Sabtu, 22 Agustus 2015

SOUTHPAW [2015]

Melihat jauh-jauh hari info beserta posternya tanpa perlu membaca sinopsisnya, “Southpaw” seolah magnet yang mudah menarik banyak kalangan khususnya di bagian jajaran cast-nya. Ya, di sana ada Jake Gyllenhaal yang juga dikenal jago menaik turunkan berat badan demi peran-perannya. Ia juga termasuk aktor yang pintar dalam memilih-milih peran kecuali jika “Prince of Persia” (2010) tidak masuk dalam hitungan. Memilih “tinju” sebagai tema film, mengingatkan kita pada beberapa film dengan tema serupa bahwa betapa mudah sekali untuk dilirik oleh berbagai penghargaan bergengsi. Namun, apakah benar dengan pemilihan tema yang terlihat ‘menggiurkan’ itu benar-benar sanggup menarik hati para juri dari penghargaan bergengsi untuk memasukkannya dalam daftar “film terbaik” ?.

Billy Hope (Jake Gyllenhaal) adalah petinju kelas dunia yang telah mengantongi rekor 43-0 tak terkalahkan. Dalam setiap pertandingan, kekuatannya akan semakin terpacu bila ia semakin sering mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari lawan-lawannya. Meski gampang ‘menggila’ di atas ring, ia dikenal lemah lembut dan sangat menyayangi istrinya, Maureen (Rachel McAdams) dan putri semata wayangnya, Leila (Oona Laurence). Suatu ketika ada insiden yang dipicu oleh pesaingnya yang akhirnya berbuntut pada kehancuran karirnya dan kehilangan hak asuh atas anaknya. Bersama pelatih baru, Tick (Forest Whitaker), ia siapkan pertandingan balasan.   

Kembali lagi, dalam setiap film bertemakan tinju, “keluarga” merupakan konflik terbesar yang selalu ditekankan. Benar saja, tinju merupakan olahraga keras yang tidak sedikit menciptakan banyak tentangan dari pihak terdekat, khususnya keluarga. Pun begitu dengan yang dihadapi oleh Billy Hope. Secara halus ia mendapatkan sedikit tentangan dari sang istri yang begitu ia cintai. Namun pride seorang petinju akan selalu saja mencari celah untuk mendobrak batasan-batasan tersebut. Menempatkan konflik keluarga sebagai rintangan di sini tentunya sudah bukan hal yang baru lagi. Apalagi tidak lama kemudian ada sebuah insiden yang menghancurkan karirnya hingga tercabutnya hak asuh untuk anaknya, semakin menguatkan kesan klise dan predictable pada film ini. Di sini saya merasa bahwasanya “Southpaw” terlalu bermain ‘aman’ lewat naskah yang ditulis oleh Kurt Sutter. Konflik yang ada terasa sangat ringan dan cenderung datar, bila melihat tema yang diangkat adalah sesuatu yang ‘berat’.

Mudahnya saja bila dideskripsikan secara singkat maka “Southpaw” berkisah tentang proses bangkitnya seseorang yang telah jatuh demi kembali mendapatkan ‘nama’ dan tentunya kepercayaan dari orang terdekat (anak). Sungguh sangat ringan bukan ?. Bahkan tidak butuh waktu lama, film ini pun dengan mudahnya tertebak kemana berakhirnya cerita. Penggunaan karakter ‘anak’ di sini dimaksudkan sebagai stimulus bagi karakter utama untuk bisa bangkit dari keterpurukan yang merupakan bagian dari konflik. Sayangnya dengan banyak fokus pada karakter ‘anak’ itu pula, “Southpaw” malah terasa seperti drama keluarga mainstream dan menjauhkan diri dari sport drama. Aura tinju sebagai olahraga yang garang pun tiba-tiba saja meredup dan hanya menyisakan drama tentang ayah dan anak. Tanpa mencoba bermaksud memberikan spoiler, klimaksnya tentu di isi dengan pertandingan sang Billy “The Great” Hope dalam proses mendapatkan kembali nama besarnya. Sayangnya, pertandingan terakhir itupun tidak cukup mampu menyelimuti “Southpaw” dengan aura tinju yang kental.

Kemudian kita mengenal karakter Tick, seorang pemilik sasana tinju yang nampak begitu ‘dingin’ dengan pilih-pilih orang yang hendak dilatih. Untuk karakter yang semacam ini, biasanya mereka memiliki masa lalu yang pahit yang kemudian membentuk jati dirinya di masa kini. Dan karakter ‘dingin’ seperti ini pula biasanya justru memiliki inner sebagai seorang yang berhati lembut dan peduli. Apakah saya salah ?. Sialnya saya benar dan “Southpaw” kembali lemah di bagian supporting character. Bergabungnya Billy dengan Tick pun mengisyaratkan bila ia akan mendapat gemblengan yang akan membuatnya lebih kuat untuk bisa mengalahkan lawan utamanya di klimaks. Namun sayangnya proses melunaknya seorang Tick yang terlihat ‘dingin’ itu pada Billy saya rasa terlalu cepat dan Antoine Fuqua selaku sutradara pun terlihat terburu-buru sekali mengejar durasi film. Karakternya kurang begitu tergali padahal ia memiliki posisi yang sangat vital. Sebelumnya saya sendiri sempat berharap bila karakter ‘dingin’ ini bisa seperti karakter yang dimainkan Clint Eastwood dalam “Million Dollar Baby” (2004). Pria tua yang dingin nan kolot, namun menyimpan kelembutan di dalamnya.

Pada akhirnya “Southpaw” hanyalah film medioker yang lebih mengutamakan style ketimbang substance. Ia nampak begitu gahar di bagian luar, namun lembek di dalam. Harapan melihat aura tinju yang kuat di sepanjang film pun hanya berakhir sebagai tempelan semata dimana drama ayah dan anak itu pun juga kurang mampu mengambil simpati saya sebagai penonton. Dari kesekian banyaknya kekurangan yang ada, untung saja performa Jake Gyllenhaal (termasuk permainan berat badannya) dan Forest Whitaker mampu menyelamatkan film, di saat karakter yang dimainkan pun tidaklah begitu charming. Dibandingkan dengan film yang dari luar sudah terlihat medioker, “Southpaw” lebih menyebalkan lagi ketika ia potensial menjadi bagus justru tidak dikembangkan dengan baik oleh Antoine Fuqua. Ujung-ujungnya ia pun menyia-nyiakan Gyllenhaal dan Whitaker yang bertalenta tinggi. Naskahnya pun juga sangat standard bila tidak ingin disebut buruk. Dengan segala kekurangan di berbagai lini, maka jelas sudah bila “Southpaw” masih jauh dari harapan demi masuk di penghargaan prestisius, khususnya untuk “film terbaik”.
5,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !