Senin, 08 Juni 2015

TAXI DRIVER [1976]

**FILM SUPER**
Taxi Driver adalah alasan saya begitu menyukai film-film karya Martin Scorsese. Saya sendiri memfavoritkan Taxi Driver ini dari semua karya Scorsese lainnya. Robert DeNiro yang selalu menjadi aktor wajib bagi Scorsese hingga era 90-an (kemudian beralih dengan Leonardo DiCaprio di era 2000-an) benar-benar tampil luar biasa cool dan berkarakter cukup sulit ditebak. Dengan perannya sebagai supir taksi, kita diajak berkeliling menikmati jalanan Kota New York di malam hari dan sepak terjangnya dalam pembasmian ‘sampah’ yang menjadikan ia bukan supir taksi biasa.

Travis Bickle (Robert DeNiro), seorang mantan marinir perang Vietnam selalu habiskan malam-malamnya untuk menonton film porno di sebuah bioskop karena sulitnya ia untuk memejamkan mata. Malam demi malam ia lalui dengan kegiatan yang sama terus tanpa sebuah tujuan. Maka iapun putuskan untuk melamar menjadi supir taksi, setidaknya ia dapatkan penghasilan dari sana. Sudah banyak ia dapati berbagai macam pelanggan selama ia berkeliling dari jalanan Bronx hingga Harlem. Sesekali, ia luangkan waktunya untuk berkumpul bersama teman-temannya sesama supir taksi. 

Pandangan Travis kemudian tertuju pada seorang wanita cantik bernama Betsy (Cybill Shepherd) yang bekerja pada senator Charles Palantine (Leonard Harris) yang akan mencalonkan diri sebagai presiden. Dengan beraninya, Travis mengajak Betsy untuk sekedar minum kopi di luar. Hubungan mereka berdua awalnya berjalan cukup lancar. Hingga pada akhirnya, Travis melakukan sebuah kesalahan yang membuat Betsy begitu kesal padanya. Terjatuh dalam keputusasaan akibat cinta, Travis merasa dirinya semakin lama semakin kesepian. Ia lalui tiap malamnya hanya dengan berkeliling melihat ‘sampah’ yang memenuhi jalanan. Ia kemudian mantapkan hatinya untuk membersihkan para ‘sampah’ tersebut apalagi setelah ia mengenal sosok pelacur cilik bernama Iris (Jodie Foster).

Adegan awal dibuka dengan sebuah mobil taksi kuning yang melintas di balik asap mengepul dan diiringi skoring musik dari Bernard Herrmann yang membuatnya nampak bagaikan film horror. Taxi Driver banyak mengambil shot di malam hari dengan gemerlap jalanan Kota New York, sesuai dengan deskripsi saya mengenai sosok Travis Bickle si supir taksi ini. Travis Bickle sendiri merupakan sosok vigilante, ia ingin bersihkan jalanan dari para ‘sampah’ yang memenuhinya. Sampah yang dimaksud oleh Travis sendiri adalah para pelacur, germo, pecandu, dan kriminal lainnya dari berbagai kelas. Karakter dari Travis Bickle sendiri memang cukup sulit untuk ditebak. Ia mudah berubah-ubah. Terkadang ia tunjukkan sikap sebagai pahlawan (meski lewat cara yang ekstrim), dan terkadang juga ia hanya diam saja melihat perbuatan jahat di depannya.

Kita lihat bahwa Travis merupakan segelintir dari supir taksi yang mengais rejeki di jalanan. Mereka melihat dan alami berbagai macam hal selama menjalani profesi tersebut. Travis, adalah salah satu dari sekian yang begitu muak dengan keadaan jalanan yang dipenuhi oleh ‘sampah’ tersebut. Ia inginkan perubahan, yang mana tidak banyak orang seperti dirinya inginkan. Mungkin kita akan sedikit kebingungan dengan karakter Travis yang dengan jelasnya begitu membenci praktik prostitusi jalanan, tapi di sisi lain ia justru banyak habiskan waktu di bioskop porno. Well, Travis just an ordinary people. Seperti kebanyakan orang yang menyukainya sebagai ‘hiburan’ senggang, tapi di balik itu ada semacam perasaan membenci praktik ‘kotor’ tersebut. Contoh mudahnya, seseorang yang begitu bencinya terhadap prostitusi atau eksploitasi pada wanita, atau apapun sebutannya, tidak akan menghentikan orang tersebut menyukai hal-hal berbau porno, bukan ?  Saya rasa, di zona tersebutlah Travis berada.

Ada sebuah momen lagi di mana saya cukup penasaran dengan tingkah Travis yang begitu misterius. Pada bagian awal, kita akan tahu bahwa Travis begitu setuju dengan keputusan Senator Palantine yang akan maju sebagai presiden. Bahkan ia sempat mengatakan unek-uneknya ketika Palantine ada dalam taksinya. Tapi kemudian di luar dugaan, Travis menunjukkan sikap yang antipati dengan menodongkan ‘sesuatu’ pada Palantine ketika sedang kampanye. Sebenarnya saya memikirkan 2 jawaban terkait adegan tersebut, karena pada akhirnya kita sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dikeluarkan oleh Travis dari balik jaketnya. Jika itu pistol dan ia ingin menembaknya, maka hal tersebut merupakan bagian dari percobaan pembunuhan, yang mungkin saja disebabkan keraguan Travis pada Palantine yang tidak sanggup membersihkan para ‘sampah’. Ataukah, Travis hanya sekedar ingin memberikan ucapan selamat, hanya saja ia dicurigai dan membuatnya lari dengan gugup. Setelah kejadian itupun, kita hanya tahu Travis meminum bir di apartemennya tanpa tahu jawaban atas apa yang sebelumnya telah ia lakukan. 

Tapi secara keseluruhan, kita tahu bahwa Travis benar-benar serius dalam menangani setiap kejahatan dan dia bertindak sebagai ‘sang penghukum’ dengan caranya sendiri. Mungkin saja dugaan saya mengenai keraguan Travis pada senator Palantine ada benarnya juga. Ia ragu jika senator Palantine kelak tidak sanggup atau mungkin saja enggan dalam membasmi para ‘sampah’ yang berkeliaran. Sebagai gantinya, Travis pun terjun langsung ke lapangan dengan mempersenjatai dirinya untuk membasmi para ‘sampah’ tersebut. Saya paling menyukai bagian ketika Travis menyelamatkan Iris dari lembah hitam dengan meyakinkan Iris untuk kembali ke kehidupannya yang lama. Ia berusaha keras menjauhkan Iris dari sang germo, Sport (Harvey Keitel). Awalnya, tindakan Travis itu berjalan dengan tenang tanpa ada kekerasan. Tapi bukan Travis namanya jika tidak misterius, sifat tidak tertebaknya pun muncul dan konfrontasi tidak terelakkan.    

Dari semua kemisteriusan Travis Bickle sebagai supir taksi yang tidak terjawab di sini, film ini tetap memberikan pesona yang luar biasa bagi saya. Dari Taxi Driver ini pulalah, yang kemudian mengantarkan saya ke film-film besar Martin Scorsese lainnya yang juga tidak kalah bagusnya. Aspek romance dari Travis dengan Betsy memang ditampilkan dengan porsi yang tidak terlalu banyak, tapi dari keduanya sudah menunjukkan chemistry yang begitu kuat. Performa dari Jodie Foster yang masih cute sebagai pelacur cilik juga patut diacungi jempol. Yang tidak kalah menarik lagi adalah kemunculan sang sutradara di 2 adegan dalam film ini. Rupanya, kemunculannya tidak hanya lewat sekilas saja, melainkan turut memberikan sumbangan berupa peran sebagai seorang pria stres akibat diselingkuhi oleh isterinya. Jangan lupa pula, salah satu soundtracknya yang berjudul Late for The Sky, begitu cocok sekali menggambar suasana sepi yang dirasakan oleh Travis Bickle.   
ATAU
9,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !