Selasa, 04 Agustus 2015

WHITE GOD [2014]


“White God” mungkin dapat disamakan dengan “Rise of The Planet of The Apes” (2011) atau ‘saudaranya’ yang lain sebagai film yang mengangkat tema penjajahan oleh sekelompok hewan liar. Hanya bedanya, “White God” adalah versi yang lebih ‘berat’ dan dramatis. Film dari Hungaria ini banyak memanfaatkan peran dari ratusan anjing yang terlatih dengan begitu baik. Hal tersebut merupakan salah satu nilai lebih yang tidak dimiliki oleh film-film bertemakan serupa yang lebih banyak memanfaatkan penggunaan CGI. Hasilnya, kemasan yang begitu realistis dan secara emosional dapat dirasakan dengan baik.
  
“White God” diawali dengan adegan dimana Lili (Zsófia Psotta) yang tengah mengendarai sepedanya dikejar oleh ratusan anjing. Keadaan kota juga begitu lengangnya, membuat banyak pertanyaan pada sekuen di awal ini. Cerita kemudian dilempar ke belakang menuju perkenalan awal pada sosok Lili yang memelihara seekor anjing ras campuran bernama Hagen. Sayangnya, sang ayah, Daniel (Sándor Zsótér) sangat melarang keras Lili untuk memiliki anjing tersebut. Akibatnya, ayahnya lalu membuangnya di pinggiran jalan. Perjalanan Hagen kemudian berlanjut dengan berpindah-pindah kepemilikan hingga jatuh pada pertarungan anjing liar.

“White God” bukanlah film keluarga yang ringan layaknya Beethoven (1992) atau franchise Air Bud. Konflik internal antara Lili dengan ayahnya yang menimbulkan aura ‘dingin’, memang kurang cocok disebut sebagai film keluarga yang mengumbar banyak kebahagiaan. Yang ada adalah kita diperkenalkan pada sosok Lili yang keras kepala dan ketus, serta hubungan dengan ayahnya yang kurang begitu akrab. Konten dalam filmnya sendiri bahkan cenderung berisikan kekerasan, seperti ketika Hagen ditangkap oleh seorang petarung anjing. Pada bagian tersebut, banyak ditampilkan secara eksplisit proses training anjing biasa menjadi kelas petarung lewat treatment yang tampak tidak manusiawi. Bahkan, sesekali pertarungan anjing juga ditampilkan dengan buasnya hingga berdarah-darah. Dari sini, mungkin dapat dengan mudah kita telusuri ke mana arah jalan cerita “White God” ini selanjutnya.

Seperti komparasi saya dengan franchise “Planet of The Apes”, “White God” ini juga bercerita mengenai penguasaan oleh sekelompok hewan dalam jumlah yang sangat besar, dalam hal ini adalah anjing. Motif mendasarnya memang hampir sama, yaitu balas dendam sebagai kelompok yang terpinggirkan. Subjek yang dipilih pun juga hampir memiliki kesamaan, hewan-hewan dengan intelejensi yang tinggi seperti anjing dan simpanse. Pada bagian ini, “White God” memang tidak memiliki sesuatu yang benar-benar baru untuk ditampilkan lewat konfliknya. Tapi, film karya Kornél Mundruczó ini memiliki keistimewaan luar biasa lewat penggunaan ratusan anjing yang terlatih dengan sangat baik untuk menciptakan kesan yang begitu nyata. Patut diacungi jempol kemampuan para trainer di sini yang mampu mengarahkan dengan sempurna tiap pergerakan dari ratusan anjing ini.    

Konsep yang tertanam dalam film ini juga memiliki DNA dari “Spartacus” (1960) milik Stanley Kubrick. Dimana karakter Spartacus memiliki kemiripan dengan Hagen, sosok yang tertindas lalu menghimpun pasukan dalam jumlah besar sebagai bentuk perlawanan kembali. Sebagai hewan dengan intelejensi tinggi, tidak diragukan lagi bahwa anjing mampu mengingat dengan baik setiap memori yang tertanam di dalam pikirannya. Bukan tidak mungkin bila pada akhirnya anjing sanggup membalas dendam dengan mengingat siapa yang telah menyakitinya. Film ini tidak hanya sukses menampilkan adegan riot di perkotaan lewat serbuan para anjing ini, tapi juga mampu membuat penonton untuk mengkaji lebih dalam lagi terkait tingkah laku hewan yang diluar dugaan. Sebuah pencapaian yang tinggi dari Kornél Mundruczó dalam menghasilkan sebuah film bernuansa horror yang begitu thrilling, tanpa lupa meninggalkan kesan yang menghibur.
 
Berjalan dengan tempo lambat hingga pertengahan, “White God” lalu berubah menjadi ‘ganas’ di sepertiga menjelang akhir. Kornél Mundruczó dengan intens menampilkan adegan riot yang mencekam dan meneror Kota Budapest di setiap sudutnya. Pembantaian demi pembantaian yang dilancarkan lewat para anjing yang ‘menuntut balas’ ini dikemas dengan begitu apik dan memukau. Memang tidak sampai se-spektakuler dalam franchise “Planet of The Apes”, tapi minimnya penggunaan CGI di sini sukses menghidupkan unsur realistisnya dan memberi efek yang lebih ‘mengerikan’. Meski fokus banyak tercurah pada segerombolan anjing ini, tapi karakter Lili dan juga ayahnya tetap memiliki peran yang cukup besar. Sebagai pemilik Hagen, sudah dapat ditebak bahwa Lili merupakan tokoh kunci yang memegang kendali segala chaostic yang ditimbulkan oleh Hagen beserta kawanannya. 

Sebagai penutup, “White God” adalah film yang dibangun dengan kombinasi kuat antara akting bagus para cast-nya, baik cast para aktor-aktrisnya dan juga anjing yang digunakan di sini. Chemistry yang tercipta antar keduanya juga berjalan dengan begitu baik dan selaras. Tidak sempurna memang, tapi “White God” memberikan sesuatu yang baru bahwa hewan pun mampu memberikan performa terbaiknya meski tanpa harus dipenuhi CGI yang ‘membohongi’.

7 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !