Senin, 07 September 2015

LOVE AND MERCY [2014]

“Love and Mercy” merupakan biopic dari Brian Wilson, musisi dan produser rekaman ternama dari California. Ia juga merupakan co-founder dari band terkenal, “The Beach Boys” yang telah menelurkan salah satu album terbaik sepanjang masa berjudul “Pet Sounds” tahun 1966. Apa yang membuat Brian Wilson begitu diakui sebagai musisi jenius adalah dari caranya yang tidak biasa dalam mengaransemen lagu. Baik itu dari komposisi nada maupun penambahan sound tidak lazim di tiap lagunya, seperti bunyi hewan, bel sepeda, hingga klakson mobil. Inspirasi dalam bermusiknya pun unik dimana ia sering mendengarkan lantunan bunyi-bunyi ajaib yang tiba-tiba terdengar di telinganya.

“Love and Mercy” ini berfokus pada dua setting, antara tahun 1960-an ketika Brian Wilson (Paul Dano) masih mereguk banyak kesuksesan lewat “The Beach Boys” yang juga beranggotakan dua adiknya, sepupu, dan seorang temannya. Hingga kemudian terjadilah panic attack yang membuat ia untuk rehat dari konser live dan lebih memilih untuk bekerja di studio yang kemudian melahirkan “Pet Sounds”. Setting kedua adalah di tahun 1980-an ketika Brian Wilson (John Cusack) divonis oleh Dr. Eugene Landy (Paul Giamatti) mengidap paranoid schizophrenic serta hubungan asmaranya dengan seorang sales mobil Cadillac, Melinda Ledbetter (Elizabeth Banks).  

Sudah cukup banyak memang beberapa film yang diangkat dari kisah nyata seorang jenius lengkap dengan segala permasalahan psikologinya. Dan kisah Brian Wilson dalam film ini memiliki kemiripan konflik dengan biopic dari John Nash (Russell Crowe) dalam film “A Beautiful Mind” (2001). Hanya bedanya bila permasalahn John Nash lebih ke arah visual lewat perwujudan tiga sosok misterius yang menghantui hidupnya, sedangkan Brian Wilson berupa suara-suara yang sering mengacaukan pikirannya. Dari keduanya pula karakter love-interest memberikan peran yang begitu besar sebagai pendukung dari permasalahan yang tengah dihadapi oleh karakter utama tersebut. Keduanya jenius di bidangnya dan sama-sama memiliki masa pasang-surut dalam hidupnya, apalagi terpaan masalah psikologi yang tentunya berpotensi membuat penonton merasa larut dalam karakter tersebut. Dua performa terbaik dalam memerankan Brian Wilson (terutama Paul Dano) mampu berjalan begitu selaras dan porsi keduanya berimbang dalam menghidupkan karakter yang sama di dua dimensi waktu yang berbeda.   

Dua setting yang berisi masa-masa kesuksesan dan kemunduran Wilson itu dihadirkan dengan plot yang maju mundur namun masih tetaplah mudah untuk diikuti. Pembangunan karakter dari Brian Wilson ini begitu sangat kuat. Pertama untuk versi 60-an kita akan melihat seorang Wilson yang begitu jeniusnya dalam meracik sebuah lagu. Berbeda dengan musisi lain yang mungkin menuruti selera pasar, Wilson berdiri dengan gayanya sendiri meski selalu mendapat pertentangan dari sepupunya, Mike Love (Jake Abel) dan ayahnya, Murry (Bill Camp). Caranya dalam menciptakan sebuah lagu pun tidaklah biasa dan ia dikenal karena talenta tersebut. Dalam salah satu adegan ia diceritakan saling bertentangan dengan Mike Love dengan alasan bahwa Wilson banyak memasukkan ‘dialog-dialog yang tidak penting’ ke dalam lagu. Mengapa bisa begitu ?. Brian Wilson beralasan bahwa setiap suara yang keluar dalam pikirannya akan ia tuangkan ke dalam lagu. Apapun suara yang muncul itu. Namun siapa sangka, suara-suara itulah yang kelak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.  

Dalam setting 80-an kita tidak akan lagi menemui Brian Wilson yang ceria dan bergairah di dalam studio rekaman. Yang ada kita akan melihat sosok pria paruh baya yang begitu depresif, cukup berantakan, dan dari penampilannya pun akan jauh dari image musisi ternama. Seseorang yang bisa dijadikan alasan mengapa Wilson menjadi seperti itu tidak lain adalah sang terapis yang dikenal radikal, Dr. Eugene Landy. Cara-cara yang ia tempuh demi mengobati Wilson justru semakin memperparahnya, apalagi vonis yang ia jatuhkan pada akhirnya tidaklah terbukti. Kesan depresif itu semakin terasa tatkala Landy begitu over-protective pada Wilson. Dan di saat itulah peran Melinda Ledbetter sangat dibutuhkan sebagai tempat mencurahkan isi hati Wilson. Ia adalah sosok wanita yang ‘mungkin’ tidak ia temukan pada isteri pertamanya, Marilyn (Erin Darke). Sayangnya, karakter Marilyn memiliki porsi sedikit untuk ditampilkan dan penggaliannya juga dangkal. Dengan alasan itu, penonton kurang memahami konflik apa yang membuat Brian Wilson dan Marilyn bisa berpisah. 

Kedangkalan lainnya juga terdapat pada minimnya pembangunan emosi pada masa treatment-nya Wilson. Rasanya seolah tidak ada tekanan yang begitu berat dari Dr. Eugene Landy pada Wilson, kecuali pada salah satu adegan makan hamburger. Akibatnya, suasana depresif yang seharusnya juga dirasakan oleh penonton jadi terasa begitu hambar dan simpati pun tidak mengalir untuk Wilson. Sang sutradara, Bill Pohlad, juga terasa sangat buru-buru untuk segera mengakhiri film di saat karakter Wilson sendiri sudah mulai terbangun dengan kuat. Chemistry Wilson dan Ledbetter sangat bagus, tapi temponya terlalu cepat  untuk membuat mereka jatuh cinta. Karakterisasi dan performa jajaran cast-nya sangat memperkuat film ini, tapi Bill Pohlad masih kurang bagus dalam mengemas nuansa yang ada dan kurang berhasil mengikat erat. Untung saja skoring musik ambient yang indah dari Atticus Ross sanggup mengisi kekosongan itu. Lagu-lagu lama dari “The Beach Boys” yang diaransemen ulang pun begitu easy listening dan semakin membuat saya betah untuk mengikuti biopic Brian Wilson ini.

“Love and Mercy” adalah kisah hidup si jenius yang tengah mengalami masa keterpurukan dan menemukan cinta di sana. Sebuah cinta sejati yang dibuktikan tanpa memandang kekurangan dan bersiap menjadi pendukung di kala duka. Meski masih banyak kekurangan, “Love and Mercy” mampu memikat lewat karakter yang menarik dan tidak lupa suguhan lagu-lagu asyik dari musisi legendaris.   
7 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !