Kamis, 20 Agustus 2015

THE CANAL [2014]


Saya sebenarnya tidak tahu alasan pastinya mengapa “The Canal” yang sudah rilis sejak tahun kemarin baru bisa menginjakkan kaki di tanah air. Tapi saya cukup lega bagaimana film dari Irlandia ini banyak mendapat ulasan positif dan tentunya semakin menguatkan keinginan untuk menontonnya. Tidak ingin berlama-lama menunggu, akhirnya tibalah saatnya bagi saya sendiri untuk membuktikan seberapa menakutkannya film horror yang disutradarai oleh Ivan Kavanagh ini. Begitu selesai, rupanya “The Canal” masih cukup jauh dari ekspektasi awal saya. Bicara soal ‘menyeramkan’, “The Canal” cukup mampu menghadirkan rasa tersebut. Namun, “The Canal” telah kehilangan daya cengkeram di pertengahan hingga akhir.

“The Canal” mengisahkan seorang juru arsip film bernama David (Rupert Evans). Tinggal dengan bahagianya bersama istri, Alice (Hannah Hoekstra) dan putranya yang masih kecil, Billy (Calum Heath). Suatu ketika, partner kerjanya, Claire (Antonia Campbell-Hughes) memberikannya sebuah reel berisi kasus pembunuhan yang terjadi pada tahun 1902. Betapa mengagetkannya, bahwa kasus pembunuhan tersebut ternyata terjadi di rumah tempat tinggal David saat ini. Tidak berapa lama, istri David, Alice, menghilang dengan misteriusnya. Apakah yang terjadi sebenarnya ?.

“The Canal” berjalan cukup pelan di paruh pertamanya. Di bagian pertama tersebut banyak berisi kehidupan sehari-hari David sebagai juru arsip film, berkumpul bersama keluarganya, hingga mengantarkan Billy kecil ke sekolah. Tapi, pembicaraan kecil mengenai “hantu” dan semacamnya memang cukup sering disinggung beberapa kali. Dengan naskah yang ditulis sendiri oleh Ivan Kavanagh, ia memang cerdik dalam memperkenalkan kita lebih dalam pada sosok David berikut keluarganya lewat pace lambat tapi tidak membosankan. Setiap sudut rumah hingga lika-liku keseharian David menjadi spot utama yang ditonjolkan di bagian setup ini dengan harapan penonton dapat menyelami lebih dalam lagi. Kemudian, lewat penemuan fakta mengejutkan oleh David dalam sinopsis di atas nampaknya mulai membuat “The Canal” bersiap-siap untuk menunjukkan kejutan-kejutan yang mungkin tidak disadari ke depannya.  

Aspek yang paling mengena di sepanjang film ini adalah skoring dari Ceiri Torjussen yang tampil dengan begitu intens, menguatkan atmosfir eerie seolah tanpa henti. Bagi yang mungkin mencoba menghindari jump scare sebagai bentuk kebosanan, penonton bisa bernafas lega sebab elemen tersebut hampir tidak ada dalam film ini. Sebagai gantinya, wujud ‘hantu’ yang sering tampil di sini digambarkan sebagai manusia pada umumnya lengkap dengan pakaian awal abad 20. Jika Anda tidak cukup takut, maka skoring dari Ceiri Torjussen dapat menunjang kekurangan di bagian tersebut dan perasaan ‘tidak nyaman’ ketika menonton pun mampu dihidupkan. Beberapa tambahan seperti footage film-film yang sengaja diset ala film klasik hitam putih juga cukup efektif dalam membangun suasana yang cukup mencekam, meskipun daya hentaknya tidaklah terlalu besar. 

Dari berbagai kelebihannya, “The Canal” tentu tidak luput dari banyak kekurangan. Ivan Kavanagh rupanya terlihat keteteran di pertengahan film dalam merangkai alur cerita selanjutnya. Ia harus memutar otak untuk bisa memberikan kejutan-kejutan tidak terduga, yang ternyata sudah habis ia kerahkan di bagian sebelumnya. “The Canal” terlalu gamblang dalam membongkar sendiri rahasianya, seolah-olah film ini selesai di tengah-tengah tanpa perlu lagi untuk diceritakan. Saya sebagai penonton pun sedikit mengernyitkan dahi sebab terlalu mudahnya ditebak ke mana film ini mengarah. Meskipun cukup diapresiasi dengan nihilnya jump scare, sangat disayangkan pula Ivan Kavanagh masih menyelipkan beberapa elemen klasik (atau mungkin ketinggalan zaman) lewat semacam dream sequence, yang tentunya bukan hal baru lagi ada di film-film horror bertema haunted house. Dibilang haunted house pun, “The Canal” masih ‘nanggung’ dalam penyajiannya.     

Tidak mengejutkan dan tidak ada yang benar-benar baru. “The Canal” memang memiliki DNA dari “Sinister” (2012) dan “The Shining” (1980), tapi ia masih terlalu jauh menuju pendahulu tersebut. Pendekatan melalui psychological thriller-nya memang saya akui bagus, tapi tidak cukup mengesankan. Sebab, ia masih kurang dalam mengeksplorasi para karakter sehingga masih terasa begitu dangkal. Hubungan kedekatan David dengan Billy seharusnya bisa digali lebih dalam layaknya Amelia dengan Samuel di “The Babadook” (2014), mengingat kedua film ini juga menggunakan pendekatan yang sama. 

Singkat kata, “The Canal” memang cukup ‘menyeramkan’ untuk sebuah film horror, tapi masih sangat jauh untuk menjadi yang terbaik. Aspek berupa skoring musik memang menjanjikan dalam menghidupkan atmosfir ‘seram’, tapi tidak pada penyajian visualnya. “The Canal” seakan-akan habis di tengah durasi dan kebingungan dengan apa lagi harus membuat penonton takut. Kurangnya pengembangan cerita dan karakter membuat film ini ‘mati’ sebelum saatnya dan penonton pun akhirnya gagal takut. Overrated kah ?. Sekarang giliran Anda sendiri yang membuktikan dan menjawabnya !.   

6,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !