Sabtu, 15 Agustus 2015

ZOMBEAVERS [2014]


Di weekend ini, saya mencoba mencari tontonan yang benar-benar ringan, fun, dan sangat menghibur, terlepas dari kualitasnya yang baik atau buruk. Maka saya dapatkanlah “Zombeavers” yang merupakan kepanjangan dari “zombie” dengan “beaver” (berang-berang). Memang nampaknya sudah menjadi tren di kalangan pembuat B-Horror dengan menamai judul filmnya melalui penggabungan dua kata, seperti “Sharknado” yang merupakan gabungan dari “Shark” dan “Tornado”. Ya, saya tahu ini bukan film bagus atau berkelas. Tapi, saya justru sangat terhibur sekali lewat kebodohan-kebodohan para karakternya, animatronic yang menggelikan, hingga CGI yang amat buruk tapi sanggup memancing tawa. Apalagi, rasa penasaran saya juga didorong untuk melihat cameo dari John Mayer di sini.
Oke langsung saja, teror berdarah (konyol tentunya) ini dimulai ketika dua pengantar cairan kimiawi, Joseph (Bill Blurr) dan Luke (John Mayer) menabrak seekor rusa yang tidak berdosa, dan membuat cairan kimiawi dalam drum masuk ke sungai. Cairan kimiawi tersebut lantas mengubah para berang-berang menjadi zombeavers. Di saat bersamaan, datanglah tiga mahasiswi, Mary (Rachel Melvin), Zoe (Cortney Palm) dan Jenn (Lexi Atkins) yang tengah berlibur dalam kabin. Teror dari para dam-builder telah mengincar nyawa tiga gadis malang tersebut.   
“Zombeavers” mungkin terdengar konyol, tapi jika ditilik lebih dalam lagi, film ini memiliki cerita yang tidak terlalu buruk, apalagi karakter yang dihadirkan memiliki karakterisasi yang cukup baik. Kita diperkenalkan dengan tiga mahasiswi yang tengah berlibur dengan menginap di kabin, Jenn “The Prude”, Zoe “The Virgin”, dan Mary “The Betrayer”. Tanpa disangka, ketiganya lalu didatangi oleh masing-masing pacarnya, lalu jadilah “The Cabin in The Woods” (2011) tapi dalam kemasan yang jauh lebih ringan. Ini film yang berbujet rendah, semua tentu sudah tahu hal tersebut. Tapi apa yang membuat “Zombeavers” terasa mengasyikkan adalah totalitasnya dalam menghadirkan setiap adegan gore-nya, tidak nanggung seperti “Burying The Ex” (2014) yang notabene berada dalam kelas yang sama. “Zombeavers” dengan segala animatronic berang-berangnya mampu membuat saya untuk duduk anteng meski di saat bersamaan terus dijejali dengan segala kebodohannya.   

Kelucuan demi kelucuan yang disuguhkan semakin menjadi-jadi tatkala para zombeavers mengepung kabin dan para gadis ini berteriak-teriak bak orang gila. Bagaimana tidak lucu, boneka berang-berang yang bentuknya kentara sekali seperti boneka itu bisa-bisanya membuat takut, pikir saya untuk ikut menjadi bodoh. Memang tidak banyak adegan yang secara eksplisit menampilkan tubuh-tubuh manusia tercabik-cabik di sini. Tapi sebagai gantinya, saya cukup girang ketika melihat zombeavers dihajar beramai-ramai. Puncaknya adalah ketika para gadis-gadis ini menusuk-menusuk zombeavers dengan pisau dapur berikut cara menusuknya yang amat sangat kaku sekali. Tidak berhenti hanya sampai di situ saja, sang sutradara Jordan Rubin juga mampu menghadirkan kelucuan (dan kebodohan) melalui caranya ‘menghemat’ bujet. Yaitu cukup dengan hanya menggoyang-goyangkan mobil ketika menampilkan scene mengendarai mobil. Seperti di sinetron-sinetron, Jordan rubin tahu betul memanfaatkan segala aspek kekurangannya menjadi sebuah hiburan menyegarkan.    

Pencuri perhatian dalam body horror semacam ini tentunya adalah pemanfaatan efek yang digunakannya dalam menghidupkan hewan-hewan hasil mutasi tersebut. Syukurlah, CGI tidak digunakan dalam menciptakan para  zombeavers. Animatronic berang-berang hasil rekaan “Creature Effects, Inc.” ini sebenarnya jauh dari kesan bagus atau menyeramkan. Cenderung kaku dan layaknya boneka teman tidur anak-anak. Tapi kembali lagi, peminimalisiran penggunaan CGI memang patut diapresiasi dan sangat efektif dalam memaparkan setiap kedetailannya. Segala kekurangan dari berbagai aspek film dengan bujet rendah semacam ini justru menjadi kelebihan tersendiri. Kelebihannya tidak lain sanggup memancing kelucuan-kelucuan, entah itu dari segi aktingnya, tindakan bodoh para karakternya, sampai berbagai macam properti yang digunakannya. Maka saya rasa cukup membuang-buang waktu bila kita membicarakan kekurangannya sebagai sisi buruknya.

Saya terhibur, menikmati, dan tentunya hampir tidak ada momen yang membosankan, kecuali memang Anda bukan tipikal penyuka B-Horror ‘murah’ seperti ini. Setidaknya Jordan Rubin masih tetap membuat saya betah untuk tetap menunggu siapa yang menjadi lone survivor di sini. Bahkan jika coba dibandingkan dengan film lain sekelasnya seperti “Stung” (2015), saya tentu lebih memilih “Zombeavers” jika dilihat dari segi totalitas penyuguhannya. “Zombeavers” memang bukan film yang bagus, tapi lewat kebodohan-kebodohannya yang menyenangkan dapat menjadi hiburan tanpa perlu banyak memeras otak. Bahkan di suasana hati yang kurang bagus pun, “Zombeavers” bisa menjadi mood-booster. Sedikit mengingatkan bahwa meski berlabelkan B-Horror, film seperti ini justru memiliki fanbase yang besar dan tidak sedikit menyandang status cult.
5,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !