Selasa, 18 Agustus 2015

PAPER PLANES [2014]

Film dengan konsep cerita mimpi seorang anak memang sudah banyak bertaburan. Salah satunya adalah film dari Australia arahan Robert Connolly ini. Hanya bedanya, “Paper Planes” menggunakan tema yang cukup langka, yaitu lomba menerbangkan pesawat kertas. Ya, saya sendiri pun baru kali ini mengetahui bahwa pesawat kertas pun mampu dilombakan. Tipikal film family semacam ini mudah ditebak akan berakhir dengan happy ending, tapi dalam pengembangannya tentunya sanggup memunculkan nuansa yang begitu hangat dan ceria. Cara penyampaiannya yang juga ringan membuat feel-good movie seperti ini mudah untuk dicerna dan disukai.   

Setelah diperkenalkan oleh guru dari Melbourne, Dylan (Ed Oxenbould) memiliki harapan yang begitu besar untuk bisa berkompetisi dalam perlombaan pesawat kertas tingkat SD seluruh Australia. Dengan harapan besar, jika lolos dalam tahap tersebut ia sanggup mengikuti kejuaraan dunia di Tokyo, Jepang. Sang ayah, Jack (Sam Worthington) rupanya masih berduka dengan kepergian sang istri, berakibat buruk pada pekerjaannya dan tanggungjawab pada Dylan. Bersama sang kakek, George (Terry Norris), dan banyak teman-temannya, ia berjuang keras untuk bisa memenangkan kejuaraan itu.

Film ini dibuka dengan proses pembuatan kertas dari sebuah pabrik besar hingga distribusinya ke daerah-daerah terpencil. Kemudian, sampailah pada sekolah dimana Dylan berada. Ya, Dylan tinggal dan bersekolah di daerah tandus Australia. Dari situlah ia mulai mengenal pesawat kertas lebih dalam lagi dengan dukungan sang guru dari Melbourne dan Pak Hickenlooper (Peter Rowsthorn). Percobaan pertamanya sendiri telah melebihi jarak 25 meter, yang tentunya kesempatan terbuka bagi Dylan untuk berlomba di tingkat nasional. Sebenarnya saya cukup menyayangkan terlalu seringnya penggunaan CGI di sepanjang film dalam membalut pesawat kertas yang sedang terbang, berpotensi besar mengurangi nilai realistisnya. Tapi semua seakan tidak menjadi masalah berarti dengan kekuatan drama yang dihadirkan, baik itu dari aspek kekeluargaan hingga persahabatan. Semua tersaji dengan begitu rapi dan menyegarkan ditunjang akting dari Ed Oxenbould yang cukup menghidupkan suasana.   

Sang ayah, Jack, yang hobi tidur, seolah-olah seperti orang yang tidak peduli akan masa depan anaknya. Bahkan dalam babak penyisihan menuju Sydney saja Jack tidak hadir. Tapi seiring waktu, Jack mulai meluapkan kepeduliannya dengan mengantarkan Dylan menuju Sydney hingga menjual barang-barang lama untuk biaya perjalanan Dylan ke Jepang. Pencuri perhatian di sini adalah George, kakek Dylan yang absurd, lucu, dan dijamin mengundang simpati penonton. Dibanding dengan Jack, kakek George dengan mudahnya menunjukkan kasih sayangnya dan kepeduliannya kepada Dylan lewat cara-cara konyol namun menyenangkan, seperti masuk diam-diam ke museum pesawat yang ternyata juga demi membangkitkan gairahnya di masa muda yang seorang pilot tempur. Meski porsi kemunculan George di sini tidaklah banyak, tapi perannya mampu memberikan energi yang kuat bahkan jika dibanding dengan Jack yang seorang ayah. Karakter Jack sendiri terlihat seperti maju-mundur alias tidak konsisten, terkadang ia mendukung penuh Dylan tapi di momen yang lain ia seakan lepas tangan.   

Sebagai penyeimbang bagi Dylan yang merupakan karakter utama, maka diciptakanlah Jason (Nicholas Bakopoulos-Cooke) yang merupakan pesaing senegara. Berbeda dengan Dylan, Jason terlihat lebih angkuh, cynical, dan memiliki kepercayaan diri begitu tinggi untuk bisa mengalahkan lawan-lawannya. Ia juga digambarkan kurang hangat dengan ayahnya melalui caranya memanggil dengan sebutan nama saja. Namun, Robert Connolly rupanya kurang menggali lebih dalam karakter Jason ini, seperti alasan di balik dinginnya hubungannya dengan sang ayah. Pun begitu dengan karakter Kimi (Ena Imai), sahabat baru Dylan dari Jepang, yang kurang dieksplorasi lebih dalam lagi. 

Tapi melihat persaingan antara Dylan dengan Jason di sini memang cukup menarik untuk dikupas, terutama dari latar belakang mereka berdua. Keduanya memiliki sisi opposite yang begitu kuat, Dylan yang besar di lingkungan pedesaan banyak belajar mengenai pesawat kertas melalui alam, dengan melihat cara terbang Clive, elang yang selalu ia beri makan. Sedangkan Jason yang putra seorang atlet ternama dan memiliki status sosial lebih tinggi, menggunakan teknologi modern untuk melatih kemampuan terbang pesawat kertas hasil lipatannya. Perbedaan kontras keduanya sangat menarik sekali untuk dilihat seberapa jauh kemampuan mereka dalam menghempaskan pesawat kertas.     

Setelah menikmati “Paper Planes” hingga paruh menjelang akhir, mulailah terasa bagian yang kurang dalam film ini, yaitu konflik. Tidak ada konflik berarti untuk diangkat ke dalam film ini. Terasa sangat datar dan berimbas pada minimnya emosi yang ditimbulkan. Padahal, jika adegan ‘kecelakaan’ menjelang akhir tersebut mampu dikembangkan oleh Robert Connolly dengan lebih kompleks, dapat dipastikan “Paper Planes” sanggup mempermainkan emosi lebih dalam lagi. Hambarnya emosi rupanya menimpa pada bagian momen-momen vital lainnya seperti lolosnya Dylan dari satu turnamen ke turnamen yang lain. Saya sebagai penonton pun tidak merasakan atmosfir yang begitu besar terasa pada momen tersebut. Namun di balik kurang sempurnanya, “Paper Planes” masih cukup menghibur sebagai suguhan yang begitu ringan dan hangat. Berbagai macam model pesawat kertas juga ditampilkan, tapi kembali lagi kurang begitu diperkenalkan lebih rinci. 
6,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !