Minggu, 21 Juni 2015

CINDERELLA [2015]

Setiap tahun Disney rutin merilis fairytale yang sudah dikenal sejak dahulu. Meski sebagian besar ceritanya sudah banyak yang tahu, tapi tetap tidak mengurangi keasyikan untuk menontonnya. Cinderella yang dalam Bahasa Jerman disebut Aschenputtel, merupakan salah satu karya legendaris dari Die Brüder Grimm / The Brothers Grimm yang kali ini mendapat bagian dari Disney untuk diangkat ke live action movie. Sedangkan untuk versi animasinya telah diadaptasi Disney pada tahun 1950.

Sepertinya saya sudah tidak perlu menuliskan panjang lebar sinopsis dari Cinderella yang sudah kelewat terkenal ini. Hanya saja, saya tetap ingin menuliskan aspek menarik dari versi live action movie terbaru ini. Saya suka keputusan Kenneth Branagh, sang sutradara, yang lebih setia dengan cerita orijinalnya yang klasik tanpa harus memberikan tambahan cerita baru di sana sini. Meski sebagian besar penonton sudah tahu akan ke mana cerita bermuara, tapi Cinderella tetap mengalir begitu saja menjadi sebuah sajian yang asyik untuk diikuti hingga bagian akhir. Sederhana, tapi juga elegan. Begitulah Cinderella versi terbaru ini dibuat.

Dari bagian cast, saya sangat suka sekali dengan pemilihan Lily James yang memerankan Cinderella ini. Aktris berkebangsaan Inggris ini sangat pas sekali memerankan Cinderella, cantik, anggun, dan menggemaskan. Kehidupan Cinderella di sini juga digambarkan tidak terlalu mellow dan memelas, justru ia merupakan pribadi yang berani, tangguh, dan lovable tentunya. Mungkin aspek yang membuat Cinderella versi baru ini begitu ‘istimewa’ adalah pembentukan karakternya yang menyesuaikan dengan have courage and be kind, kata-kata yang selalu ibunya pesankan pada Cinderella. Para cast lain seperti Richard Madden yang berperan sebagai Pangeran dan Cate Blanchett sebagai ibu tiri kejam juga bagus untuk mengisi para karakter di sini. Yang cukup mengagetkan adalah, Helena Bonham Carter yang biasanya selalu tampil insane, gloomy, dan quirky ini justru kebagian jatah sebagai Fairy Godmother. Bagus, meski kemunculannya hanya sebentar saja.   

Ketika menonton Cinderella versi baru ini, perhatian saya tidak bisa lepas pada 2 hal ini, Cinderella / Lily James dan gaun biru. Tidak perlu saya menjelaskan soal Lily James, karena Anda pasti tahu dengan apa yang saya pikirkan. Soal kostum, memang gaun biru Cinderella ini sangat menarik perhatian. Sesuai dengan konsepnya, gaun ini merupakan salah satu ‘senjata’ wajib untuk memikat sang Pangeran, selain sepatu kacanya. Gaun biru Cinderella ini didesain dengan sangat indah sekali, sederhana tanpa banyak aksen, tapi tetap dapat memancarkan cahaya keanggunannya. Lily James, seolah terlahir dengan peran dan gaun indah ini. Two thumbs up untuk departemen kostumnya.

Dari kisah legendaris Cinderella ini, memang banyak pesan moral dan hal menarik yang terkandung di dalamnya. Saya sendiri pun juga memiliki interpretasi sendiri terhadap karakter Cinderella. Cinderella adalah simbol good girl, di mana imej good girl selalu mencoba untuk dijauhkan dari kehidupan malam yang ‘liar’ dan pulang ke rumah sebelum tengah malam. Mudahnya, Cinderella adalah contoh good girl yang tidak suka keluyuran malam dan selalu mendengarkan nasihat dari orang tua, dalam hal ini adalah Fairy Godmother. Selain itu, “Cinderella” ini juga bercerita mengenai cinta sejati, meski tanpa sentuhan magic sekalipun. Saya rasa, bagian ini bisa menjadi kritikan satir untuk sebagian besar masyarakat kita yang masih suka bermain magic (pelet) dalam memikat seseorang yang disukainya. Ya, bisa jadi. Mungkin sebagian besar dari mereka masih belum menyadari akan cinta sejati yang tulus berasal dari hati. Tanpa paksaan, tanpa magic.

Terlepas dari interpretasi saya tersebut, Cinderella merupakan salah satu dongeng klasik yang sudah diturunkan selama ratusan tahun dari generasi ke generasi tanpa mengurangi keaslian dan keindahan ceritanya. Tidak akan pernah bisa usang dan tidak akan pernah membosankan, meskipun sudah diadaptasi ke berbagai versi.
ATAU
7,5 / 10

1 komentar:

AYO KITA DISKUSIKAN !