Rabu, 05 Agustus 2015

KISAHKU DALAM "WALTER MITTY"


Sembari mengisi waktu luang di hari ini dan belum ada film yang diulas, maka terciptalah tulisan sederhana ini. Selain itu, saya ingin mencoba lari sejenak dari rutinitas harian dalam menonton film lalu memeras otak untuk menulis ulasan. Apakah bosan dengan film ?. Tentu tidak, menonton film adalah hobi yang sudah mendarah daging dan dari situlah saya mendapatkan banyak kesenangan-kesenangan dan sekaligus mempelajari hal-hal baru. 

Apakah bosan menulis ?. Untuk saat ini belum (tertawa). Semoga saja tidak. Layaknya menonton film, saya pun sudah menemukan kesenangan lewat tumpahan opini dan pikiran ke dalam tulisan. Jika bosan maklum saja, saya baru mulai menulis (ngeblog) selama 3 bulan ini, terhitung sejak awal bulan Mei kemarin. 

Baik, kembali ke judul tulisan ini. Bagi Anda yang mungkin sedang membaca tulisan ini (jika ada), pastilah terbesit pertanyaan sekilas, “Ada apa dengan Walter Mitty ?”. Terlebih lagi, “Siapakah Walter Mitty ?”.

Bagi yang sudah menonton film karya Ben Stiller berjudul “The Secret Life of Walter Mitty” tahun 2014 lalu, pasti sudah mengenal dengan baik sosok ini. Perlukah saya tulis kembali sinopsisnya di sini ?. Saya rasa tidak perlu, karena Anda dapat mencarinya sendiri dari sumber-sumber referensi lain. Tapi untuk karakter dari Walter Mitty, perlu saya tulis singkat di sini. Walter Mitty diperankan sendiri oleh Ben Stiller, ia seorang karyawan dari majalah Time pada bagian pencetak foto. Dalam tulisan ini, bukan masalah pekerjaannya yang membuatnya terhubung dengan saya. Melainkan, kebiasaannya yang selalu bermain lewat imajinasi setiap waktunya. 

Ya, saya memiliki kebiasaan yang sama persis dengan apa yang dimiliki oleh Walter Mitty. Dalam setiap hari, jam, bahkan menit, saya tidak pernah lepas dari yang namanya ‘berimajinasi’. Sebuah kegiatan untung/tidak untung dalam menciptakan dunia dan karakter yang berasal dari pikiran saya sendiri. Dalam dunia tersebut, saya bebas menjadi siapa saja (tentunya yang baik dan keren abis), seperti menjadi seorang superhero hingga pangeran tampan yang tengah menanti sang putri. Terkadang, juga saya membayangkan menjadi apa di masa kelak, atau sekedar pemuas harapan-harapan yang tidak mungkin/sulit terkabul.

Baikkah hal tersebut ?.

Tentunya ada dua sisi dalam menjawab pertanyaan tersebut. Salah satunya memang menjadi premis dalam film yang juga dibintangi Sean Penn ini. Baik, karena mampu melatih daya imajinasi. Kurang baik, karena wasting time dan hanya berputar-putar dalam ketidakmampuan untuk mewujudkan ide dan harapan. Saya sendiri pun sampai detik ini masih sulit menghilangkan kebiasaan yang menurut saya pribadi memang kurang baik tersebut. Saya mengakui pula, bahwa sifat-sifat yang ada pada Walter Mitty benar-benar merupakan refleksi dari saya sendiri, seperti kecanggungan atau ketakutan untuk ‘melangkah’ lebih jauh.   

Stop Dreaming, Start Living sebagai tagline dalam kisah “The Secret Life of Walter Mitty” memang benar adanya. Film ini pun benar-benar sukses telah ‘menampar’ saya dan mengingatkan saya kembali untuk menjadi pribadi yang berani keluar dari kebiasaan yang melemahkan. Maaf jika ini terlalu subjektif, tapi memang itulah yang saya rasakan dalam film ini. Efeknya, setiap kali daydreaming, saya mencoba untuk segera menghentikannya dan film ini telah menjadi semacam obat keras untuk mengguncangkan saya dari ketidaksadaran itu.

Pernah merasa bila kebiasaan ‘konyol’ ini hanya saya sendiri yang memilikinya. Wajar saja bila sempat shock ketika mendapati sebuah film yang dengan terangnya telah ‘memfilmkan’ hidup saya. Hanya bedanya, Walter Mitty telah menemukan apa yang selama ini ia impikan. Sedangkan saya ?. Belum memang, tapi keyakinan besar bahwa ‘cahaya’ tersebut akan mampu saya genggam di kemudian hari. 

Jika dipikir lagi, betapa lucunya bila kita mengetahui ada sebuah film yang persis menceritakan kisah hidup kita. Adakalanya kita tersenyum kecil hingga tidak lepas dari perasaan malu. Adakalanya mungkin merasa benci. Sebab ibaratnya film memang merupakan refleksi dari kehidupan nyata kita sehari-hari.
Jika ada pertanyaan, “Film apa yang paling menggambarkan hidup Anda ?”. Silakan jawab dan jelaskan dalam komentar di bawah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !