Rabu, 10 Juni 2015

CITY OF GOD [2002]

**FILM SUPER**

Terkadang, menampilkan adegan kekerasan dengan tingkat ultra violence, cukup efektif untuk memaparkan kebutuhan cerita dalam sebuah film. Sebut saja film-film Quentin Tarantino yang tidak pernah lepas dari adegan kekerasan yang mengumbar percikan darah di mana-mana. Hal itu tidak lantas membuatnya menjadi kekerasan yang kosong tanpa arti. Justru dari situlah Tarantino bercerita melalui kekerasan yang ditampilkan dengan begitu elegan. Pun begitu dengan film dari Brazil ini, ultra violence yang memenuhi sepanjang durasinya berlangsung, menjadi cara bertutur yang lebih dari sekedar dialog biasa.

Bersettingkan sebuah kota bernama Cidade de Deus/Kota Tuhan yang penuh dengan tindak kriminal yang tinggi. Tersebutlah gang amatiran yang menyebut diri mereka Tender Trio, terdiri dari Cabeleira, Alicate, dan Marreco. Dalam sebuah insiden yang diotaki oleh Zé Pequeno, mereka bertiga harus berurusan dengan polisi serta membuat gang tersebut bercerai berai. Zé Pequeno dewasa (Leandro Firmino) kemudian menggantikan posisi Tender Trio sebagai pemimpin dari Kota Tuhan bersama Bené (Phelippe Haagensen), adik dari Cabeleira yang sebelumnya tewas ditembak polisi.

Adik dari Marreco yang bermimpi menjadi seorang reporter, Buscapé (Alexandre Rodrigues) mencoba untuk membalaskan dendam pada Zé Pequeno yang telah membunuh kakaknya, tapi sayangnya ia tidak berani melakukannya. Buscapé berteman dengan salah satu penguasa Kota Tuhan yang juga menjadi saingan dalam bisnis narkoba dengan Zé Pequeno, dia adalah Sandro Cenoura (Matheus Nachtergaele). Zé Pequeno sangat berambisi untuk menguasai Kota Tuhan dan menghancurkan bisnis Cenoura. Perang antar 2 kubu ini tidak terelakkan. Buscapé kemudian memanfaatkan momen tersebut sebagai jalan untuk meniti karirnya di bidang jurnalistik.
Kota Tuhan digambarkan sebagai kota yang kumuh dan sangat padat penduduk. Para gangster menguasai kota tersebut dengan bebas berjualan obat-obatan terlarang. Perampokan oleh para gangster pun sudah menjadi hal yang lumrah. Tender Trio hanyalah bagian kecil dari gang yang menguasai kota tersebut. Karena sepeninggal mereka, muncul pula gang-gang baru yang menjadi penguasa dari Kota Tuhan. Salah satunya yang terkuat adalah Zé Pequeno, yang begitu berambisi menguasai Kota Tuhan berikut bisnis narkoba yang ia jalankan. Satu persatu gang yang menjadi penguasa di Kota Tuhan berhasil ia bumi hanguskan, hingga menyisakan satu gang yang kelak menjadi musuh bebuyutannya.

City of God bercerita mengenai siklus kejahatan berwujud gangster yang tiada hentinya muncul. Terus berputar bagaikan sebuah roda. Jika satu gang saja berakhir, maka gang-gang yang lain akan tetap terus bermunculan. Pihak berwajib pun sudah bukan lawan tandingnya. Bahkan, beberapa oknumnya saja juga mengais rejeki dari para gangster tersebut. Wajar saja jika melihat latar belakang dari warga Kota Tuhan yang notabene bukan orang-orang dari golongan berada, pendidikan mereka pun juga bisa dikatakan tidak tinggi. Faktor-faktor tersebut kuat dugaan yang menjadikan anak-anak di Kota Tuhan begitu leluasanya dalam akses penggunaan senjata api dan terbiasa dengan kekerasan yang dibentuk oleh lingkungan yang keras itu.     

City of God diadaptasi dari kisah nyata yang benar-benar terjadi di Brazil. Beberapa foto asli para gangster dan juga footage-nya ditampilkan pula pada closing credit, yang semakin menegaskan bahwa peperangan besar antar gang ini memang nyata terjadi. City of God diceritakan melalui sudut pandang Buscapé, yang kita lihat mungkin segelintir dari ‘orang lurus’ di Kota Tuhan. Pada kenyataannya memang Buscapé sering ditampilkan mengkonsumsi ganja, tapi setidaknya ia memiliki pandangan yang berbeda dengan anak-anak seumurannya yang lebih memilih menjadi anggota gang. Buscapé memiliki impian yang jelas di masa depan, dan itulah yang menjadikannya berbeda dengan lainnya. Ada juga momen-momen lucu dari keputusasaan Buscapé yang membuatnya ingin merampok bus, hanya saja ia urungkan karena tidak tega dengan si kondektur yang baik hati. Berkali-kali Buscapé mencoba merampok dengan berbagai cara, tapi semua kembali dengan tangan hampa karena perasaaan ibanya. Jika dilihat-lihat lagi, ia memang sangat tidak cocok menjadi seorang perampok.   

Adegan kekerasan tingkat ultra violence yang tersaji di City of God ini bagi saya bukanlah sekedar omong kosong tidak berotak. Memang, dengan mudahnya seseorang menembak orang lain hingga mati ditampilkan begitu nyata di sini. Akting para cast-nya yang natural pun juga semakin menambah yakin. Tapi, semua adegan kekerasan tersebut ditampilkan begitu apiknya sebagai cara pengungkapan unsur kekerasan yang tidak bisa dijelaskan lewat sebuah kata dalam dialog saja. Sangat efektif sekali. Biadab, tapi juga indah. Sebagai penyeimbang, tidak lupa diselipkan pula unsur komedi meski dengan dosis yang tidak banyak. 

City of God tidak berakhir dengan cerita di mana para gangster berhasil ditumpas dan kedamaian tercipta. Tidak, tidak seperti itu. Apa yang terjadi di City of God merupakan sebuah realita, di mana kejahatan dengan wujud gangster akan tetap terus ada dan muncul di tiap generasinya. Mereka tidak akan pernah berakhir, karena mereka sendiri merupakan bagian dari sebuah perputaran yang tiada hentinya. Kebencian dan dendam yang ditimbulkan oleh pihak lain akan tetap terus tumbuh dan menjalar, sehingga lahirlah para gangster-gangster baru berikut para pemimpinnya yang berlomba-lomba mengisi posisi tertinggi di sebuah tatanan.         

ATAU
9,5 / 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO KITA DISKUSIKAN !