Kamis, 03 September 2015

THE SEARCHERS [1956]

**FILM SUPER**
Sebagai penikmat film western, tentunya sangat menggembirakan bila memiliki kesempatan untuk bisa menonton versi klasiknya. Terutama film yang dibintangi oleh aktor ikonik western seperti John Wayne ini. “The Searchers” yang disutradari oleh John Ford (beberapa kali berkolaborasi dengan John Wayne) ini tampak semakin istimewa lagi mengingat dibuat dengan format Technicolor yang bisa dibilang dapat dihitung jari untuk film-film keluaran era tersebut. Hasilnya tampak sangat mengagumkan dari segi visual (berwarna), begitupun dengan kualitas cerita berikut aksi seru yang disuguhkan. Maka tidak mengherankan bila “The Searchers” menjadi salah satu film ­western terbaik yang pernah dibuat. Tanpa membedakan menurut genre, tidak diragukan lagi “The Searchers” adalah satu dari sekian film terbaik yang pernah ada.

Film bersettingkan tahun 1868, ketika sang veteran perang sipil, Ethan Edwards (John Wayne) pulang ke rumah saudaranya setelah menghilang selama delapan tahun. Sang saudara tinggal bersama isteri dan ketiga anaknya dengan bahagia di daerah West Texas. Suatu ketika datanglah Kapten Clayton (Ward Bond) dari Texas Rangers, mengajak Ethan untuk menginvestigasi pencurian ternak yang dicurigai dilakukan oleh suku “Comanche”. Menyadari bahwa tengah digiring menjauh oleh para Comanche, keluarga Ethan pun dibantai. Dua keponakannya, Debbie (Lana Wood) dan Lucy (Pippa Scots) diculik. Maka berangkatlah Ethan bersama anak angkat saudaranya, Martin Pawley (Jeffrey Hunter), dan para Texas Ranger untuk mencari Debbie dan Lucy.     

Apa yang terjadi antara Ethan dan Martin sesungguhnya tidaklah begitu ‘rukun’ seperti yang tertulis dalam sinopsis di atas. Upaya pencarian tersebut pun sempat diwarnai dengan ketegangan antara mereka berdua. Ethan kerap kali diperlihatkan sering bersikap dingin dan meremehkan Martin. Bahkan, ia pun tidak menganggapnya sebagai keluarga. Lantas, apakah latar belakang dari mereka berdua sehingga begitu sulit berjalan selaras ?. Tidak lain dan tidak bukan karena Ethan begitu sangat membenci suku lokal, Indian. Sedangkan Martin sendiri merupakan “Cherokee” terakhir yang berhasil diselamatkan oleh Ethan ketika masih bayi dan dibesarkan oleh keluarga Edwards. Kebencian Ethan pada suku lokal juga nampak dari caranya yang begitu brutal ketika menembaki “Comanche” tanpa memberikan ampun. Ambisi yang besar dari Ethan demi menyelamatkan kembali Debbie dan Lucy selain karena keluarga juga bisa dipicu akan api amarah dan kebencian yang lama berkobar terhadap para suku Indian. 

Secara keseluruhan, film ini berfokus pada Ethan dan Martin sebagai side-kicknya. Ethan adalah sosok pria tegas berhati baja, ambisius, percaya diri tinggi, dan begitu membenci Indian. Sedangkan Martin adalah pemuda berjiwa pemberani, penyayang, walau terkadang terlihat sembrono dan kurang berpengalaman. Keduanya kemudian disatukan dalam misi pencarian yang mau tidak mau mengharuskan mereka untuk bersatu dalam menemukan Debbie dan Lucy. Tapi di sisi lain, Ethan merasa tidak membutuhkan bantuan Martin dan kerap kali meninggalkannya di tengah perjalanan. 

Seperti film-film western kebanyakan, “The Searchers” banyak menghadirkan aksi-aksi seru menegangkan lewat adu tembak dan kejar-kejaran dengan kuda. Apalagi film ini ditambah pula konfrontasi dengan suku lokal semakin menciptakan keseruan dan membuat saya lebih betah menontonnya. Sebagai penunjang, suguhan indah lewat landscape luas khas middle-west juga memberi nilai estetika dalam film ini. Kehadirannya tentu menyegarkan mata di samping kita dengan asyiknya menyaksikan adu tembak pria-pria macho ini.    

Hal pokok yang saya tangkap dalam “The Searchers” ini tidaklah jauh dari racism, dalam film ini dituangkan pada sosok Ethan Edwards. Saya tidak menemukan bahwasanya film ini mengupas lebih lanjut mengenai asal muasal kebencian Ethan kepada bangsa Indian. Tapi bisa jadi film yang diangkat dari novel karya Alan Le May dengan judul sama ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa kebencian itu mungkin saja berawal dari kebiasaan suku Indian yang suku menculik wanita dari kalangan pendatang. Itu mungkin saja. Mengingat Alan Le May dalam menulis novel “The Searchers” juga berasal dari latar belakang sejarah dan risetnya terkait kasus penculikan oleh suku Indian yang marak terjadi di abad 19. Berkaca pada sejarah itu, “The Searchers” membuat saya merasa untuk mempelajari lebih mendalam. Terutama dari jajaran karakternya yang abu-abu. Dengan kata lain tidak sepenuhnya bila suku Indian disalahkan secara total dalam kasus ini, bisa saja itu wujud penghukuman atas perlakuan kejam para pendatang di masa lalu. Pun dengan sebaliknya.

Konflik dalam “The Searchers” makin kompleks lagi ketika menerpa sang karakter utama, Ethan. Kebenciannya yang begitu mendalam pada suku Indian telah secara paksa membuatnya harus memilih di antara pilihan yang sulit. Yaitu mendarah dagingnya “Indian” pada jiwa dan raga Debbie, keponakan kesayangannya yang telah dicari selama bertahun-tahun. Namun di satu sisi, Martin yang sejak awal dibenci Ethan karena darah Indiannya justru semakin meyakinkan bahwa ia adalah bagian dari keluarga Edwards, dan bukan lagi Indian. Pada point ini, John Ford menekankan hal mengenai adaptasi pada individu dalam sebuah kelompok baru. Ia mengambil contoh dari karakter Martin dan Debbie yang tengah mengalami pergeseran identitas. Tidak berhenti sampai di sini saja, kompleksitas dari cerita juga semakin meningkat tatkala saya merasakan bahwa “The Searchers” juga menyelipkan semacam bentuk ‘pengagungan’ terhadap Bangsa Amerika melalui ‘pembersihan’ dari suku-suku lokal.   

Dari kesekian film-film western yang pernah saya tonton, mungkin ini baru pertama kalinya saya menemukan western yang memiliki cerita begitu kompleks berikut kayanya karakterisasi dari para karakternya. Tidak heran bila “The Searchers” diakui sebagai salah satu film besar bahkan hingga kini. Kisahnya yang luar biasa pun turut menginspirasi Paul Schrader, penulis naskah “Taxi Driver” (1976), yang jika dibandingkan keduanya memiliki sedikit unsur kemiripan. Sebagai penutup, jangan lupakan pula line terkenal dari John Wayne di sini, “That’ll be the day”.
9,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !