Jumat, 24 Juni 2016

THE CONJURING 2 [2016]

Dengan hadirnya “The Conjuring” (2013), telah mengukuhkan James Wan sebagai sutradara horror besar abad ini. Dan benar, “The Conjuring” bak sebuah fenomena bagi genre ini. Dengan sekejap, “The Conjuring” disebut-sebut sebagai mahakarya dari sang sutradara. Tak ayal dalam kesuksesannya di film pertama tersebut membuatnya kembali menyutradarai sekuel.

Tidak bisa disangkal bila kebanyakan sebuah sekuel malah berakhir menjadi penghancur bagi pendahulunya. Demi meraup keuntungan komersial, sekuel dibuat tanpa memikirkan matang-matang konsep. Asal masih bisa jadi mesin pencetak uang, kenapa tidak? Lalu, bagaimana dengan “The Conjuring 2”?

Melihat daya pikatnya di film pertama (meski saya sudah lupa sebagian besar alurnya), kehadiran sekuelnya sudah tentu dinantikan oleh pecinta horror—atau lebih luas lagi. Melihat James Wan yang sudah mengerahkan semuanya dalam prekuel itu, apakah ia masih menyimpan amunisi untuk film lanjutannya? Tentu ini merupakan pertanyaan yang amat besar.

Ada kemungkinan ia masih mengulang formula yang sama. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga, Wan masih menyimpan segudang kejutan. Dengan membawa embel-embel “diangkat dari kisah nyata,” dipastikan film ini memiliki daya jual yang amat sangat tinggi. Saya katakan demikian, sebab ekspektasi penonton tentu lebih besar lewat sajian berkonten irasional tapi nyata terjadi.

“The Conjuring 2” dibuka dengan sebuah sekuen ketika duo paranormal, Ed Warren (Patrick Wilson) dan Lorraine (Vera Farmiga), tengah menangani kasus paling terkenal mereka. Disebut dengan Amityville Horror, kasus ini seakan membuka mata publik terkait kejadian gaib di era modern. Karena kasus ini sudah sering diangkat ke layar lebar, tentu Wan tidak akan menggunakannya lagi.
Sekuen pertama tersebut hanyalah sekedar pembuka untuk menuju kasus lainnya. Rupanya Wan masih menggunakan formula yang sama dengan prekuelnya di sini. Ingat bahwa kasus boneka Annabelle di sekuen awal film pertama, hanyalah sekedar pengantar menuju alur utama film. 

Kasus Amityville Horror mengantarkan Ed dan Lorraine menuju Enfield, Inggris. Kasus tersebut dikenal sebagai yang paling mengerikan dari sepanjang pengalaman mereka dalam menangani makhluk tak kasat mata. Tidak mau menunggu lama, Wan sudah menampakkan sosok antagonis bernama Valak; hantu berwujud biarawati yang menurut saya lebih mirip dengan Marylin Manson (kabarnya karakter ini akan dibuat spin-off). 

Sesampainya di Enfield, Ed dan Lorraine membantu keluarga Hodgson yang diganggu oleh entitas gaib. Anggota keluarga itu terdiri dari Peggy (Frances O’Connor), sang ibu; Janet (Madison Wolfe), anak kedua; Margaret (Lauren Esposito), anak tertua; serta dua anak laki-laki. Keluarga itu sering diganggu oleh roh penunggu lamanya yang mengaku bernama Bill Wilkins. Khususnya bagi Janet, ia sering menjadi media bagi Bill untuk berinteraksi.

Konflik yang dihadirkan di sini tidak hanya soal upaya bagi Ed dan Lorraine dalam mengusir roh jahat itu. Akan tetapi bagaimana bisa meyakinkan pihak gereja tempat mereka berasosiasi, bahwa kejadian tersebut bukanlah rekayasa. Naskah dari James Wan ternyata cukup dalam untuk menggali permasalahan dari cerita. Terasa lebih padat, Wan tidak ingin ini hanya sekedar cerita tentang pengusiran makhluk gaib semata.
Di aspek dramanya, “The Conjuring 2” mampu melebihi pendahulunya. Di sini kita bisa bersimpati pada para karakter yang ditimpa kemalangan. Bukan sekedar mereka diganggu oleh roh jahat semata. Akan tetapi bagaimana kita bisa berdiri di samping mereka; mendukung dan memercayai apa yang mereka alami.

Tidak dipungkiri kalau “The Conjuring 2” masih mengulangi template dari film sebelumnya. Sepertinya James Wan masih belum move on dari sana. Namun kekurangan kecil itu saya rasa tidak berpengaruh besar pada kekuatan filmnya. Selain ditingkatkannya kualitas dramanya, bagian third-act menghadirkan keseruan yang amat menyenangkan. Singkatnya, sangat sesuai dengan yang saya harapkan. 

Untuk menjadi horror yang spektakuler, “The Conjuring 2” sudah berhasil. Pun bila disebut melebihi prekuelnya. Namun jika untuk masuk ke dalam tahapan luar biasa, saya pikir masih banyak hal yang perlu untuk diperbaiki. Bila waralaba ini masih diharapkan meraih banyak keuntungan, semoga James Wan mampu meningkatkannya lagi di berbagai lini.    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !