Senin, 15 Juni 2015

SANTA SANGRE [1989]

**FILM SUPER**
<Mungkin Mengandung Spoiler>
Pertama kalinya saya menonton Santa Sangre, saya sudah merasa bahwa ini adalah film yang superb. Lalu kali kedua saya menontonnya, penilaian saya masih tidak berubah kalau film horror yang satu ini benar-benar luar biasa dan berbeda dengan horror pada umumnya. Penuh visual arts yang indah, surrealism, dan pesan moral yang mengena. Tidak mudah sebenarnya bagi saya sendiri untuk memahami secara keseluruhan apa yang dihadirkan oleh Alejandro Jodorowsky pada film ini. Tapi setidaknya, saya sedikit mengetahui bahwa Santa Sangre ini bercerita mengenai usaha manusia dalam melepaskan diri dari belenggu evil yang telah menguasai physical dan psychic.

Cerita berkisah tentang pesulap cilik, Fenix (Adan Jodorowsky) yang lahir dan besar di keluarga sirkus bernama El Gran Orgo. Ayahnya, Orgo (Guy Stockwell) yang menjadi pimpinannya, seorang knife-thrower, sedangkan ibunya, Concha (Blanca Guerra) seorang trapeze artist dan pemimpin sekte bernama Santa Sangre (Holy Blood). Kuil pemujaannya pada Lirio (patung gadis tanpa tangan) kemudian dihancurkan oleh warga yang tidak terima dengan ‘kesesatan’ yang disebarkannya. Concha semakin hancur lagi tatkala melihat suaminya berselingkuh dengan The Tattooed Woman (Thelma Tixou) yang merupakan objek/partner Orgo dalam lempar pisau. The Tattooed Woman memiliki anak angkat seumuran Fenix bernama Alma (Faviola Elenka Tapia) yang menjadi penghibur bagi kesedihan yang dialami oleh Fenix. 

Perselingkuhan Orgo pada The Tattooed Woman semakin menjadi-jadi, Concha pun tidak tinggal diam. Ia siramkan sulphuric acid pada mereka berdua. Orgo yang geram, memotong kedua tangan Concha (seperti Lirio yang menjadi saint pujaannya). Tak berapa lama, Orgo pun mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara yang tragis. Fenix hanya bisa melihatnya dari dalam trailer, karena sebelumnya ia dikunci dari luar oleh ibunya. Lalu, The Tattooed Woman membawa pergi Alma tanpa menolong mengeluarkan Fenix. Bertahun-tahun kemudian, Fenix yang sudah dewasa (Axel Jodorowsky) mengalami gangguan kejiwaan dan dirawat di sebuah mental asylum. Suatu ketika, kesadarannya kembali pulih (dengan alasan khusus) dan ia kemudian melarikan diri dari mental asylum tersebut setelah mendapat panggilan dari ibunya. Fenix pun kemudian menjadi sebuah ‘alat’ untuk melampiaskan segala dendam ibunya.
Santa Sangre bercerita banyak melalui gerak, musik, dan suasana, daripada naratif. Unsur fantasi dan wicked comedy-nya begitu kental terasa di beberapa bagian, seperti dalam beberapa adegan tragic yang ditampilkan, justru menjadi sebuah pemandangan yang tidak biasa ketika musik band ala Meksiko bermain di sekitarnya. Beberapa karakternya juga tampil absurd, unusual, dan odd-looking. Sebagai film surealis dengan penggabungan art yang tinggi (avant-garde), Sante Sangre tampil begitu indah, menawan, misterius, tapi juga dark. Sentuhan koreografi antara Axel Jodorowsky dengan Blanca Guerra menjadi sebuah sajian yang sangat indah sekali untuk dilihat, serasi dan juga dinamis. Dari aspek visual, sepertinya saya sudah banyak sekali memberikan pujian pada film ini. Tidak bermaksud membesar-besarkan, memang itulah yang saya rasakan pada aspek visual dalam Santa Sangre ini. Kelebihan dalam aspek visual itu juga berjalan seimbang dengan cerita yang dihadirkan dengan sangat kuat dan ber-’energi’. 

Meski bergenre horror, tapi Santa Sangre berbeda dengan horror pada umumnya. Tanpa jump scare, tanpa figur hantu yang menyeramkan, dan tanpa menampilkan kegiatan exorcise sekalipun. Kesan horror yang diperkuat dalam Santa Sangre lebih merupakan metafora berupa evil/kejahatan yang dilakukan oleh manusia di luar dari akal sehatnya. Kebanyakan, manusia sering melakukan kejahatan tanpa tahu apa yang melandasi mereka berbuat demikian. Di sini, Fenix berperan sebagai ‘tangan’ dari ibunya untuk membalaskan setiap dendamnya. Korban pertamanya adalah The Tattooed Woman, dan berlanjut pada wanita-wanita yang sebagian besar menjadi ‘penggoda’. Di awal kita akan melihat bahwa Fenix begitu tak kuasanya menahan tangannya untuk membunuh, sesuai dengan perintah ibunya. Dalam hal sehari-haripun, kedua tangan Fenix juga sebagai pengganti tangan ibunya dalam melakukan setiap kegiatan. Concha, merupakan simbol evil yang selalu memerintahkan manusia dalam berbuat kejahatan, meski dalam benak mencoba keras untuk menolak. Dan pada akhirnya, manusia diberikan 2 pilihan, antara menuruti sifat evil tersebut atau berusaha dengan kuat untuk melawannya. 

Alejandro Jodorowsky memberikan twist ending yang cukup mengagetkan, dimana Fenix akhirnya menghadapi kenyataan bahwa sosok ibu yang selama ini bersamanya tidak lain adalah boneka ventriloquist dengan bentuk yang menyerupai ibunya. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi ?. Bisa dikatakan, bahwa sebenarnya kejiwaan milik Fenix masihlah belum sembuh dengan sempurna. Ingatan masa lalunya terhadap kematian ibunya (ibunya memang sudah mati setelah kedua tangannya dipotong oleh suaminya), turut menciptakan sebuah halusinasi tentang sosok ibunya yang kemudian tinggal bersamanya. Dengan kata lain, ketika Fenix membunuh wanita-wanita tersebut sebenarnya murni ia lakukan sendiri melalui perintah halusinasinya yang berwujud ibunya. Sangat beralasan memang mengapa Fenix memilih The Tattooed Woman sebagai korban pertamanya, karena ia melihatnya sebagai orang yang telah menghancurkan keluarganya, menyebabkan kedua orangtuanya mati, dan bisnis sirkus keluarga pun juga hancur. 

Musik dari Simon Boswell menjadi iringan pembuka yang menggebrak dengan menampilkan seekor elang dengan pandangan yang tajam dan begitu gagahnya saat terbang. Elang tersebut, bisa jadi merupakan interpretasi dari sosok Fenix yang terbang bebas dari belenggu evil yang selama ini merasukinya. Tato elang di dadanya (seperti juga milik ayahnya), semakin memperkuat simbol kebebasan tersebut. Pertemuannya dengan Alma yang telah dewasa (Sabrina Dennison) menjadi obat kesedihannya, sama persis saat pertama kali mereka bertemu ketika Fennix sedih dan Alma yang menjadi penghiburnya. Meski Santa Sangre banyak menampilkan adegan yang vulgar dan explicit violence, tapi memiliki pesan moral kuat dalam mengajarkan untuk selalu melawan evil (yang bermacam rupa), dan bukan dengan mendukungnya atau memujanya.  Indah dan klasik, salah satu film horror terbaik yang pernah saya tonton.
ATAU
9,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !