Jumat, 14 Agustus 2015

CLOUDS OF SILS MARIA [2014]

“Clouds of Sils Maria” adalah film yang bercerita mengenai ‘ego’ manusia, terutama ketakutannya menjadi ‘tua’ dan memilih untuk terjebak di masa lalu. Tentunya, hal itu merupakan perspektif saya pribadi dalam memahami film ini secara keseluruhan. Sebab, “perspektif” itulah yang memang dijadikan amunisi oleh Olivier Assayas (sutradara dan penulis naskahnya), dalam menggiring penonton ke arah tersebut. Olivier Assayas di sini juga secara tidak langsung melemparkan pertanyaan bahwa apakah usia atau waktu mampu mempengaruhi perspektif seseorang terhadap sesuatu. Jika diminta untuk menyamakan, “Clouds of Sils Maria” ini dapat saya sebut sebagai female version dari “Birdman” (2014) karya Alejandro G. Iñárritu. 

Maria Enders (Juliette Binoche) adalah seorang aktris (film dan teater) kelas dunia. Bersama dengan asistennya yang seorang warga Amerika, Valentine (Kristen Stewart), ia berangkat menuju Zurich untuk menerima penghargaan mewakili Wilhelm Melchior, seseorang yang telah mengangkat namanya lewat drama teater berjudul “Maloja Snake”. Tidak disangka, Wilhelm meninggal saat Maria dalam perjalanan. Di saat malam penganugerahan yang masih menyisakan duka, Maria mendapatkan tawaran untuk bermain dalam sekuel “Maloja Snake” atas arahan Klaus Diesterweg (Lars Eidinger). Hanya kali ini, Maria dengan begitu berat hati untuk menerima tawaran tersebut. Apa yang terjadi ?.
Sebelumnya, saya harus menceritakan sedikit mengenai drama fiksi dalam film ini yang berjudul “Maloja Snake”. Mengapa harus, sebab “Maloja Snake” adalah bagian sentral dari film ini bercerita. “Maloja Snake” ditulis oleh Wilhelm Melchior, berpusat pada kisah antara hubungan asmara dua wanita, Helena yang berumur 40 tahun dengan Sigrid yang masih berumur 18 tahun. Helena seorang pebisnis sukses, sedangkan Sigrid adalah asistennya yang bisa dibilang tidak memiliki skill lebih, tapi diterima dengan baik oleh Helena hanya berdasar rasa ketertarikan semata. Dua sosok ini memiliki karakteristik yang bertolak belakang. Maria, memerankan Sigrid saat masih berumur 18 tahun, dan ia menyukainya. Maka, alasan penolakan Maria atas peran menjadi Helena sudah nampak jelas di sini.  

Chemistry yang dibangun antara Kristen Stewart dengan Juliette Binoche begitu sangat bagus sekali. Dua aktris beda generasi ini mampu berjalan seirama dengan karakter yang mereka perankan. Mereka digambarkan sebagai sosok atasan dan bawahan yang sangat akrab, sering bercanda, dan sesekali menceritakan kisah pribadi. Gambaran yang jarang ditemui di dunia nyata. Kembali ke “Maloja Snake”, Klaus begitu besar upayanya meminta Maria untuk menjadi Helena. Maria menolak menjadi Helena dengan anggapan ia pernah menjadi Sigrid dan watak keduanya benar-benar berlawanan. Bahkan, tidak bisa dipungkiri Maria begitu bencinya pada sosok Helena. Namun, Klaus memiliki interpretasi bahwa sosok Sigrid yang hadir 20 tahun lalu, bisa saja menjadi Helena di masa ini. Sedangkan, Maria sendiri saat ini berusia sama dengan sosok yang ia benci tersebut. Dengan kata lain, terbesit pertanyaan apakah mungkin kini Maria mulai mendekat ke arah (menjadi) Helena ?.  

Dengan begitu halusnya, Olivier Assayas menggabungkan antara ‘fiksi’ dengan ‘realita’. Sehingga, kita sebagai penonton terkadang bertanya-tanya, apakah Maria bersungguh-sungguh mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya pada Valentine, ataukah hanya semata-mata berlatih drama ?. Tidak hanya itu, secara perlahan namun pasti, entah disadari atau tidak, Maria sudah mulai jatuh menjadi sosok Helena tersebut. Semua dapat dibuktikan lewat caranya memerankan Helena dan bahkan menyalahkan naskah karena terlalu memihak pada Sigrid. Dari appearance-nya sendiri, maka jika kita teliti dengan baik, Maria mulai diset dengan penampilan rambut pendek dan pakaian yang lebih terkesan ‘maskulin’ layaknya Helena, sosok yang lebih dominan bila dibanding dengan Sigrid. Tahapan-tahapan perubahan itu dihadirkan oleh Olivier Assayas dengan pelan-pelan, namun terbukti ampuh mengecoh penonton jika tidak jeli. 

Melalui perspektif saya, penolakan dari Maria dalam berperan sebagai Helena bisa saja merupakan ‘ego’ dalam dirinya yang menolak menjadi ‘tua’ atau ‘terlupakan’. Maka betapa lucunya ketika kemudian Maria menolak peran sebagai mutant karena alasan terlalu ‘tua’ dan ‘kecemburuannya’ pada Valentine yang lebih memfavoritkan aktris muda (Jo-Ann Ellies) daripada dirinya. Semakin jelas di bagian ini bahwa Maria yang merasa selalu ‘muda’ layaknya Sigrid, sudah sepenuhnya bertranformasi  menjadi si ‘tua’ Helena. Sedangkan untuk peran Sigrid yang baru, diserahkan pada aktris muda Jo-Ann Ellis (Chloë Grace Moretz), yang sebelumnya sempat ditertawai oleh Maria dari peran-perannya dalam film superhero (“Kick-Ass” ?). Selain eksplorasi karakter yang begitu menarik dalam film ini, Olivier Assayas juga mampu membuat saya tertawa dengan sentuhan komedi ‘tipis’  yang dihadirkannya, seperti ketika Valentine membicarakan tawaran film berisi werewolf (“Twilight Saga” ?) hingga footage dari Jo-Ann Ellis yang bermain dalam film sci-fi.   

Selain lewat performa apik para cast-nya, “Clouds of Sils Maria” semakin indah lagi dengan sokongan sinematografi indah dari Yorick Le Saux yang banyak menampilkan bukit-bukit indah di Swiss. Singkat kata, “Clouds of Sils Maria” adalah contoh refleksi dalam kehidupan sehari-hari, dan tanpa disadari sebenarnya kita ‘tengah’ atau ‘telah’ menjadi sesuatu yang sebelumnya dibenci melalui perspektif pribadi.  Namun seiring waktu, banyak faktor-faktor yang kemudian mampu merubah perspektif itu.
9 / 10

3 komentar:

  1. mau tanya kenapa valentine ngilang saat dibukit? kemana? pengen tau itu aja sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. pas di bagian ending si maria udah ganti assistant ga ada kejelasan tentang si valentine

      Hapus
    2. pas di bagian ending si maria udah ganti assistant ga ada kejelasan tentang si valentine

      Hapus

AYO KITA DISKUSIKAN !