Rabu, 22 Juni 2016

TAMPOPO [1985]

“Tampopo” arahan Juzo Itami (penulis naskahnya juga) memiliki tagline: “ramen western.” Penyebutan ramen western di sini tidaklah merujuk pada nama makanan—ramen bergaya barat, misalnya. Akan tetapi ini adalah istilah yang memiliki makna kurang lebih seperti spaghetti western; film western yang dibuat di luar Amerika (Itali). Begitu juga dengan “Tampopo,” ini adalah film western yang dibuat di Jepang.

Benar, jika sudah menontonnya, Anda akan mendapati ramen dengan penyajian ala barat di sini. Bukan ala Itali, tapi ala Perancis. Judulnya memang memiliki kesinambungan dengan isi dari filmnya. Akan tetapi apa yang ingin Juzo Itami coba pamerkan di sini adalah kekreativitasannya dalam mengembangkan genre baru di dunia film. Ramen western...ada Jepangnya, ada baratnya.

Menyebut film ini sebagai film bertemakan makanan juga tepat. Toh nanti Anda akan puas ‘hanya’ dengan melihat aneka macam makanan Jepang di film ini—sebagian besar dari jenis mie saja. Juzo Itami dalam “Tampopo” mengajak kita menyelami dunia makanan hingga seluk beluknya. Dengan penceritaan penuh canda tawa pastinya.

Hero di film ini adalah Gorō (Tsutomu Yamazaki), seorang sopir truk yang berpenampilan nyentrik ala koboi. Lengkap dengan topi, rompi, dan rokok. Gaya bicara dan senyumnya pun mencerminkan koboi ala Amerika. Hanya kali ini Gorō tidak menunggang kuda, tapi truk.

Gorō tidak sendiri dalam berpetualang di jalanan. Ia ditemani sang sidekick, Gun (Ken Watanabe). Seperti dalam film-film western ala Hollywood, kita tahu setiap hero-nya selalu ditemani sidekick. Kita juga tidak pernah tahu kemana sang hero ini berasal dan kemana ia akan pergi. Mereka adalah sosok yang besar dan hidup di jalanan yang keras.

Di suatu malam berhujan deras, Gorō dan Gun mampir ke sebuah kedai ramen. Si pemilik kedai yang bernama Tampopo (Nobuko Miyamoto), tengah digoda oleh para berandalan. Pemimpinnya bernama Pisken (Rikiya Yasuoka), rupanya menyukai Tampopo.

Dasar Gorō yang benci dengan ketidakadilan, ia menantang berkelahi Pisken beserta anak buahnya. Ajakan itu pun dituruti. Mereka berkelahi di luar kedai. Karena kalah jumlah, Gorō jadi babak belur dan pingsan dibuatnya. Malam itu juga, Gorō terpaksa tinggal di rumah Tampopo.

Keesokannya, Gorō dan Gun ijin pamit untuk melanjutkan perjalanan. Atas permintaan Tampopo, Gorō dan Gun mengungkapkan rasa ramen yang dijualnya. Ramen buatan Tampopo masih jauh dari enak, katanya. Karena ingin sukses dalam hal ramen, Tampopo memaksa Gorō untuk tetap tinggal dan mengajari cara membuatnya. Gorō tidak bisa menolak.

Kita pasti sudah tahu bagaimana kelanjutan filmnya. Dua tokoh ini lalu melakukan eksplorasi aneka macam ramen di setiap kedai kompetitornya. Selama proses pencarian komposisi ramen yang tepat itu, banyak peristiwa lucu yang mereka alami. 

Selain dari plot utama yang disuguhkan, “Tampopo” juga dihiasi banyak sub-plot untuk memperkaya alur ceritanya. Kesemua sub-plot memang berdiri sendiri dengan plot utama, akan tetapi fokus yang diambil masih soal mie. 

Salah satu yang bisa saya ceritakan di sini (karena jumlahnya ada banyak) adalah orang-orang Jepang yang memakan spaghetti dengan cara menghirupnya hingga bersuara. Mereka lebih percaya orang barat yang salah memakan spaghetti, daripada mentornya yang sama-sama orang Jepang. Memang bukan orang Jepang rasanya kalau makan ramen (dan semua jenis mie lainnya) tanpa berbunyi, “sluuurrppp.”

Faktor yang membuat “Tampopo” lucu dan menarik adalah Juzo Itami mencoba memasukkan aspek kultural di sini. Khususnya cara orang Jepang dalam melihat makanan; bagaimana mereka menghidangkannya, memakannya, menghormatinya, dll. Di bagian awal film, diceritakan sedikit bagaimana cara menikmati ramen yang tepat. Mungkin terlihat ‘aneh’ dan berlebihan, tapi itulah fakta menariknya.

Mungkin film seperti “Tampopo” ini sulit untuk dinikmati karena kental dengan aspek budaya Jepangnya. Maka, cara paling tepat untuk menghayatinya sendiri adalah mengerti budaya Jepang meski pun hanya sedikit. Terutama dalam hal makanan. 

Bagi orang Jepang sendiri, “makan” bukanlah sekedar kegiatan memasukkan makanan ke dalam perut. Lebih dari itu, makan adalah sebuah ritual suci. Ada harmonisasi di dalamnya. Orang Jepang paham betul mengenai hal ini. Mereka juga dikenal begitu menghormati makanan; mulai dari persiapan awal hingga bagian penyelesaiannya. Contohnya saja, memakan makanan tidak langsung saja masuk ke mulut atau berhenti di tengah jalan dengan menyisakannya.

“Tampopo” adalah petualangan tentang bagaimana seharusnya manusia itu memanusiakan makanan. Oleh karena itu, saya menganggap bila “Tampopo” adalah film yang begitu humanis. Pembahasannya mendalam dan njelimet, tapi disajikan oleh Juzo Itami dengan ringan dan jenaka. Dalam film ini kita akan tahu kalau makanan memang harus dihargai. Sebab setiap potongnya merupakan berkah.  

2 komentar:

  1. "Zapplerepair pengerjaan di tempat. Zapplerepair memberikan jasa service onsite home servis pengerjaan di tempat khusus untuk kota Jakarta, Bandung dan Surabaya dengan menaikan level servis ditambah free konsultasi untuk solusi di bidang data security, Networking dan performa yang cocok untuk kebutuhan anda dan sengat terjangkau di kantong" anda (http://onsite.znotebookrepair.com)
    TIPS DAN TRICK UNTUK PENGGUNA SMARTPHONE

    BalasHapus
  2. makasih artikel ini sangat membantu .#daebak

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !