan dan penuh dengan banyak teka-teki. Dari opening credit saja, Anda sudah dihadapkan dengan banyak disturbing picture yang diiringi musik mencekam gubahan Howard Shore.

Detektif Mills (Brad Pitt) dipindahkan untuk membantu Detektif Somerset (Morgan Freeman) dalam menangani sebuah kasus pembunuhan. Rupanya, pertemuan awal mereka tidak berjalan dengan cukup lancar. Somerset menunjukkan sikap yang ‘dingin’ dengan adanya Mills dalam kasus yang ia tangani. Mills yang sebelumnya beberapa kali pernah menangani kasus pembunuhan, merasa diremehkan oleh Somerset.
Suatu ketika, mereka menangani kasus pembunuhan yang misterius, karena tidak ada motif yang melatar belakanginya. Disusul berikutnya dengan kasus pembunuhan seorang jaksa yang meninggalkan tulisan Greed/tamak di samping mayatnya. Somerset kemudian menyelidiki sendiri rumah korban pembunuhan sebelumnya dan menemukan tulisan Gluttony/rakus di dalam rumahnya. Dari fakta itu, Somerset meyakini bahwa kasus pembunuhan tersebut akan terus berlangsung. Tapi sayangnya, Somerset justru memutuskan akan berhenti ketika ia mulai mendapatkan titik terang kasus pembunuhan tersebut.  

Somerset kemudian mengumpulkan bukti-bukti sendiri dan diam-diam membantu Mills yang tengah kesulitan. Somerset awalnya memang terlihat sangat ‘dingin’ pada Mills, tapi hubungan mereka berdua kemudian mencair sejak Somerset diundang makan malam oleh istrinya Mills, Tracy (Gwyneth Paltrow). Somerset dan Mills kemudian semakin kompak dalam menangani kasus pembunuhan misterius tersebut. Berhasilkan mereka berdua menemukan pelakunya dan motif di balik semua pembunuhan tersebut ?

Suasana kota Metro ditampilkan dengan tone yang benar-benar gelap serta sering diiringi dengan hujan membuatnya seolah menjadi kota ‘terkutuk’ karena tindak kriminalnya. Dengan sinematografi dari Darius Khondji, Se7en ditampilkan begitu kelam, berikut dengan berbagai misteri tentang pembunuhan yang tersebar di dalamnya. Untuk ukuran film yang dibuat pertengahan 90-an, Se7en masih terlihat fresh seperti film-film produksi 2010-an ke atas. Selain komposisi yang saya tulis di atas, Se7en semakin kuat dengan pengenalan karakter utamanya serta didukung konsep cerita yang tidak biasa pula, Seven Deadly Sins. Dengan mengetahui konsep tersebut sebelumnya, penonton akan dibuat mencari-cari setiap misteri yang tersebar di sepanjang film terkait para korban pembunuhan. Pertama adalah kemunculan Gluttony dan Greed,  maka tinggal 5 tersisa semakin membuat rasa penasaran siapa korban yang akan muncul berikutnya. Bahkan, teka-teki salah satu korban berikutnya sebenarnya sudah tersebar sejak awal.

Apa yang menjadikan Se7en menjadi lebih seru lagi untuk diikuti adalah penambahan berbagai macam unsur angka 7 menjadi bahan utama, seperti 7 hari pengungkapan kasus ini, hingga mengkaitkannya dengan berbagai karya sastra kuno yang berhubungan dengan angka 7. Dan lagi, buku-buku yang berisikan tentang pembunuhan juga sempat disinggung di sini, seperti In Cold Blood, yang semakin memperkuat kesan thrillernya. Masing-masing korban Seven Deadly Sins memiliki jalur yang terhubung satu sama lainnya, sehingga Se7en menjadi semakin menarik diikuti tiap menitnya. Untuk karakter, yang paling menonjol sendiri tentunya adalah Mills dan Somerset. Yang coba diangkat lebih dalam di sini adalah mengenai awal hubungan ‘dingin’ mereka yang kemudian mencair dan saling saling bahu membahu. Bahkan, Somerset yang awalnya telah memutuskan keluar lebih awal dari sisa 6 hari masa tugasnya, memilih menghabiskannya dengan Mills untuk memecahkan kasus pembunuhan tersebut. Mills ditampilkan selalu ‘berapi-api’ sedangkan Somerset cenderung ‘dingin’. Selain itu, tidak ada eksplorasi lebih dari keduanya.

Se7en sedikit mengingatkan saya akan filmnya David Fincher yang rilis tahun kemarin, Gone Girl. Di mana di dalamnya ada karakter psycho yang mencoba ‘bermain-main’ dengan membawa banyak ‘kejutan’. Begitupun di Se7en ini, karakter psycho yang menjadi dalang utama pembunuhan juga mencoba ‘bermain-main’ dengan ‘kejutan’. Ia juga bertindak sebagai punisher atas segala dosa para korbannya sesuai dengan Deathly Seven Sins. Ya, bisa saja karakter ini banyak menginspirasi Fincher dalam membuat salah satu karakter di Gone Girl. 

Saya paling suka bagaimana Fincher mengeksekusi Se7en dengan begitu mendramatisir dan tidak lupa ending twist juga. Mills dihadapkan pada sebuah pilihan sulit dimana ia harus membiarkan sang ‘pelaku’ dipenjara dan ia ‘menang’, ataukah harus membunuhnya dan Mills telah ‘kalah’. Saya tidak bisa menjelaskan lebih rincinya, karena akan berpotensi menjadi spoiler. Pada bagian ini, saya sangat teringat dengan karakter Dae-Su dari film Korea, Oldboy (2003). Ia juga dihadapkan pada pilihan yang sulit seperti Mills, membunuh sang ‘pelaku’ tapi ia ‘kalah’, atau mengikuti semua ‘permainannya’ dan ia ‘menang’. Secara keselurhan, saya memang paling menyukai sekali dengan endingnya yang sangat brilliant dan membuat breathtaking. Jika Anda sudah menonton Se7en, terutama di bagian kemunculan ‘pelaku’, Anda akan terkejut bukan kepalang karena sang aktor pemerannya tidak pernah Anda duga sebelumnya, karena namanya tidak ditulis di opening credit.
ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !