Sabtu, 08 Agustus 2015

PRINCESS MONONOKE [1997]

**FILM SUPER**


Dari segi cerita, “Princess Mononoke” memang tidak terlalu fokus pada kehidupan anak-anak layaknya karya Hayao Miyazaki lainnya, seperti Spirited Away (2001), Kiki’s Delivery Service (1989), atau My Neighbor Totoro (1988). Bahkan, Grave of The Fireflies (disutradarai Isao Takahata, 1988) yang begitu tragis saja masih mengangkat soal anak-anak, hanya saja pengemasannya memang paling gelap di antara yang lain. Sedikit perbedaan tersebut tidak lantas membuat Miyazaki menghilangkan unsur fantasy-nya begitu saja. “Princess Mononoke” sangat kental dengan fantasy lewat banyaknya creature imajinatif dan menurut saya paling indah dari segi visualnya. Di sini Miyazaki terlihat sekali dalam memaksimalkan grafisnya yang tidak hanya halus, melainkan juga terlihat sangat hidup.

Cerita berawal dari sebuah desa bernama Emishi yang tiba-tiba diserang oleh iblis berbentuk babi hutan bernama Nago. Pemimpin desa tersebut, Ashitaka (Yōji Matsuda) berhasil mengalahkannya, tapi tangan kanannya mendapatkan kutukan setelah diserang Nago. Sesuai petunjuk dukun setempat, Ashitaka diminta pergi ke arah barat untuk melepaskan kutukan yang telah mengenainya. Bersama dengan rusa tunggangannya, Yakkuru, Ashitaka memulai pengembaraannya menuju hutan yang dikuasai oleh Shishigami atau “dewa rusa”. Sebab diketahui hanya dialah yang mampu membantu Ashitaka. Dalam pengembaraannya, ia juga mencari penyebab mengamuknya Nago.

Konflik utama yang diangkat ke dalam “Princess Mononoke” adalah mengenai alam atau lingkungan. Nago, awalnya adalah bangsa dewa berwujud babi hutan. Kebencian yang merongrong jiwanya, telah merubahnya menjadi sosok iblis yang mengerikan. Kebencian semacam apakah yang telah sanggup mengubah dewa yang suci menjadi iblis yang begitu mengerikan dan dibenci ?. Tidak lain merupakan ‘kebencian’ pada bangsa manusia yang telah seenaknya mengacaukan keseimbangan alam lewat penebangan hutan secara besar-besaran demi mengeruk material yang terkandung di bawahnya. Miyazaki tidak hanya bertutur soal menjaga kelestarian alam saja, melainkan menyerempet juga mengenai ‘kebencian’. Sebuah tema yang sebenarnya tidak ringan untuk diangkat ke dalam film animasi, apalagi menjadi suguhan bagi anak-anak. Terkait ‘tidak ringan’ tersebut, Miyazaki juga berkali-kali menampilkan secara eksplisit adegan berunsur gore, seperti anggota tubuh yang terlepas hingga wabah penyakit yang mengerikan. 

Kemudian, kutukan yang diterima oleh Ashitaka dalam sinopsis di atas menggiringnya ke daerah barat untuk bertemu seorang pemimpin wanita dari daerah pengolah besi bernama Eboshi Gozen (Yūko Tanaka). Bisa dikatakan, dialah biang keladi dari kemarahan para Forest Spirit. Dari penampilannya yang kerap memakai kimono dengan make-up cukup tebal dan tawa yang keras, kira-kira apa yang Anda pikirkan dengan penggambaran tersebut ?. Apalagi kalau bukan prostitute, atau lebih tepatnya adalah “mucikari”. Benar saja, Eboshi Gozen atau Lady Eboshi memang mempekerjakan banyak wanita dari kalangan prostitute sebagai pasukan militer. Sedangkan para pria, justru bagian yang mengolah ternak dan pangan. Miyazaki rupanya menyelipkan hal yang unik berupa pertukaran peran gender di sini, wanita mengerjakan tugas pria dan sebaliknya. Pada titik ini, Miyazaki benar-benar memasukkan konten yang begitu ‘dewasa’ dan ‘berat’ jika dibanding karyanya yang lain.   

Usai saya menjelaskan cukup rinci soal karakter dan konflik yang diangkat, pasti muncul pertanyaan mengenai siapakah Princess Mononoke sebenarnya ?. Perlu diketahui bahwa “Mononoke” hanyalah julukan yang disematkan oleh Eboshi Gozen kepada San (Yuriko Ishida), putri dari dewa serigala bernama Moro (Akihiro Miwa). Kata “Mononoke” berasal dari dua huruf kanji yang jika dibalik menjadi kaibutsu atau berarti “monster”. San dan Moro telah lama berperang dengan Eboshi Gozen dan pasukannya karena alasan yang telas saya jelaskan sebelumnya. Jika saya lihat dengan seksama, “Princess Mononoke” bukanlah film tentang Good vs Evil semata. Banyak karakter yang terasa sangat abu-abu di sini. Di satu sisi mungkin kita akan benci dengan Eboshi Gozen yang dengan tamaknya mengeruk kekayaan alam. Tapi di satu sisi kita akan memberikan respect melalui caranya ‘memanusiakan’ kaumnya. Singkatnya, “Princess Mononoke” ini lebih kepada perjuangan seorang pemimpin dalam melindungi kaumnya, baik itu Eboshi Gozen, San, dan Ashitaka untuk rakyat Emishi. 

“Princess Mononoke” begitu kompleks sekali dalam mengangkat banyak hal ke dalamnya. Kepedulian pada alam, mitologi-fantasi, peran gender, perjuangan pemimpin, hingga sejarah mengenai industrialisasi atau proses westernization di Jepang. Hal itu ditandai dengan mampunya bangsa Jepang di akhir era Muromachi tersebut dalam mengolah pasir besi menjadi besi dan kemampuan dalam menciptakan dan menggunakan senjata api. Bagi mereka yang mempelajari sejarah, terutama sejarah Jepang, tentunya “Princess Mononoke” merupakan objek yang cocok menjadi kajian utama. Kisah yang luar biasa bagus ini menjadi lebih memukau lagi ketika coretan-coretan tangan terampil para ilustratornya dalam memperindah visualnya. Begitu indah, mengagumkan, dan memanjakan mata. Musik instrumen khas Jepang yang mengalun merdu begitu serasinya dalam mengiringi frame demi frame berisikan gambar hutan yang sejuk dan rindang. Penonton pun dibuat terlena di saat bersamaan hanyut dalam kisahnya.   

“Princess Mononoke” begitu mudahnya merebut hati saya dan berhasil menggeser posisi “Spirited Away” sebagai film karya Miyazaki terfavorit. Film yang tidak hanya indah dan saya kagumi, tapi juga sangat sulit sekali mencari celanya. Bukan tidak ada, tapi saya tidak mau tahu dan tidak akan mencari kekurangan dari karya besar seorang Hayao Miyazaki ini.   

10 / 10

3 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !