Sabtu, 13 Juni 2015

A GIRL WALKS HOME ALONE AT NIGHT [2014]

Sejauh yang saya ingat, sudah lama sekali saya tidak ‘jatuh cinta’ pada karakter dalam sebuah film. Kali ini, kembali lagi saya benar-benar merasakan yang namanya ‘jatuh cinta’ pada sebuah karakter film yang sangat tidak biasa. Pasalnya, karakter yang membuat saya ‘jatuh cinta’ tersebut merupakan vampire. Tapi tenang dulu, karena vampire yang satu ini jauh dari kata seram, melainkan berwajah cantik dan memberi efek ‘ngangenin’.

Tinggal di sebuah kota bernama Shahre Bad/Bad City, seorang pemuda bernama Arash (Arash Marandi) mengalami peliknya kehidupan dengan menumpuknya hutang yang diakibatkan oleh ayahnya, Hossein (Marshall Manesh). Ayahnya hanyalah seorang tua pesakitan, pecandu, dan doyan main perempuan. Ayahnya banyak berhutang pada bandar narkoba Saeed (Dominic Rains), yang kemudian menyita mobil Arash sebagai jaminan dari hutang ayahnya. Tak berapa lama, Saeed ditemukan tewas oleh Arash. Sebelumnya, Arash melihat sesosok gadis dengan burka panjang keluar dari rumah Saeed, hingga akhirnya ia menemukannya dalam keadaan tewas mengenaskan.
Sehabis pesta kostum, Arash masih dalam keadaan teler akibat drug yang ia telan. Dengan memakai kostum dracula, ia berjalan seperti orang linglung karena asing dengan tempat yang ia lewati. Saat itulah, pertemuan kedua Arash dengan gadis si berburka panjang, sebut saja The Girl (Sheila Vand). Dengan menggunakan skateboard, The Girl mengajak Arash yang teler ke rumahnya. Pertemuan mereka berdua pun terus berlanjut, dan tidak bisa dipungkiri bahwa Arash menaruh perasaan lebih pada The Girl.

Karya debut sutradara Ana Lily Amirpour ini berhasil membuat saya jatuh dalam pelukan si gadis vampire, dan siap saja saya untuk digigitnya. Saya sangat menyukai film ini, dan terutama pada kemisteriusan dari The Girl (diperankan oleh Sheila Vand yang menurut saya pribadi sangat cantik sekali). Karakter vampire The Girl ini tidak ditampikan dengan menyeramkan, melainkan hanya dengan pakaian kasual dan burka hitam panjang yang dipakainya ketika malam hari mencari korban. Tentu saja, aksen taring yang menjadi ciri khas seorang vampire tidak lupa disematkan. Hidup sendiri dan melanglang buana di malam hari dalam mencari korban, membuat The Girl menjadi sosok yang kesepian dan butuh seorang teman. Maka dengan kehadiran Arash, ia mampu menghangatkan malam-malam sepinya The Girl. Bukan sekedar teman saja malahan, Arash boleh disebut sebagai tambatan hati The Girl.

Nama Shahre Bad atau Bad City yang menjadi setting film ini, diambil melalui nama produksi film ini sendiri, Shahre Bad Picture. Dengan bantuan visual hitam putih, Bad City mampu ditampilkan begitu suram, gelap, dan jauh dari kata ceria. Meski pengambilan gambarnya sendiri banyak dilakukan di California, tapi Amirpour cukup berhasil membangun Bad City menjadi sebuah kota yang berbasis di Iran (Iranian Underworld). Memang masih ada beberapa kekurangan dalam pembangunan settingnya, tapi semua telah tertutupi oleh atmosphere gelap yang tercipta. Sesuai dengan namanya sendiri, Bad City benar-benar kota yang buruk. Buruk dari suasana yang dihadirkan, buruk pula watak para warganya. Dari semua karakter yang diperkenalkan di Bad City, semua merupakan orang-orang ‘sakit’. Hossein si pecandu, Saeed si bandar narkoba, Atti si pelacur, dan Arash si pencuri. The Girl ?, tentu saja ia pun juga masuk hitungan sebagai bad character. Tapi dalam beberapa momen, ia turut muncul sebagai punisher bagi para pendosa di Bad City.

A Girl Walks Home Alone at Night tampil dengan kemasan neo-classic dengan iringan musik-musik enerjik yang kontras dengan suasana klasik yang dibangun, tapi sangat asyik untuk dinikmati. Skoring musiknya juga mampu menghadirkan ketegangan ketika si vampire cantik ini beraksi dalam mencari korban, atau sekedar ‘iseng’ mengerjai seseorang. Keusilan dari The Girl tersebutlah yang makin membuat saya begitu gemas dengannya. Apalagi, ketika melihatnya menari-nari sambil merias wajah dengan iringan musik koleksinya, semakin saya yakin bahwa saya sudah jatuh pada sosok vampire cantik ini. Kisah cinta antara Arash dengan The Girl memang bisa dibilang unik. Mereka beberapa kali bertemu tapi tidak banyak berkomunikasi. Bahkan, mereka sendiri tidak pernah menyebutkan nama asli masing-masing. The Girl menolak menyebutkan namanya, sedangkan Arash memakai inisial dracula. Tapi, chemistry antara keduanya begitu terpampang jelas bahwa perasaan cinta mereka begitu kuat satu sama lainnya. Cinta mereka dibuktikan dengan keputusan Arash yang ingin pergi dari Bad City dan mengajak The Girl menjadi teman pelariannya. Tanpa banyak bertanya, The Girl pun mengikuti ajakan Arash tersebut.

Meski ini film horror dengan subyek utama vampire, adegan The Girl ketika ‘menikmati’ mangsanya tidaklah ditampilkan terlalu sadis dengan banyak cipratan darah di mana-mana. Bekas gigitan dari para korban The Girl sendiri juga tidak diperlihatkan secara eksplisit. Dengan kata lain, film ini banyak mengangkat unsur romance yang kuat dengan meminimalisir action sequence, tapi juga tidak menghilangkan ketegangan-ketegangan yang umum ada pada sebuah film horror. Naskah yang ditulis sendiri oleh Amirpour sebenarnya standard saja, tapi yang menjadi kekuatan dari film ini sebenarnya terletak pada emotions & atmosphere yang dibangun, serta chemistry yang kuat antar karakternya. 

A Girl Walks Home Alone at Night adalah pengembangan dari film pendek yang dibuat Ana Lily Amirpour di tahun 2011 dengan judul yang sama. Dia telah sukses membuat film yang benar-benar merebut hati saya dengan karakter vampire cantik yang diciptakannya. Seorang vampire yang tidaklah membuat saya takut, melainkan membuat saya semakin tertarik untuk lebih dalam lagi mengenalnya, mencintainya, dan juga mengenangnya. Benar adanya bahwa si vampir cantik ini telah memberikan efek ‘ngangenin’.
ATAU
8,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !