Minggu, 21 Juni 2015

BATTLESHIP POTEMKIN [1925]

**FILM SUPER**

Bicara masalah film propaganda, tidak pernah lepas dari proses dramatisasi yang terkadang menciptakan perpsektif yang pro dan kontra. Tujuan dari proses dramatisasi sendiri tentunya adalah untuk mengambil simpati para penontonnya. Dramatisasi dalam film propaganda biasanya turut diciptakannya pula sosok / karakter yang nantinya dengan mudah begitu dicintai dan dihormati. Selain itu, tentunya tidak lupa juga dengan penciptaan sosok yang begitu dibenci demi penyeimbangnya. Battleship Potemkin ini sering disebut-sebut sebagai salah satu film bisu propaganda terbaik sepanjang masa. Terlepas dari label ‘propaganda’, seluruh aspek dalam film ini memang luar biasa di masanya.

Battleship Potemkin secara keseluruhan terbagi menjadi 5 act atau chapter. Pada chapter pertama yang berjudul Men and Maggots ini berfokus pada 2 kelasi bernama Matyushenko dan Vakulinchuk (Aleksandr Antonov) yang menyuarakan kepada para teman-temannya untuk bangkit melawan kekejaman dan ketidakadilan rezim Tsar. Pemberontakan mereka didasari oleh tindakan yang semena-mena dari para petinggi rezim Tsar, dan salah satu buktinya adalah mereka dipaksa untuk tetap makan daging yang sudah busuk dan berbelatung. Langkah selanjutnya dari pemberontakan mereka adalah penolakan untuk makan Borsch (sejenis sup). 

Hal tersebut memancing kemarahan Komandan Golikov (Vladimir Barsky) untuk menghukum setiap pemberontak. Komandan Golikov persiapkan para prajurit untuk menembak mati siapa saja yang mencoba untuk memberontak pada Kekaisaran Tsar. Dengan tegas, Vakulinchuk meneriakkan kepada para prajurit untuk tidak menembaki sesama teman. Tragedi berdarah pun terjadi di atas kapal perang Potemkin, antara para pemberontak yang sudah digerakkan Vakulinchuk dengan Komandan Golikov beserta antek-anteknya. Chapter 2 ini berjudul Drama on The Deck. Tragedi ini merupakan awal dari tragedi puncak yang akan dipaparkan di chapter berjudul The Odessa Step.

Kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh rezim Tsar yang ditampilkan dalam film ini pastinya akan memancing kebencian yang sangat terhadap para rakyat Rusia yang menginginkan perubahan / revolusi. Maka dengan kemunculan sosok Vakulinchuk yang dengan tegas memerangi kekejaman dari para petinggi rezim Tsar ini, pastinya akan dengan mudah memancing reaksi penonton untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Vakulinchuk, dalam hal ini adalah penggulingan rezim Tsar. Sosok Vakulinchuk ini dibuat sedemikian rupa agar mudah menarik simpati, berkesan, dan mudah untuk dicintai oleh masyarakat yang menontonnya. Kekejaman dari rezim Tsar semakin dibesar-besarkan ketika sosok Vakulinchuk ini ‘dimatikan’, dan reaksi yang diharapkan dari part ini adalah untuk membuat masyarakat menjadi semakin benci pada rezim Tsar dan mampu menggerakkannya untuk memberikan perlawanan.

Puncak dari kekejaman rezim Tsar ini ditampilkan pada chapter 4 yang berjudul The Odessa Steps. Prajurit dari rezim Tsar ini digambarkan dengan begitu kejam, bengis, dan tidak mengenal ampun kepada mereka yang mencoba memberontak. Bahkan, seorang anak kecil dan ibu yang membawa bayinya pun tidak luput dari kekejamannya. Sergei Eisenstein benar-benar sukses menampilkan sebuah adegan dramatis dan epik, meskipun sebenarnya peristiwa berdarah di tangga Odessa ini sendiri tidak benar-benar terjadi. Tapi pastinya, kesuksesan muncul jika sang filmmaker telah berhasil membuat siapa yang menontonnya menjadi meyakini bahwa kejadian tersebut nyata terjadi. Memang seperti itulah penggambaran dalam film-film propaganda, sengaja dibesar-besarkan untuk menarik perhatian masyarakat dengan tujuan yang lebih besar. 

Jika melihat Battleship Potemkin ini dengan kacamata sejarah, tentunya kita akan melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Vakulinchuk (bagian dari kaum Bolshevik), tidak ada bedanya dengan apa yang dilakukan oleh rezim Tsar. Kaum Bolshevik (cikal bakal komunis) yang dipimpin oleh Lenin ini meyakini bahwa segala tujuan yang ingin diraih akan berhasil jika dilakukan dengan jalan kekerasan dan senjata. Berbeda dengan kompetitornya, Menshevik, yang lebih menyukai jalan kedamaian, meskipun keduanya juga berharap menggulingkan rezim Tsar yang dipimpin Nicholas II. Kekerasan dari kaum Bolshevik ini bisa dilihat dari cara Vakulinchuk dan pengikutnya yang tidak kalah kejam ketika menghadapi pasukan dari Komandan Golikov. Mereka bahkan tidak segan-segan membuang ke laut bagi mereka yang ingin melawan. Segala tindak kekerasan tersebut juga tidak lain merupakan propaganda / anjuran agar para pengikutnya juga menerapkan hal yang sama (kekerasan) dalam meraih tujuan bersama. 

Terlepas dari keradikalan Bolshevik / komunis, Sergein Eisenstein telah menorehkan prestasi luar biasa dalam hal pembuatan film dengan teknik montage (montase). Teknik montase sendiri merupakan teknik penggabungan antar shot menjadi sebuah scene yang utuh, biasanya menampilkan efek fade saat pergantian gambar, mempercepat waktu, dan menyelaraskan antara gerak dengan sound atau musik. Battleship Potemkin ini boleh jadi merupakan bentuk latihan Eisenstein dalam menyempurnakan teknik montase tadi. Yang tidak kalah uniknya, salah satu adegan yang menampilkan pengibaran bendera, sengaja memberi warna bendera dengan warna merah terang, meskipun film ini masih dalam format hitam putih. Teknik yang digunakan mungkin saja adalah pewarnaan frame by frame. Tujuannya tidak lain adalah untuk menekankan bahwa warna merah merupakan warna kebesaran bagi kaum Bolshevik / komunis.

Teknik canggih montase (kala itu) dengan sinematografi indah dari Eduard Tisse, merupakan bukti kuat bahwa film propaganda pun juga memiliki kualitas tinggi dan setara dengan film-film komersial lainnya. Maka tidak heran bila Battleship Potemkin juga sering disebut sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. Tanpa mencoba untuk melihatnya dengan perspektif ‘propaganda’, saya melihat Battleship Potemkin sebagai sebuah film yang luar biasa, hebat, epik, dan canggih.  

ATAU
9,5 / 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !