Minggu, 23 Agustus 2015

PHOENIX [2014]

**FILM SUPER**

Perang adalah gambaran nyata dari horror yang begitu ditakuti, dibenci, dan dikutuk. Namun, bagaimana dalam konflik berupa perang ‘fisik’ tersebut semakin diperparah dengan perang ‘batin’ ?. Mungkin sudah tidak mampu tergambarkan lagi betapa mengerikannya perang semacam itu. Dua hal mengerikan itu rupanya dapat dihadirkan dengan begitu ‘indah’ oleh Christian Petzold dalam filmnya yang berjudul “Phoenix” ini. “Phoenix” nyatanya sungguh lengkap dalam menyuguhkan segala konfliknya, tidak hanya terasa miris semata, tapi juga terasa ‘menyentuh’ lewat romansanya. Saya sebagai penonton pun mampu dibawa masuk ke dalam cerita, memahami dan merasakan dengan sungguh-sungguh segala permasalahan yang tengah dialami oleh para pelakunya. Jika diperhatikan lebih seksama, “Phoenix” ini sedikit memiliki DNA dari “Vertigo” (1958) milik Alfred Hitchcock.

Bersettingkan Kota Berlin Barat pasca Perang Dunia II, “Phoenix” bercerita mengenai Nelly Lenz (Nina Hoss) yang mulai membangun hidupnya setelah lepas dari kamp konsentrasi. Nelly yang sebelumnya seorang penyanyi di klub malam, harus menanggung beban dengan pergantian wajahnya melalui operasi plastik akibat terluka parah. Tentu saja, hal tersebut berpotensi membuat suami yang dicintainya, Johnny (Ronald Zehrfeld) tidak lagi mengenalinya. Sahabat baiknya, Lene Winter (Nina Kunzendorf) meyakinkan Nelly untuk tidak lagi mencari Johnny yang telah mengkhianati cintanya. Namun, cinta Nelly yang besar mengharuskannya untuk menemukan Johnny.

Keadaan di Jerman kala itu benar-benar hancur berantakan. Berlin pun luluh lantak bagaikan kota mati. Korban berjatuhan pun tentunya sudah tidak terhitung. Keadaan miris tersebut berjalan seirama dengan apa yang dialami oleh Nelly. Seluruh hidupnya hancur. Ia kehilangan wajah aslinya yang dapat menjadi penghubung antara ia dengan suaminya yang menghilang. Apartemen tempat tinggalnya pun juga sudah lenyap, begitu pula dengan teman-temannya yang tewas dalam serangan. Singkatnya, sudah tidak ada harapan dan tidak ada masa depan lagi bagi Nelly. Akan tetapi, kekuatan cintanya yang besar akhirnya telah menjadi penunjuk bertemunya kembali pada sang suami di sebuah klub malam di antara reruntuhan bangunan. Klub malam itu bernama Phoenix. Tentunya sang suami, Johnny, tidak mengenali bahwa wanita yang memanggilnya berkali-kali tersebut adalah Nelly. Hati wanita mana yang tidak hancur dibuatnya. Namun, secercah harapan mulai datang melalui reuni di klub itu.

Pergolakan batin dialami oleh Nelly dengan menjadikan wajah barunya tersebut sebagai tameng untuk melihat tujuan ‘busuk’ Johnny yang sesungguhnya. Ya, Johnny meminta Nelly yang ‘baru’ itu untuk berdandan menyerupai Nelly yang ia kenal, dengan harapan dapat mengeruk keuntungan berupa uang yang banyak. Di samping itu, Lene pun berperan banyak untuk mengingatkan sahabatnya tersebut terkait ‘rupa’ asli dari Johnny. Terutama apa yang telah dilakukan Johnny pada Nelly pasca ditangkap, yang tentunya tidak diketahui oleh Nelly. Tapi kembali lagi, Nelly tetap bersikukuh untuk terus bersama Johnny dan melupakan segala hal yang telah direncanakan bersama Lene. Dalam hal ini, Nelly dengan penyamarannya sebagai “Esther” itu secara tidak langsung merupakan wujud pelepasan kerinduannya pada Johnny. Ia tahu, tujuan asli Johnny telah menghancurkan perasaannya, tapi tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk bisa bersama suami yang sangat dicintai. 

Tempo yang lambat dari “Phoenix” secara halus menyelipkan kepingan-kepingan misteri yang menunggu penonton untuk tetap bersabar menyusunnya menjadi satu kesatuan utuh. Sejak menit-menit pertama, “Phoenix” sangat intens membuat saya bertanya-tanya tentang “apa maksud dari semua ini” ? hingga “apa yang akan terjadi selanjutnya” ?. Christian Petzold dengan mahirnya menghadirkan cerita yang sebenarnya jika diuraikan lagi sangatlah sederhana, namun ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih berkarakter dan padat terasa. Semua itu tidak lain merupakan upayanya dalam memasukkan permainan emosi dan perspektif, sehingga lika-liku konflik yang ada semakin menguat. Saya pun merasa ikut terbawa masuk ke dalam cerita yang disampaikan, dan disaat bebarengan juga merasakan gembira, haru, dan benci. Semua karakternya pun kaya akan karakterisasi. Anda akan dibuat bersimpati dengan Nelly, secara berkebalikan akan membenci Johnny. Karakter ambigu dari Johnny ini sangat menarik lagi untuk dikaji lebih mendalam terkait kecurangannya pada Nelly dan di saat bersamaan rupanya telah membantu mengembalikan keindahan di masa lalunya.        

Sebagai film bersetting post-holocaust, “Phoenix” secara gamblang tanpa tedeng aling-aling menghadirkan ‘kengerian’ dan ‘ketakutan’ dengan totalitasnya. Sinematografi dari Hans Fromm turut banyak membantu di sektor tersebut, membuat kita semakin memahami betapa beratnya ‘dua perang’ yang tengah dihadapi si wanita malang bernama Nelly ini. Masa lalunya yang sempat terenggut memang dapat kembali ia peluk, tapi di saat itu pula masa depannya seolah lenyap bagai terhempaskan angin. Lagu dari Cole Porter yang berjudul “Night & Day” yang dinyanyikan di pertengahan film seakan menjadi simbol bagi masa lalu dan masa depannya. Namun disayangkan, kini ia tengah terombang-ambing di antara keduanya. Layaknya “Lost in Translation” (2003), “Phoenix” ditutup dengan ending yang sederhana tapi sungguh sangat misterius. Ending yang bisa memunculkan berbagai macam persepsi tersebut sanggup menjawab semua keraguan-keraguan yang merupakan konflik batin dari karakter utama ini. Penghukuman yang setimpal kah ?. 

“Phoenix” jelas merupakan sebuah masterpiece bernafaskan fiksi-sejarah yang tidak hanya kaya akan karakterisasi, tapi juga konflik ‘luar-dalam’ yang menyelimutinya. Ditunjang dengan performa outstanding para aktor-aktrisnya, “Phoenix” mempersembahkan romansa dalam balutan horror perang. Bukan film yang mudah diikuti memang, tapi bahan yang sangat menarik untuk didiskusikan. Selesai menonton pun, saya masih tidak bisa melepaskan ingatan pada film yang indah ini.

9,5 / 10

3 komentar:

  1. Kalau blog ini sudah bilang bagus, maka film ini wajib ditonton :)) *brb isi kuota :p

    BalasHapus
  2. wahh bang Doel bisa aja. Bang Doel malah lebih senior dari saya, hehehe.
    Semua kembali ke selera kok Bang Doel. Ya semoga saja selera saya bisa menjadi rekomendasi.

    Terima Kasih atas kunjungannya Bang Doel.

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !