Selasa, 21 Juni 2016

SON OF SAUL [2015]

“Son of Saul” adalah debut film panjang dari László Nemes yang mengguncangkan. Bersama dengan Clara Royer, ia menulis naskahnya. Sebagai karya perdana, Nemes telah menunjukkan kemampuannya yang mengagumkan dalam membuat film yang gripping. Tidak mengejutkan filmnya berhasil menyabet Grand Prix di Festival Film Cannes tahun lalu. Serta, memenangkan kategori Film Asing Terbaik (wakil dari Hungaria) di Academy Awards ke 88.

Film ini mengambil latar di kamp konsentrasi Auschwitz, Polandia, selama Perang Dunia II. Dengan mengambil latar di sana, maka dalam bayangan kita film ini tidak jauh dari peristiwa holocaust. Benar sekali. “Son of Saul” dengan eksplisit akan menampilkan banyak sekuen fenomenal seperti gas chambers hingga pembakaran mayat kaum Yahudi.

Tapi untuk “Son of Saul,” topik utamanya tidak hanya tentang holocaust semata. Ini film yang mengedepankan sisi humanisme. Dengan dukungan performa yang ‘menggigit’ serta sinematografi ciamik, “Son of Saul” adalah film yang manusiawi dengan balutan “horor” di luarnya.

Sinematografer Mátyás Erdély banyak mengambil gambar dengan berfokus pada karakter. Tracking shot juga banyak dilakukan demi menimbulkan kesan bahwa pandangan kita hanya tertuju pada karakter utama. Benar saja, sebab yang menjadi ‘hidangan’ utama filmnya adalah peristiwa yang dialami selama hampir sehari semalam dari karakter utama. Kita akan menjadi saksi pergulatan hidupnya dalam waktu sesingkat itu.
Keindahan lain “Son of Saul” dari aspek visualnya ada pada aspek rasio 1.372:1. Tampilannya yang terlihat sempit, seakan mengetengahkan jiwa-jiwa karakternya yang sedang dalam kekalutan—sesak. Rasio sempitnya juga membuat film ini menjadi terasa klasik; lengkap dengan rounded frame-edges.

Di menit-menit awal, kamera dengan begitu intens menangkap gambar dari Saul Ausländer (Géza Röhrig). Ia tengah menggiring para tahanan masuk ke dalam kamar gas untuk segera dieksekusi. Selepas para tahanan dinyatakan mati, ia bertugas mengumpulkan mayat untuk selanjutnya dibakar. Ia juga yang membersihkan kamar gas dari darah para tahanan yang berceceran.

Tapi Saul tidak sendiri. Ia adalah satu dari sekian sonderkommando. Berasal dari Bahasa Jerman, yang berarti tahanan dengan tugas khusus. Ya, Saul juga tahanan sama seperti lainnya. Hanya saja ia memiliki tugas khusus dalam proses ‘pembersihan’ mayat tahanan. Tanda silang merah di belakang bajunya menjadi pembeda dengan lainnya. Pada akhirnya, jika tugas sudah selesai, Saul dan sonderkommando lainnya juga akan bernasib sama.

Pada suatu pagi, Saul melakukan rutinitas seperti biasanya. Tiada ketakutan, kecemasan, sekali pun penyesalan tergambar di wajahnya. Ekspresinya datar. Tapi ini bukan berarti performa dari Géza Röhrig saya cap buruk. Akan tetapi sebaliknya, Röhrig sangat sempurna dengan perannya. Ia begitu menyatu dengan karakter yang dimainkan. Saul, seorang pria yang telah melihat ratusan kali kematian di depan matanya. Tak ada lagi air mata.

Pada pagi itu, Saul mendapati bocah laki-laki dari para tawanan yang masih bernafas setelah melewati kamar gas. Saul meraihnya. Menggendongnya. Membawanya pergi menuju dokter tahanan Hungaria, Miklós (Sándor Zsótér). Ia meminta sang dokter untuk tidak mengotopsinya seperti jenazah tahanan yang lain.
Saul berinisiatif untuk mengebumikan bocah laki-laki yang kemudian diakuinya sebagai putranya. Untuk itu, ia memerlukan seorang rabbi yang membantunya dalam penguburan. Selama proses mencari rabbi, Saul juga diajak dalam pemberontakan melawan tentara SS bersama sonderkommando lainnya, Abraham (Levente Molnár).

Naskah dari Nemes dan Royer banyak mengetengahkan soal kehidupan para tahanan Yahudi selama di kamp konsentrasi. Lebih spesifik lagi, Nemes menggiring kita dalam menjelajahi apa yang dilakukan oleh Saul selama sehari semalam itu. Di sinilah kita akan menjadi saksi mata; dimana Saul harus melakukan pemberontakan, sementara ia merasa bertanggungjawab menguburkan bocah yang diakui sebagai putranya.

Film ini bertutur mengenai menjadi manusia dan bagaimana memanusiakan sesama manusia. Kita dapat melihatnya pada diri Saul. Di tengah ‘kesibukannya’ ambil bagian dari pemberontakan, ia masih menyempatkan waktu membahayakan diri demi jiwa yang telah pergi. Salah satu kekuatan dari “Son of Saul” tidak hanya aspek cerita dan naskah yang solid, tapi juga sinematografi dan performa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !