Senin, 29 Juni 2015

TRAFFIC [2000]

Seperti dalam drama eksperimental karyanya, The Girlfriend Experience (2009), Steven Soderbergh juga bermain dengan plot yang ­non-linier dalam film ini, atau lebih tepatnya adalah multiple plot. Selain itu, ia juga banyak menggunakan permainan warna dalam sinematografi di tiap storyline yang berbeda. Traffic bercerita tentang “narkoba” secara luas dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pecandu, polisi, DEA, pengusaha, hakim, hingga jendral. Traffic berhasil mengeksplorasi secara mendalam mengenai akar dari “narkoba” yang kemudian meluas hingga permasalahan disfungsi keluarga, dilema dan ambigu moral, serta peperangan dalam menghadapinya. Dengan plot yang unik serta tata visual yang sangat bagus merupakan nilai tambahan yang menjadikan Traffic menjadi film yang luar biasa.

Secara garis besar, Traffic terbagi menjadi 3 storyline, yang pertama bercerita tentang good cop dari Meksiko, Javier Rodriguez (Benicio Del Toro) serta partnernya, Manolo Sanchez (Jacob Vargas). Mereka polisi jujur yang anti suap, dan suatu ketika mereka berhasil menggerebek peredaran narkoba di bawah kendali kartel berjuluk Scorpion. Prestasi gemilang Javier menarik hati Jendral Salazar (Tomás Milián) untuk mengajaknya dalam menumpas kartel Tijuana. 

Storyline berikutnya tentang hakim Robert Wakefield (Michael Douglas) yang berjuang keras dalam memerangi narkoba, tapi sayangnya putrinya sendiri justru seorang pecandu narkoba. Storyline ketiga menceritakan penangkapan dealer narkoba oleh anggota DEA yang menyamar, Montel Gordon (Don Cheadle) dan Ray Castro (Luis Guzmán) yang kemudian mengarahkan mereka pada distributor narkoba kelas kakap di Amerika.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, bahwa Steven Soderbergh banyak menampilkan sinematografi berupa warna mencolok dan berbeda di tiap storyline-nya. Pada storyline Meksiko, strobe look mampu memberikan kesan panas dan gersangnya daerah di Meksiko. Di sanalah terdapat sosok polisi jujur, bersih, dan anti suap, yaitu Javier dengan Manolo. Dua polisi bergaji rendah ini pun menyetujui ajakan Jendral Salazar untuk memerangi kartel Tijuana. Tapi siapa sangka, di balik itu semua, Jendral Salazar adalah bagian dari kartel Juárez, yang merupakan saingan dari kartel Tijuana. Pada part ini, Soderbergh dengan baik telah menampilkan keambiguan moral lewat karakter Jendral Salazar yang pada awalnya terlihat baik dengan menumpas kartel Tijuana, ternyata tidak lain merupakan bagian dari persaingan perdagangan narkoba. Dilema moral juga ditampilkan pula di sini, seperti karakter Helena Ayala (Catherine Zeta-Jones), seorang ibu rumah tangga yang tidak tahu menahu bisnis narkoba suaminya, terpaksa melakukan cara kotor untuk menyelamatkan suaminya agar lepas dari jerat hukum.

Saya suka bagaimana Soderbergh mengemas Traffic menjadi film yang mengangkat tema drugs dengan perspektif yang luas dengan melibatkan berbagai karakter seperti pecandu, polisi, DEA, hakim, dll. Dengan begitu, Traffic telah menghadirkan cakupan yang luas terkait peredaran narkoba yang biasanya hanya melibatkan perspektif sempit (kartel & polisi) di film lain dengan tema yang sama. Tidak hanya itu, dampak di berbagai aspek juga ditampilkan dengan baik di sini, seperti dilema dan keambiguan moral yang sudah saya jelaskan di atas, serta disfungsi keluarga yang menyebabkan Caroline Wakefield (Erika Christensen) menjadi seorang pecandu, padahal ayahnya, Robert Wakefield, adalah hakim yang dengan tegas berusaha keras untuk memerangi narkoba. Dengan beberapa aspek pendukung di atas, telah menjadikan Traffic berbeda dengan film perang antar kartel yang sudah jamak ada. Meskipun Traffic menyinggung tentang persaingan antar kartel, tapi action sequence di sini justru diminimalisir dan lebih banyak mengangkat unsur dramanya. 
  
Sepertinya, Traffic ini dibuat untuk menyadarkan masyarakat secara luas akan bahaya latennya serta peredarannya yang begitu ‘menyeramkan’, sehingga patutlah untuk diperangi. Peredaran narkoba sendiri sudah memasuki semua lini masyarakat. Dibutuhkanlah mereka-mereka yang berani, jujur, dan bersih untuk bisa memberantasnya, contohnya adalah Javier Rodriguez yang meskipun ia adalah bagian terkecil dalam peperangan ini. Tapi nyatanya, pemberantasan narkoba sendiri begitu sulitnya. Faktor-faktor yang menjadi salah satu alasannya tidak lain adalah keterlibatan orang-orang berpengaruh di dalamnya, contohnya saja Jendral Salazar yang bisa disebut sebagai ‘pelindung’ bagi tumbuh suburnya industri haram tersebut. Tidak jarang juga, informasi yang didapat untuk menjatuhkan sebuah kartel juga berasal dari kartel lain yang menjadi saingannya, dalam hal ini adalah DEA yang mengeruk informasi dari kartel Juarez untuk menghancurkan kartel Tijuana. Dengan kata lain, mendapat bantuan dari musuh untuk mengalahkan musuh yang lain. Lagi-lagi, ambigu moral kah ?.      

Selain kekuatan cerita, faktor lain yang bisa disebut juga sebagai keunikan dari Traffic tentunya adalah pembangunan plotnya yang non-linier dengan tiga storyline yang berbeda dan dituturkan secara berlompatan, tapi mudah untuk diikuti jalan ceritanya. Ketiga storyline tersebut tetap memiliki satu benang merah yang saling menghubungkan cerita yang satu dengan yang lainnya. Tidak habis di situ, kejeniusan Soderbergh di sini juga terlihat dalam pemilihan look untuk setiap storyline yang berbeda, strobe di Meksiko storyline, monochrome blue di Wakefield storyline, dan warmer di Ayala storyline. Dengan perbedaan look di tiap storyline tersebut, akan menciptakan gambaran yang kontras untuk lebih memahami alur ceritanya, apalagi dengan jumlah karakternya yang cukup banyak berpotensi membuat ‘tersesat’ dalam alur ceritanya.

Traffic adalah drama crime yang kuat lewat pembangunan cerita dan karakternya. Tema “narkoba” yang diangkat bukan sekedar tempelan semata, melainkan berhasil dieksplore dengan baik sehingga sangat luas cakupannya dengan berbagai perspektif. Soderbergh telah menunjukkan style dalam penyutradaraannya yang begitu berciri khas dan brillian. Traffic adalah salah satu film crime terbaik yang pernah saya tonton dan mampu disejajarkan dengan L.A. Confidential (1997) atau The Killing (1956) sekalipun.
ATAU
9 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !