Minggu, 19 Juni 2016

REPULSION [1965]

Seringnya menampilkan jump scare dalam film horror era sekarang boleh dibilang sudah kebablasan. Alih-alih menciptakan suasana mencekam, yang ada justru kekesalan dirasakan oleh penonton. Mungkin bisa ditolerir jika kemunculannya sekitar sepuluh tahun lalu. Tapi untuk sekarang, ‘mainan’ usang itu belum diperlukan lagi.

Horror yang bagus itu tidak perlu repot-repot menakut-nakuti penonton dengan gelaran mumbo jumbo-nya. Cukup tempatkan kejutan-kejutan kecil nan sederhana—asal nyeleneh, aura mencekam bisa diciptakan.  

Di sini ada horror klasik Inggris yang perlu Anda tonton—jika mengaku pecinta genre ini. “Repulsion” adalah bagian pertama dari “Apartment Trilogy,” yang kemudian disusul dengan “Rosemary’s Baby” (1968)—Anda bisa baca ulasannya di blog ini. Seperti dengan penerusnya, film ini lebih banyak memakai latar di dalam apartemen. Tapi jangan dulu berspekulasi kalau apartemennya berhantu. Tidak. Anda tidak akan menemukannya di sini.

Disutradarai dan ditulis oleh Roman Polanski (“Chinatown” 1974) bersama Gérard Brach, ini adalah debutnya dalam Bahasa Inggris. Polanski menampilkan banyak hal luar biasa dalam film psychological – horror-nya ini. Beberapa teknik pengambilan gambar hingga penggunaan properti yang unik menjadi sajian groundbreaking kala itu.

“Repulsion” berfokus pada keseharian dari Carol Ledoux (Catherine Deneuve). Ia seorang gadis yang amat pendiam, canggung, dan sering melamun. Ia juga mengidap insomnia akut. Tatapan matanya juga sering kosong saat diajak berbicara. Seolah menyiratkan ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan di baliknya.

Carol tinggal berdua bersama kakaknya, Helen (Yvonne Furneaux) di apartemen—tentu. Ia bekerja di sebuah salon kecantikan. Suatu ketika, Helen memutuskan untuk pergi berlibur bersama kekasih gelapnya, Michael (Ian Hendry). Tiap kali Helen keluar rumah, ada perasaan was-was selalu menggelayut di hati Carol. Seakan-akan ia tidak ingin ditinggal sendiri di dalam apartemen.

Beberapa kejadian aneh kerap dialami Carol saat ditinggal sendiri. Bayangan pria misterius tiba-tiba muncul di cermin hingga suara-suara aneh sering terdengar. Tiap malam Carol tak kuasa memejamkan mata. Kegelisahan Carol dalam apartemen menimbulkan rasa klaustropobik; sesak, mencekam, dan tidak nyaman.

Kandungan dalam pengisahan lewat karakter utama di sini adalah pengalaman traumatis seseorang di masa lalu. Jika kita perhatikan lebih dalam, sosok Carol ini begitu antipati dengan berbagai hal yang menjurus pada ‘seksualitas.’ Kita dapat melihatnya dari penolakan Carol kepada Colin (John Fraser) yang menyukainya, atau ketika ia menjadi saksi atas ‘hubungan intim’ Helen dengan Michael.

Untuk ukuran tahun tersebut, “Repulsion” adalah satu dari sekian film horror yang menakjubkan. Dengan banyak bermain dalam tempo lambat, filmnya berhasil menciptakan ketegangan ekstra di kala menontonnya. Salah satu kesuksesan Polanski dalam film ini ada pada gaya penuturannya. Kamera close-up, bunyi-bunyian creepy yang terlantun intens, serta sekuen bisu dalam momen dramatis.

Cara Polanski dalam menakut-nakuti penonton pun bisa dibilang tidak biasa. Cukup dengan menunjukkan hal sederhana saja. Contohnya dinding kamar yang tiba-tiba retak, mampu membuat perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Bahkan hanya dengan daging kelinci yang tergeletak di piring saja sudah mengesankan sesuatu yang ganjil.

Polanski dan Brach memang sangat jenius dalam mempermainkan ketakutan penonton. Tidak perlu usaha terlalu keras berujung berlebihan, objek sederhana saja mampu tampil menjadi teror. Di situlah sisi menariknya, bagaimana rasa takut terkadang muncul dari hal kecil yang sering dianggap remeh.

Seperti dalam “Rosemary’s Baby,” Polanski juga menampilan dream sequence ‘aneh’ di menjelang akhir film. Sepertinya ini memang sudah menjadi ciri khasnya. Polanski menerapkan sesuatu yang baru dan berbeda dalam sekuen tersebut. Yang mana saya yakin, menjadi sekuen yang menginspirasi film-film yang keluar sesudahnya. 

Cukup melihat dari segi teknikalnya saja, “Repulsion” adalah film horror yang berbeda dibanding dengan film-film serupa di masanya. Film ini sudah cukup menjadi bukti kepiawaian Polanski dalam mengolah gambar, menghasilkan salah satu film horror terbaik. Tidak. Ini malahan salah satu film terbaik yang pernah dibuat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !