Jumat, 04 September 2015

AS THE GODS WILL [2014]


“As The Gods Will” yang diadaptasi dari manga karya Muneyuki Kaneshiro, “Kami-sama no Iu Tōri”, merupakan salah satu bentuk kesenangan dari Takashi Miike lewat adegan gila-gilaan layaknya film-filmnya terdahulu seperti “Ichi The Killer” ataupun “Crows Zero”, tapi tidak termasuk “Ninja Kids” dan “Hara-kiri : Death of Samurai” di dalamnya. Bagi yang setia mengikuti karya-karyanya dan tahu betul bagaimana film-filmnya, mungkin tidak akan percaya bahwa ia sempat menyumbangkan tenaganya dalam dua episode “Ultraman Max”. “As The Gods Will” mungkin masih kalah ‘gila’, tapi berhubung ini adalah karya Miike, sangat menjanjikan tentunya bahwa kita akan menikmati berbagai macam kebrutalan fatal nan menghibur.

“As The Gods Will” dibuka dengan siswa-siswi SMA yang tengah memperjuangkan menyelamatkan nyawa mereka untuk bisa menghentikan Daruma-san, yaitu sebuah boneka bulat berwarna merah dalam permainan tradisional Jepang. Dalam permainan itu, si siswa-siswi harus berjalan mendekat ketika Daruma-san melantunkan sebait lirik. Jika ketahuan di saat Daruma-san berbalik arah, maka dia akan mati. Cara matinya pun unik namun tetap tragis, yaitu kepala meledak dan bersamaan diikuti dengan kelereng-kelerang merah. Dua orang sahabat, Shun (Sōta Fukushi) dan Satake (Shota Sometani) harus bersatu untuk bisa menghentikan Daruma-san melalui tombol di belakangnya.   

Opening Act lewat pembantaian dari Daruma-san sanggup menghadirkan kegilaan yang mengasyikkan dan tanpa perlu basa-basi. Sesuatu yang amat sangat brutal itu lantas menjadi sajian pembuka dan timbul pertanyaan apakah Takashi Miike sudah mengerahkan semua ide kreatifnya di awal tersebut ?. Tentunya tidak !. Itu hanyalah awalan dari segala kesadisan yang akan ia tampilkan berikutnya. Jelas sekali nampak kejeniusan Takashi Miike di saat ia menampilkan kesintingan tingkat akut di bagian pembukaan, itu menandakan bahwa apa yang akan muncul setelahnya tentu lebih sinting lagi. Saya suka bagaimana cara Miike mempersembahkan pemanasannya lewat cara yang tidak biasa. Bukan lewat pengenalan karakter seperti dalam lumrahnya film-film. Melainkan dengan ceplas-ceplosnya ia sanggup memaksa penonton tetap anteng duduk sedari film dibuka dengan tempo film yang cepat pula. Hasilnya, penonton akan semakin kegirangan untuk meminta lebih dan lebih sembari melemparkan pertanyaan dalam diri, “kira-kira kejutan apa lagi yang muncul berikutnya ya ?.” 

Cara bersenang-senang Takashi Miike lewat survival game ini bukan saja dari cara dia menunjukkan aneka macam kesadisan semata. Tapi juga dari caranya bertutur melalui komedi hitam yang sering pula ia sisipkan. Intensitas ketegangan demi ketegangan terus meningkat dari satu permainan yang edan, berlanjut pada yang lebih edan, dan melaju terus hingga ke tahap yang paling edan. Porsi darah-darah yang muncrat ke sana dan ke sini memanglah tidak terlalu banyak. Hanya saja itu sudah lebih dari cukup untuk menyenangkan hati para pecinta gory horror. Itu semua tidak lain dari kehebatan sang sutradara yang dengan totalitasnya sanggup meracik hal-hal yang dinilai sadis dan tabu menjadi sebuah hiburan yang begitu menyegarkan di saat para korban sendiri meminta untuk berhenti. Para creature yang ada dibuat begitu menarik dengan CGI yang sudah cukup halus dan mengagumkan tentunya. Creature yang tercipta dari aneka macam mainan itu tidak lain merupakan bagian dari komedi terselip, di balik bentuk-bentuknya yang lucu menggemaskan terdapat hawa pembunuh berdarah dingin. 

Mungkin banyak yang mempertanyakan terkait dangkalnya eksplorasi terhadap para karakternya. Namun, saya tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut. Untuk tipikal film gory horror semacam ini, saya rasa tidak terlalu diperlukan adanya penggalian karakter lebih dalam lagi. Memang sempat ada sekilas unsur drama semacam cinta segitiga dan kecemburuan di antara Shun dengan teman dekatnya, Ichika (Hirona Yamazaki) dan teman SMP-nya, Shoko (Mio Yūki). Munculnya yang hanya sekelebat saja memang tidak memberikan pengaruh yang besar dalam cerita secara keseluruhan. Bila dibandingkan dengan drama cinta antara mereka bertiga, saya justru lebih tertarik dengan hubungan antara Shun dan  Takeru (Ryunosuke Kamiki) yang selalu yakin menang karena pilihan dari Tuhan. Dari kedua karakter tersebut, tampak jelas sekali keambiguannya. Dimana Shun adalah sosok baik (just ordinary people) namun begitu membenci Tuhan dan tidak mempercayai keberadaannya. Berbanding terbalik dengan Takeru yang digambarkan sebagai sosok yang kejam, tidak kenal ampun, berbahaya, dan tidak punya aturan, namun memiliki keyakinan kuat akan keberadaan Tuhan.

Hingga film berakhir pun tidak pernah ada jawaban pasti terkait asal muasal para creature unik itu termasuk alasan dari survival game tersebut. Jika merujuk pada judulnya, mungkin pertanyaan-pertanyaan itu sudah mampu terjawab. “Siapa lagi kalau bukan Tuhan ?. Ya, memang seperti apa yang diinginkan Tuhan !.” Mungkin seperti itulah jawabannya. Daripada harus bersusah payah memeras otak dengan berbagai macam pertanyaan seperti itu, saya sudah jauh terpuaskan lewat segala kebrutalan dan kesadisan yang telah disajikan oleh Takashi Miike. Rasanya saya pun sudah tidak terlalu mempedulikan lagi masalah ‘siapa’ dan ‘mengapa’ di balik survival game itu. Anggap saja judulnya sendiri merupakan jawaban yang paling tepat. “As The Gods Will” adalah pembuktian dimana sebuah film yang isinya hanya rentetan adegan kejam dan tidak berotak dan minim pendalaman karakter pun bisa menjadi bagus dengan syarat digarap dengan begitu total. Dan tentunya tidak melupakan sisi ‘hiburan’ yang merupakan core dari sebuah film.

7,5 / 10

2 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !