Senin, 10 Agustus 2015

MISSION : IMPOSSIBLE - ROGUE NATION [2015]

Pertama-tama saya harus membuat pengakuan bahwa “Rogue Nation” ini adalah seri kedua dari “Mission Impossible” yang baru saya tonton setelah “Ghost Protocol” (2011). Dari keduanya, saya menangkap bahwa film espionage ini menawarkan hal-hal menarik yang mungkin tidak ada dalam film-film espionage lainnya, seperti team work  yang terjalin rapi hingga misi-misi menegangkan yang jauh dari kata ‘masuk akal’. Tidak hanya itu, franchise ini juga semakin mengukuhkan seorang Tom Cruise sebagai aktor yang benar-benar ‘gila’. Dengan kata lain, semakin ia menua semakin ia menjadi-jadi. Dengan melihat banyaknya ulasan positif dari mereka yang sudah menontonnya, maka kini giliran saya untuk membuktikannya. 

Aksi dimulai ketika Ethan Hunt (Tom Cruise) dijebak dan ditangkap oleh organisasi teroris bernama “The Syndicate” yang diketuai Solomon Lane (Sean Harris). Di saat yang bersamaan, IMF (Impossible Mission Force) telah diberhentikan oleh komite dan kini berada di bawah kendali CIA pimpinan Alan Hunley (Alex Baldwin). Dalam penangkapan Ethan Hunt tersebut, ia berhasil lolos dengan diselamatkan oleh Ilsa Faust (Rebecca Ferguson) yang keberpihakannya masih belum diketahui. Sembari mengungkap teka-teki terkait “The Syndicate”,  ia terus bersembunyi dari kejaran CIA.

Misi-misi yang ‘tidak masuk akal’, itulah kunci dari film ini. Sejak menit-menit awal, kita sudah banyak disuguhi adegan-adegan menegangkan sekaligus mengagumkan. Naik di atas pesawat, berkelahi di atap panggung opera, hingga kebut-kebutan di jalanan Maroko seperti orang kesetanan, semua suguhan tersebut memang bentuk konsistennya konsep film ini. Bahkan, saya sempat (maaf) mengumpat berkali-kali di bagian aksi kebut-kebutan, meski masih kalah ‘sinting’ jika dibandingkan ketika Ethan Hunt harus memanjat Burj Khalifa di Dubai. Sejalan dengan aksi-aksi yang berbahaya tersebut, “Mission Impossible” semakin menarik lagi ketika misi-misi sulit yang harus dijalani Hunt dkk. dihadirkan lewat fase-fase berlapis dengan tingkat kesulitan tinggi. Satu kasus selesai dengan baik, maka masalah yang baru pun datang menyusul. Seperti itulah kira-kira keseruan yang terus ditawarkan dalam film ini. Tidak bisa berhenti sejenak di satu titik, sebab ‘kegilaan’ yang lain tetap berlanjut.  

Sosok yang sebenarnya paling mencuri perhatian di sini adalah Ilsa Faust. Wanita misterius yang dengan lihainya mampu mempermainkan persepsi kita, di pihak manakah sebenarnya ia berjalan. Nama “Ilsa”, mungkin sedikit mengingatkan kita pada “Ilsa Lund” dalam romance klasik “Casablanca” (1942), diperankan dengan sangat baik oleh Ingrid Bergman. Atau mungkin sebuah homage ?, bisa saja. Mengingat “Rogue Nation” ini sempat mengambil setting di Kota Casablanca, Maroko (ketika Ilsa menyelam di kolam renang), yang juga merupakan setting yang digunakan oleh “Casablanca”. Bahkan bukan sekedar nama, sosok Ilsa Faust yang unpredictable ini layaknya “Ilsa Lund” yang sedang gundah di saat harus melindungi negaranya, ia terbawa emosi dengan Rick (Humphrey Bogart), versi drama dari Ethan Hunt. Karakter lain yang mampu bersinar terang di sini adalah Benji Dunn (Simon Pegg), selain memang hadir dengan gaya komikalnya yang kocak, ia juga punya peranan yang besar sekali untuk film kelima ini. Bagaimana dengan William Brandt (Jeremy Renner) ?, cukup disayangkan kali ini ia lebih sering ‘dikandangkan’ dalam ruangan.
 
Apa yang saya sukai dari “Mission Impossible” ini adalah penonton sering diajak bertamasya keliling dunia ke negara-negara yang eksotis. Tentunya jika kita menjadi seorang “Ethan Hunt”, bukan tamasya namanya jika kita harus menjalankan misi-misi mematikan. Skala yang luas dengan melibatkan banyak negara tersebut memang merupakan gimmick yang sanggup memancing atensi untuk menonton setiap seri film ini. Tentu bukan semata-mata keliling dunia saja yang menjadi promo jualannya, sebab ada franchise “Fast and Furious” yang juga melakukan hal sama di tiap serinya. Trademark, itulah yang selalu wajib ada di tiap seri “Mission Impossible”. Jika memanjat Burj Khalifa merupakan aksi ikonik Cruise untuk mengingatkan kita pada “Ghost Protocol”, maka bergelantungan di atas pesawat atau kebut-kebutan di Maroko adalah milik “Rogue Nation”. Sayangnya, saya tidak mengikuti seri sebelumnya untuk bisa saya tuliskan dalam ulasan ini. 
 
“Semakin tua semakin menjadi-jadi” memang benar adanya bagi Tom Cruise. Ini bukan hanya sekedar film mengenai espionage lewat misi-misi berbahaya dan mustahil saja, tapi sudah merupakan soul bagi mantan suami Nicole Kidman ini. Jika John Wayne dikenal lewat peran-peran ikoniknya dalam film western, maka sudah sepatutnya film-film dengan aksi menegangkan disematkan untuk Tom Cruise. “Mission Impossible” adalah Tom Cruise, dan Tom Cruise adalah “Mission Impossible”. Franchise ini sudah bagaikan ‘rumah’ atau mungkin ‘panggung sandiwara’ bagi dirinya. Dari segi hiburan, Tom Cruise sudah berhasil dengan baik memberikan hiburan yang seru serta mengasyikkan. Maka bukan tidak mungkin lagi bila sekuel-sekuelnya sangatlah wajib untuk ditunggu. Singkatnya, Tom Cruise memang juaranya soal mempermainkan ‘maut’.    

7,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !