Sabtu, 29 Agustus 2015

COP CAR [2015]

Film terbaru yang dibintangi Kevin Bacon ini adalah contoh nyata bahwa jangan pernah sekali-kali mempermainkan polisi. Apalagi sampai mencuri mobilnya. Premis yang bagus ini kemudian diangkat menjadi film dengan sedikit sentuhan road dan black comedy. Sebelumnya, saya tidak ada pemikiran apapun mengenai film ini. Ditambah membaca judulnya yang membuat bertanya-tanya tentang apa film ini bercerita. Begitu membaca sinopsisnya sebentar, saya mulai tertarik sekali untuk menontonnya. Lagipula, rating yang bagus adalah salah satu alasan penguatnya.

“Cop Car” diawali dengan dua anak kecil yang tengah kabur dari rumah, Travis (James Freedson-Jackson) dan Harrison (Hays Wellford). Berjalan di sebuah ladang kering sambil memaki-maki di sepanjang perjalanan. Tidak berapa lama, mereka berdua menemukan sebuah mobil polisi yang ditinggal begitu saja. Naluri kekanak-kanakannya mengatakan untuk mencoba bermain-main sebentar, maka dibawa kabur lah mobil polisi itu. Siapa sangka si pemilik, Sheriff Kretzer (Kevin Bacon) tengah memburu mereka berdua. Ada sesuatu kah di dalam mobil tersebut ?.

Opening Act-nya begitu kuat mencengkeram sehingga semakin meningkatkan atensi untuk mengikuti setiap petualangan dua anak kecil ini, Travis dan Harrison. Sebelum mencuri, keduanya tengah terlibat masalah. Itu jelas. Atau mungkin keduanya memang tipikal anak kecil pembuat masalah. Terlihat sekali dari cara mereka bicara, mengumpat tiada henti di sepanjang jalan. Masalah bagi mereka berdua semakin besar sejak mencuri mobil polisi yang ditinggal pemiliknya, Sheriff Kretzner. Bagi sebagian penonton, mungkin akan terlihat sangat absurd melihat anak-anak dengan usia di bawah 10 tahun dapat mengendarai mobil. Saya harap penonton mau melupakan keabsurdan di bagian ini, dengan asumsi bahwa anak-anak yang masih kaya akan fantasi ini belum sepenuhnya memiliki ketakutan berlebih soal mengendarai / mencuri mobil. Benar saja, sebab di adegan berikutnya kita akan melihat mereka dengan asyiknya bermain kejar-kejaran dengan mobil polisi hasil curian ini. 

Pada bagian awal tersebut, tidak begitu banyak kita mendengarkan dialog-dialog selain dengan umpatan-umpatan dari Travis dan Harrison. Hingga kemudian pada kemunculan Sheriff Kretzner, masih terasa begitu sunyi senyap di sini. Tempo yang lambat ditambah sinematografi dengan pemandangan luas nan indah khas mid-west, semakin baik dalam membangun kesunyian suasananya. “Cop Car” karya Jon Watts ini jelas memiliki unsur black comedy yang begitu kuat. Begitu sunyi dan tenang namun tiba-tiba seakan memberontak dengan unsur thrill yang begitu kuat. Beberapa adegan dengan black comedy-nya pun sanggup membuat saya tertawa, namun di saat itu pula “Cop Car” sudah naik pada tahapan yang lebih serius. Mungkin awalnya kita akan gemas, atau kesal pada kenakalan dan keusilan Travis dan Harrison. Tapi kita sebagai penonton pun tahu bahwa mereka sedang bermain-main dalam ‘dunia’ mereka, dan bahaya yang sedang mengincar pun mampu mengundang simpati. 

Seorang bad cop yang tengah kejar-kejaran dengan dua anak nakal dan berhasil dibuat pusing tujuh keliling memang sesuatu yang lucu dan menggelitik. Semakin lucu lagi ketika kita menyadari bahwa mereka sama-sama nakal dan memiliki jiwa pemberontak. Satunya adalah oknum polisi yang menyalahi aturan, dan satunya lagi adalah anak dalam proses pelarian dari keluarganya. Para karakter ambigu ini kemudian masing-masingnya saling bertukar peran sehingga menciptakan kelucuan ala black comedy. Jika diingat lagi, tidak bisa menahan tawa bila melihat Travis dan Harrison yang sedang bahagianya mengendarai mobil polisi di saat Sheriff Kretzner harus berlarian ke sana kemari mencari mobilnya. Ada sesuatu yang berharga dalam mobil tersebut, semakin meyakinkan bahwa nasib sang Sheriff berada di tangan dua bocah nakal ini.     

“Cop Car” ini sebenarnya bisa dibilang memiliki lebih dari satu alternate ending dengan memanfaatkan karakter ambigu dari Sheriff Kretzner. Di pertengahan film, saya sudah membayangkan akan seperti apa film ini diakhiri. Meski pada akhirnya Jon Watts memilih ending yang cukup jauh dari perkiraan saya, tidak lah masalah besar jadinya. Sebab “Cop Car” telah dibangun kuat mulai dari setup hingga bagian confrontation. Selesai film pun, saya masih dibuat tersenyum puas bagaimana Jon Watts telah berhasil memancing tawa lewat sisi gelap dari karakter rekaannya. James Freedson-Jackson dan Hays Wellford, bagi saya dua wajah baru ini adalah pencuri perhatian di sini. Lewat aktingnya yang natural, mereka berdua sanggup mempermainkan perasaan saya dari yang awalnya kesal menjadi peduli. Tapi jangan lupa pula dengan aksi Kevin Bacon terutama saat ia meneriakkan “You don't... Steal... A Fu*king... COP CAR!” dengan begitu lantangnya. Sejauh film yang saya tonton di tahun ini, quote inilah yang paling mengena bagi saya. Serius tapi juga lucu.  
7,5 / 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !